MARKET DATA

RI Butuh Rp13.000 T, BKPM Ajak Investor China Gandeng Pengusaha Lokal

Arrijal Rachman,  CNBC Indonesia
20 October 2026 08:58
Staf Khusus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Noor Sona Maesana Mushonnif
Foto: (dok. BKPM)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah Indonesia mengundang investor China untuk menanamkan modalnya di Indonesia melalui skema kemitraan dengan pengusaha lokal. Tujuannya untuk percepatan transformasi ekonomi, hilirisasi, serta peningkatan kapasitas pengusaha nasional.

Dalam forum Global South Dialogue: China-Indonesia Roundtable Forum, Staf Khusus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Bidang Percepatan Hilirisasi dan Peningkatan Pengusaha Nasional, Noor Sona Maesana Mushonnif mengatakan, arah pembangunan Indonesia menuju Indonesia Emas 2045 membutuhkan percepatan transformasi ekonomi dan penguatan fondasi pertumbuhan jangka panjang, karenanya skema kemitraan tengah didorong.

"Kerja sama ini perlu diarahkan tidak hanya untuk meningkatkan nilai investasi, tetapi juga menciptakan nilai tambah di dalam negeri, memperkuat industri nasional, dan membuka lebih banyak kesempatan bagi pengusaha Indonesia untuk tumbuh bersama," kata Sona melalui siaran pers, Selasa (20/10/2026).

Apalagi, dalam materi perencanaan investasi periode 2025-2029, kebutuhan investasi Indonesia mencapai sekitar Rp13.000 triliun untuk mendukung sasaran pertumbuhan ekonomi 8% pada 2029. Kebutuhan ini kata dia membuka ruang yang luas bagi kemitraan antara investor internasional dan pengusaha nasional.

Sona mengakui, hubungan ekonomi Indonesia dan China telah berkembang melalui kerja sama di berbagai sektor, termasuk pengolahan mineral, rantai pasok baterai kendaraan listrik, dan manufaktur. Nilai investasi kumulatif Tiongkok di Indonesia pada periode 2021-2025 tercatat mencapai sekitar US$34,44 miliar atau setara Rp 621,36 triliun (kurs Rp18.042/US$).

Dengan catatan itu, ia menganggap kerja sama kedua negara masih memiliki potensi untuk diperluas ke sektor energi terbarukan, ekonomi digital, kesehatan, ketahanan pangan, serta hilirisasi perkebunan, perikanan, dan kelautan. Pengembangan sektor-sektor itu perlu disertai upaya memperkuat keterlibatan pelaku usaha nasional dalam rantai pasok industri.

"Saya ingin menekankan pentingnya membuka akses bagi pengusaha nasional dan UMKM untuk menjadi pemasok industri. Peluang tersebut dapat dimulai dari kebutuhan barang, jasa pemeliharaan, logistik, hingga komponen produksi. Perusahaan besar perlu menjelaskan standar yang dibutuhkan, sementara pemasok lokal perlu didampingi agar mampu memenuhinya," tegasnya.

Menurut Sona, kemitraan industri yang berkelanjutan membutuhkan hubungan bisnis yang jelas, peningkatan kualitas pemasok lokal, serta pengembangan keterampilan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan industri. Dengan demikian, investasi tidak hanya menghadirkan modal dan teknologi, tetapi juga membantu memperkuat kemampuan industri dan pelaku usaha nasional.

Ia juga menekankan penguatan hubungan Indonesia dan China perlu dibangun di atas prinsip kesetaraan, saling menghormati, dan manfaat bersama. Kolaborasi kedua negara diharapkan tidak berhenti pada realisasi investasi, tetapi berkembang menjadi kemitraan jangka panjang yang mendukung pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

"Hubungan Indonesia dan Tiongkok memiliki ruang besar untuk terus diperkuat. Dengan menghubungkan investasi, teknologi, kebutuhan industri, dan kapasitas pengusaha nasional, kita ingin memastikan bahwa kemitraan ini memberikan manfaat nyata bagi kedua negara sekaligus mendukung transformasi ekonomi Indonesia," ujar Sona

(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Wamenko Ungkap PR Investasi RI: Link UMKM-Korporasi Besar Belum Kuat


Most Popular
Features