Eks Menkeu RI Ungkap Praktik Transfer Pricing-Under Pricing di Tambang

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Rabu, 21/10/2026 14:40 WIB
Foto: Komisaris Utama Mind ID, Fuad Bawazir

Jakarta, CNBC Indonesia - Mantan Menteri Keuangan RI periode 1998 Fuad Bawazier membeberkan maraknya praktik kejahatan transaksi keuangan seperti transfer pricing hingga under invoicing di sektor pertambangan dalam negeri. Praktik manipulasi harga dan volume ekspor yang terjadi dinilai memicu kebocoran devisa serta merugikan penerimaan negara.

Fuad Bawazier mengungkapkan modus kecurangan dalam tata kelola tambang terjadi akibat besarnya dorongan pelaku usaha untuk menguasai komoditas secara penuh tanpa pengawasan ketat. Para pelaku bisnis kerap merekayasa nilai transaksi dengan mengecilkan volume ekspor serta memanipulasi harga komoditas demi menghindari kewajiban pajak dan devisa.

"Ini karena mereka mau menguasai benar, akibatnya kecurangan semua cara dilakukan dan tidak bisa-bisanya kecurangan itu. Transfer pricing, under invoicing, wah segala macam. Volume jadi dikecilin, ya kan? Harganya dimainin, terus under invoicing dikecilin," ujar Fuad dalam Podcast Cuap Cuap Cuan CNBC Indonesia, dikutip Rabu (21/10/2026).


Manipulasi transaksi keuangan tersebut diperparah oleh kebocoran devisa hasil ekspor yang dialihkan dan disimpan di luar negeri. Selain manipulasi dokumen ekspor, sektor pertambangan nasional juga terjadi aktivitas penambangan tanpa izin yang diperkirakan mencapai 25.000 titik lokasi di berbagai wilayah Tanah Air.

"Terus mereka udah enggak pakai izin, yang ilegal ribuan. Konon kabarnya 25.000-an atau berapa yang ilegal-ilegal begitu. Tambang itu. Gua emas diambilin kiloanlah saban saban saban hari ada yang bilang sekian puluh kilo, ada yang bilang 300 kilo," bebernya.

Dengan begitu, dia mendorong penegakan hukum secara tegas dan konsisten untuk menghentikan seluruh praktik kejahatan ekonomi di sektor sumber daya alam tersebut. Pengubahan tata kelola pertambangan ke skema penguasaan negara dipandang sebagai langkah krusial agar devisa hasil ekspor komoditas sepenuhnya dapat ditampung di dalam negeri.

"Kalau ini sudah dilakukan dengan benar, makmur kita, subur, devisanya banyak kita. Enggak devisa yang sekarang kita ekspor ditinggalin kanan kiri enggak enggak karuan kan?" tandasnya.


(pgr/pgr)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Houthi Serang Kamp Militer Yaman, 58 Tewas & 200 Luka-luka