Tiba-Tiba Pesanan Kapal Tongkang dan Tugboat di RI Lagi Turun Drastis

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Selasa, 20/10/2026 21:50 WIB
Foto: Kapal tongkang Batu Bara (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri galangan kapal nasional menghadapi perubahan permintaan seiring melemahnya sektor pertambangan. Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Sarana Lepas Pantai Indonesia (Iperindo) mengungkapkan, permintaan kapal untuk kebutuhan pertambangan turun hingga 60%, sehingga pelaku industri mulai mengalihkan produksi untuk memenuhi kebutuhan angkutan bahan bakar minyak (BBM).

Ketua Umum Iperindo Anita Puji Utami mengatakan, penurunan permintaan kapal untuk sektor tambang terjadi dari tahun lalu hingga tahun ini. Kondisi tersebut mendorong industri galangan menyesuaikan produksi dengan kebutuhan pasar yang berkembang.

"Kalau untuk tambang turunnya sampai 60% saat ini. Di tahun lalu sampai tahun ini turun sampai 60% tambang. Sekarang beralih ke transportasi logistik, BBM, bahan bakar," kata Anita saat ditemui di Kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Jakarta, Selasa (20/10/2026).


Menurut Anita, perubahan permintaan tersebut juga terlihat dari jenis kapal yang kini banyak dibangun oleh galangan kapal nasional. Jika sebelumnya produksi didominasi kapal untuk mendukung kegiatan pertambangan, seperti tongkang dan kapal tunda (tugboat), kini kebutuhan kapal untuk mengangkut BBM semakin meningkat.

"Kalau tahun yang lalu adalah jenis tongkang dan tugboat. Tapi sekarang ini karena kebutuhan dari bahan bakar ya, lebih banyak didominasi seperti tanker, mini tanker, SPOB (Self-Propelled Oil Barge). Sekarang lebih banyak ke sana. Jadi menyesuaikan dengan kondisi pasar," ujarnya.

Perubahan ini membuat pelaku industri perkapalan harus menyesuaikan strategi bisnis agar tetap dapat memanfaatkan kapasitas galangan yang tersedia. Kebutuhan kapal tanker dan kapal pengangkut BBM pun menjadi salah satu peluang di tengah melemahnya permintaan dari sektor tambang.

Anita menyebut, anggota Iperindo memiliki kapasitas pembangunan sekitar 1.200 kapal baru per tahun. Kapal-kapal tersebut dapat memenuhi kebutuhan berbagai pengguna, mulai dari pemerintah, BUMN, hingga perusahaan swasta.

Selain pembangunan kapal baru, industri galangan juga memiliki kapasitas untuk melakukan reparasi dan perawatan kapal. Kemampuan ini dinilai penting untuk mendukung operasional armada laut nasional, termasuk kapal yang digunakan dalam kegiatan logistik dan distribusi energi.

Di sisi lain, pemerintah tengah mendorong penguatan industri perkapalan nasional melalui peningkatan kapasitas produksi dan daya saing galangan kapal. Kementerian Perindustrian juga menyiapkan peta jalan industri perkapalan periode 2026-2030, dengan target galangan kapal di luar Pulau Jawa dan Batam mampu membangun kapal hingga 30.000 deadweight tonnage (DWT).

Sementara itu, kapasitas pembangunan kapal tanker ditargetkan mencapai 60.000 DWT. Pengembangan tersebut diharapkan dapat memperkuat kemampuan industri dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan armada nasional, termasuk kapal pengangkut BBM.


(wur)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Lawan Abrasi, Perlindungan Berbasis Alam Diuji Coba di Demak