BMKG Ingatkan Tidak Ada Awan Hujan, Ribuan Ha Lahan Masih Terbakar
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan ancaman peningkatan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia. Akibat berkurangnya tutupan awan dan terbatasnya curah hujan di sejumlah wilayah di Indonesia.
Disebutkan, kondisi ini akibat fenomena iklim El Nino yang sangat kuat dan indeks Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Peta Fine Fuel Moisture Code yang dirilis BMKG juga menunjukkan, hampir seluruh wilayah di Indonesia ditutupi indeks warna Merah yang menunjukkan tingkat kemudahan terbakar di lapisan atas permukaan tanah Sangat Tinggi. Peta ini dirilis BMKG pada hari ini, Rabu (21/10/2026) dan berlaku untuk besok, Kamis (22/10/2026).
Citra Satelit Himawari-9 IR Enhanced yang dirilis BMKG hari ini menunjukkan suhu puncak awan yang didapat dari pengamatan radiasi pada panjang gelombang 10.4 mikrometer yang kemudian diklasifikasi dengan pewarnaan tertentu. Tampak warna hitam atau biru yang berarti tidak terdapat pembentukan awan yang banyak (cerah). Semakin dingin suhu puncak awan, ditunjukkan warna mendekati jingga hingga merah, artinya ada pertumbuhan awan yang signifikan dan berpotensi terbentuknya awan Cumulonimbus.
Ribuan Hektare Lahan Terbakar Belum Dapat Dipadamkan
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sendiri mencatat, per hari ini ada 1.006 kali kejadian karhutla yang melanda wilayah di Indonesia.
Tercatat per hari Selasa (20/10/2026), ada 983,34 hektare (ha) lahan yang jadi target penanganan pemadaman karhutla. Dari angka itu, karhutla di 502,08 ha sudah dipadamkan, dan masih ada 481,26 ha belum padam. Data ini adalah mencakup total enam provinsi prioritas penanganan karhutla tahun 2026. Yaitu di Kalimantan Tengah, Sumatra Selatan, Jambi, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Riau (penyebutan berdasarkan urutan paling luas).
Sementara, kejadian karhutla di luar enam provinsi tersebut per 20 Oktober 2026 tercatat sekitar 1.044,08 ha. Di mana, luasan yang sudah dapat dipadamkan baru sekitar 44,08 ha.
Sebaran Hotspot Menurut Sipongi
Di saat bersamaan, BNPB mengacu pantauan Sipongi mencatat, per hari ini pukul 17.43 WIB, ada 6.563 titik panas (hotspot), dengan luas lahan terbakar dalam 24 jam terakhir mencapai 1.024,33 ha.
Disebutkan, di enam provinsi, kebakaran di 723,25 ha lahan sudah dipadamkan. Data ini adalah akumulasi enam provinsi. Tercatat, wilayah paling banyak terbakar ada di Kalimantan Tengah (44%), disusul Sumatra Selatan dengan porsi 39%.
Lalu bagaimana kualitas udara hari ini?
BNPB mencatat kualitas udara di Riau hari ini kategori Tidak Sehat dengan jarak pandang hanya 5 km.
Sementara, kualitas udara di Jambi, Sumatra Selatan, dan Kalimantan Barat hari masuk kategori Sangat Tidak Sehat. Dengan jarak pandang berkisar 0,1-8 km.
Dan, kualitas udara di Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan masuk kategori Berbahaya. Dengan jarak pandang 0,2-0,7 km di Kalimantan Tengah dan tak sampai 5 km di Kalimantan Selatan.
Untuk mengetahui update Indeks Standar Pencemar Udara di Indonesia dapat dipantau di situs ISPU Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH.
Update hari ini pukul 17.56 WIB, tampak pada peta di situs tersebut sebaran titik-titik hitam tersebar di Kalimantan, Jambi, dan Sumatra Selatan, menunjukkan kualitas udara Berbahaya dengan indeks ISPU melampaui 300.
Pemanfaatan Dry Ice Akibat Awan Hujan Minim
Di sisi lain, di tengah masih minimnya pembentukan awan hujan, BMKG bersama seluruh unsur terkait seperti TNI, BNPB, Kemenhut, Kemenhan, dan BRIN mengimplementasikan penyemaian dry ice atau es kering melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
BMKG menjelaskan, metode ini membantu mengurai kabut asap pekat akibat karhutla di wilayah Sumatra dan Kalimantan. Teknik ini menargetkan lapisan inversi atmosfer yang menahan asap di dekat permukaan, terutama ketika awan potensial untuk penyemaian hujan terbatas.
"Penyemaian dry ice menjadi salah satu langkah taktis untuk mengatasi kondisi atmosfer yang menghambat penyebaran asap. Dalam kondisi tertentu, asap karhutla yang sangat pekat terjebak di lapisan atmosfer dekat permukaan hingga ketinggian 6.000-7.000 kaki, bahkan bisa lebih tinggi," kata Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani dalam keterangan resmi, dikutip Rabu (21/10/2026).
Namun ditegaskan, OMC melalui penyemaian dry ice merupakan bagian dari rangkaian penanganan karhutla, bukan satu-satunya solusi untuk mengatasi kebakaran maupun kabut asap.
"Upaya ini perlu berjalan beriringan dengan pemadaman di darat, patroli, penegakan hukum, serta keterlibatan masyarakat dan organisasi nonpemerintah dalam mencegah dan memadamkan kebakaran," ujar Teuku Faisal.
(dce/dce)