Dari Mercusuar Willem's Toren III, Bustami Buka Jendela Dunia

Teti Purwanti, CNBC Indonesia
Rabu, 21/10/2026 15:12 WIB
Foto: Mercusuar Willem's Toren III

Jakarta, CNBC Indonesia - Mercusuar Willem's Toren III di Pulau Breueh, Aceh, disebut sebagai salah satu dari tiga bangunan sejenis yang dibangun pemerintah kolonial Belanda di berbagai belahan dunia. Dua lainnya berada di Belanda, yang kini difungsikan sebagai museum, dan Kepulauan Karibia.

Menara itu tidak dibangun untuk orang-orang pulau. Tetapi dibangun untuk kapal-kapal yang melintas menuju Selat Malaka, salah satu jalur dagang terpenting di Asia, sekaligus untuk mengawasi laut yang ingin dikuasai sebuah kerajaan di seberang benua.

Adalah Bustami (49), seorang pria yang tumbuh bersama sorot dari mercusuar itu. Dari dermaga yang terpencil itu, suaranya kini bisa sampai ke mana saja. Ia kerap menelpon atau membuka TikTok, akun tempat ia mengabarkan harga ikan kepada siapa pun yang mau mendengar dan melihatnya untuk memasarkan kerapu, tongkol, tuna, dan yang paling dicari, gurita.


Sebelum ada handphone, penduduk Pulau Breueh bahkan hanya mengandalkan Radio Baiturrahman untuk mengetahui kabar keluarga dari seberang laut.

"Setiap jam 7 pagi, Radio Baiturrahman ada acara khusus yang memberi kabar siapa saja yang meninggal hari itu. Kami di gampong (kampung) mendengarkan siaran radio itu. Kalau ada tetangga kami atau kerabat yang kami kenal, kami akan mengabari yang lain untuk bersiap berziarah," tutur Misbah.

Misbah menuturkan kadang kabar terlambat diterima sehingga warga tidak bisa berangkat di hari yang sama karena perahu penumpang berangkat sekitar jam 08.000 pagi.

"Kami pun harus menunggu hari berikutnya untuk ke Banda (Aceh)," imbuhnya.

Untungnya perubahan datang dalam gelombang yang jauh lebih tenang. Operator swasta masuk pada 2012 dan sinyal mulai menguat, meski banyak sudut Pulo Aceh masih menjadi blank spot.

Pada 2019, pemerintah daerah mendorong perluasan jaringan secara besar-besaran. BAKTI Komdigi mendirikan menara pemancar (BTS) di Desa Alue Raya. Kini empat BTS berdiri di pulau itu, menara-menara baja yang tidak memancarkan cahaya tetapi menjangkau jauh lebih luas daripada sorot mercusuar mana pun.

Pada 2022, BAKTI membuka 24 titik akses internet di Pulo Aceh, tersebar di sekolah-sekolah hingga kantor pemerintahan. Menurut data Badan Pusat Statistik, kini seluruh desa di Kecamatan Pulo Aceh sudah terjangkau sinyal internet, meski kecepatannya berbeda-beda.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan semua desa di Kecamatan Pulo Aceh, termasuk di Pulau Breuh sudah bisa menjangkau sinyal internet meskipun dengan tingkat kecepatan yang berbeda.

Bagi Basri, nelayan berusia 50 tahun, perubahan itu terasa paling nyata di meja tawar-menawar.

"Dulu kami serahkan ikan saja ke toke (penjual/tengkulak) yang ada di laut. Harga kami terima saja. Sekarang bisa cek-cek harga di HP jadi bisa nawar lebih tinggi," ujar nelayan berusia 50 tahun tersebut.

Dulu ia menerima saja harga dari toke. Sekarang ia memeriksa harga di telepon genggamnya sebelum menjual, sehingga ia bisa menawar lebih tinggi. Gurita, tangkapan paling berharga, bisa laku hingga Rp 90.000 per kilogram. Sebelum berangkat, ia juga mengecek kondisi laut, dan di sela pekerjaannya ia bisa mengabari keluarga di rumah.

Buwaizhi, nelayan lainnya, menyebut sinyal itu sebagai sumber ketenangan.

"Jaringan internet sangat membantu. Di tempat kami mencari ikan, masih ada internet jadi kalau kami mogok mesin atau musibah di laut bisa minta bantuan dari darat,"ujarnya.

Di perairan tempatnya mencari ikan, jaringan masih menjangkau. Jika mesin mogok atau terjadi musibah, ia kini bisa meminta pertolongan ke darat, kepada kawan, kerabat, atau petugas dermaga. Laut yang dulu menelan nelayan hingga Andaman kini punya benang yang terhubung ke daratan.











(rah/rah)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Dari Breueh, Konektivitas Merajut Asa Ekonomi Baru