Perluas Jangkauan di Pasar Global, LPEI Bawa Eksportir Mejeng di TEI

Teti Purwanti, CNBC Indonesia
Selasa, 20/10/2026 13:50 WIB
Foto: UMKM Binaan LPEI di Trade Expo Indonesia/Teti Purwanti

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia Eximbank/Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) terus memperkuat dukungan terhadap peningkatan daya saing produk Indonesia di pasar internasional. Komitmen tersebut diwujudkan melalui fasilitasi sejumlah pelaku usaha berorientasi ekspor binaan LPEI dalam ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2026, sebagai upaya memperluas akses pasar dan membuka peluang kemitraan bisnis dengan pembeli internasional.

Salah satunya ada Sila Indonesia Artisan Tea yang didirikan sejak 2018, Founder Sila Indonesia Artisan Tea sekaligus Business Director PT Sila Agri Inovasi, Redha T. Ardias, mengatakan meski belum berusia 10 tahun, Sila telah menjangkau sejumlah pasar, antara lain Kanada, Turki, Abu Dhabi, Austria, Jepang, dan Singapura. Namun, pengiriman masih dilakukan dalam volume relatif kecil, belum mencapai skala kontainer, sehingga diharapkan bisa terus meningkat.

"Kami tentu bersyukur dan berterima kasih pada LPEI yang sudah memberikan kesempatan untuk hadir di TEI. Kami berharap bisa terus menjajaki peluang teh Indonesia lebih dikenal di luar negeri," ungkap, dia dikutip Jumat (16/10/2026).


Saat ini, Sila bekerja sama dengan sekitar 25 kebun teh dan mengembangkan sekitar 80 jenis herbal kering. Adapun di TEI Sila Artisan Tea berharap bisa membuka peluang kerja sama dengan beragam calon pembeli dari luar negeri seperti Australia, Hong Kong, dan Malaysia.

Di sisi lain, Sila juga telah memiliki nota kesepahaman (MoU) dengan mitra di Malaysia dan Jepang. Namun Redha berharap bisa terus memperluas pangsa pasarnya apalagi untuk negara-negara yang sudah memiliki budaya minum teh.

Namun dia tidak menaikkan, bahwa untuk perluasan pasar ada tantangan yang harus dihadapi. Menurutnya, perluasan pasar ekspor perlu diimbangi kesiapan kapasitas produksi dan modal kerja. Transaksi dalam jumlah besar dapat menjadi tantangan bagi UMKM ketika harus memenuhi pesanan sebelum memperoleh pembayaran dari pembeli.

"Kalau UMKM dapat transaksi besar, pasti butuh modal. Kita minta DP ke buyer, kadang buyernya belum tentu mau kasih. Maka butuh pihak ketiga yang bisa akomodir itu," ujarnya.

 


Oleh karena itu, ke depan Sila Artisan Tea juga berharap bisa mendapatkan kepercayaan untuk mendapatkan untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Apalagi menurutnya saat produksi meningkat, pertumbuhan bisnis baik, berarti nilai tambah pula pada petani. Untuk diketahui, Sila Artisan Tea bermitra dengan petani di Jawa dan Sumatera.

Bukan cuma Sila Artisan Tea, Bunga Palm (Global Coco Sugar) sebagai produsen gula kelapa di Indonesia juga tengah membidik perluasan pasar. Apalagi, gula kelapa sebagai produk organik lebih dikenal di luar negeri. Export Manager Global Coco Sugar, Muhammad Arsyi Kurniawan, mengatakan pasar produk organik, termasuk gula kelapa lebih mendapat apresiasi di luar negeri.

"Produk kami lebih diapresiasi di luar negeri, seperti Amerika Serikat (AS), Kan ada, Meksiko, dan beberapa negara Eropa seperti Bulgaria, Jerman, Belanda, dan Yunani. Kami memang lebih fokus untuk pasar luar negeri, apalagi Eropa dan Amerika karena di sana cukup peduli pada organic food," tegas dia.

Meski memiliki pangsa pasar yang sudah cukup besar, menurutnya LPEI juga memberikan banyak dukungan. Apalagi menurutnya, dalam bisnis selalu ada pelajaran baru dan LPEI memberikan dukungan penuh dalam hal pengetahuan, apalagi bagi perusahaan yang berorientasi ekspor.

"Dengan ada-ada bantuan dari LPEI, itu mempermudah kita agar bisa menangkap peluang dari pasar luar negeri yang butuh waktu cepat. Selain itu, dengan pendanaan yang kami terima juga membantu segi kualitas dan kuantitas yang harus dipenuhi. Apalagi pendanaan yang kami terima juga kompetitif," tegas dia.

Adapun dana yang diterima Global Coco Sugar digunakan untuk membiayai petani. Menurutnya petani binaan Global Coco Sugar di Purbalingga maunya pembayaran tunai. Sementara dari pembeli pembayaran dilakukan secara tempo.

"Jadi pembiayaan ini bisa menjaga cash flow, dan juga petani bisa mendapatkan hasil yang cepat, uang kita akan diputarkan langsung ke para petani seperti itu," rinci dia

 


Untuk diketahui, Bunga Palm merupakan produsen gula kelapa organik dan berbagai produk turunan kelapa yang berbasis di Purbalingga, Jawa Tengah. Perusahaan telah mengembangkan usahanya sejak awal 2000-an dan didukung oleh jaringan lebih dari 18.000 petani. Melalui fasilitas produksi berstandar internasional, perusahaan berupaya meningkatkan nilai tambah produk kelapa Indonesia.

Sementara itu, Corporate Secretary LPEI, Dyza Rochadi, menyampaikan bahwa keikutsertaan para eksportir binaan dalam TEI 2026 merupakan bagian dari komitmen LPEI untuk meningkatkan daya saing produk nasional sekaligus mendorong pelaku usaha memanfaatkan peluang perdagangan internasional.

"Sebagai Export Credit Agency (ECA) dan Eximbank Indonesia, LPEI menyediakan berbagai solusi pembiayaan, penjaminan, asuransi ekspor, serta layanan pengembangan kapasitas usaha. Melalui TEI 2026, pelaku usaha dapat berkonsultasi langsung mengenai kebutuhan ekspornya, termasuk aspek kepabeanan dan layanan ekspor bersama petugas Bea Cukai dan LNSW," ujar Dyza dalam keterangan resmi, Jumat (16/10/2026).

Partisipasi ini merupakan kolaborasi LPEI dengan Bea Cukai dan LNSW serta menjadi bagian dari upaya LPEI dalam mendukung pengembangan kapasitas dan akses pasar pelaku usaha nasional, khususnya melalui promosi produk unggulan Indonesia yang memiliki potensi ekspor.

 


(rah/rah)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Pemerintah Bidik Transaksi 17,5 M Dolar AS Dalam TEI