Wamentan Bongkar Alasan Harga Beras Masih Mahal Meski RI Swasembada

Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
Senin, 19/10/2026 17:11 WIB
Foto: Letjen TNI Saleh Mustafa saat dilantik Presiden Prabowo Subianto sebagai Wakil Menteri Pertanian di Istana Negara, Jakarta, Kamis (1/10/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Muhammad Saleh Mustafa mengungkapkan alasan harga beras masih cukup tinggi meski Indonesia telah mencapai swasembada beras.

Saleh mengatakan masih tingginya harga beras terjadi karena adanya peran swasta yang sengaja memainkan harga jual agar bisa bersaing dan terkadang bisa mengacaukan harga produk.

"Jadi memang persoalannya penjualan harga eceran tertinggi maupun harga pasokan, acuan pembeli, ini memang sudah ditentukan. Tetapi ini kita sekali lagi terbuka aja ya, di Indonesia, itu ternyata itu tidak bisa serta-merta diberlakukan terhadap produsen, petani, maupun kepada pembeli, konsumen. Ini yang berperan yang digunakan oleh pihak-pihak swasta untuk menyerap dan menjadi pesaingnya Bulog dengan harga yang kadang-kadang mengacaukan harga," kata Saleh dalam Agri Food Forum 2026, Senin (19/10/2026).


Selain itu, menurutnya, adanya perbedaan harga beras terjadi karena adanya permainan penjualan, terutama dari pihak-pihak swasta. Selain itu, harga beras juga ditentukan dari jenisnya.

Pantauan harga beras di Pasar Rumput, Jakarta Selatan, Jumat (16/10/2026). (CNBC Indonesa/Martyasari RIzky) Foto: (CNBC Indonesa/Martyasari RIzky)

"Tetapi di pasaran mungkin ada yang bertanya, kok di pasaran ada yang mahal, ada yang murah? Inilah yang disebut dengan permainan marketing, agriculture marketing, jadi memang tidak hanya dari proses produksinya saja, tapi memang harus kita kawal sampai dengan di hilirnya itu bagaimana bisnis dari pangan ini bisa terbangun dengan baik dan sehat," terang Saleh.

Oleh karena itu, peranan Perum Bulog dalam menjaga harga beras agar lebih stabil cukup penting, terutama dalam menyerap produksi beras.

"Makanya disini peran Bulog sangat penting sekali untuk menjaga agar harga eceran tertinggi (HET) bisa dijaga dengan baik," ujarnya.

Selain itu, pemerintah juga akan memperkuat regulasi agar para produsen beras tidak memainkan harga secara semena-mena hingga dapat membuat gejolak harga di pasaran.

"Strategi kita yakni penguatan regulasi, nanti dilihat ada undang-undang tentang denda yang diberikan kepada pelaku-pelaku yang bermain dalam harga. Penguatan regulasi ini penting untuk melakukan dan mengawal dari sistem market atau jual beli pangan," ucapnya.


(chd/wur)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Kemarau Panjang Ancam Produksi & Harga Pangan, RI Wajib Waspada