Sempat Ragu, Trump Akhirnya Dukung Penuh Netanyahu Jelang Pemilu
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara mengejutkan memberikan dukungan penuh kepada petahana Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang tengah menghadapi persaingan ketat dalam pemilihan parlemen pada 27 Oktober mendatang.
Mengutip Al Jazeera, Senin (19/10/2026), melalui unggahannya di platform Truth Social pada hari Minggu, Trump memuji pemimpin Israel tersebut sebagai sekutu sejati AS dalam perangnya melawan Iran dan menegaskan bahwa ia memberikan dukungan yang lengkap serta total kepada Netanyahu.
"Bibi Netanyahu tidak akan pernah mengecewakan Anda!" ungkapnya.
Dukungan ini datang tepat sembilan hari sebelum pemilu Israel dan mematahkan spekulasi sebelumnya. Awal bulan ini, Trump sempat menolak untuk mendukung Netanyahu saat didesak secara berulang kali oleh majalah Time mengenai kinerja pemimpin Israel itu.
Saat itu, ia justru menghindari topik tersebut dan mengalihkan fokus pada popularitasnya sendiri atau masalah keamanan di Timur Tengah.
Meskipun ada banyak laporan mengenai memburuknya hubungan mereka, Trump mengklarifikasi kepada media Axios pada hari Minggu bahwa dukungannya kepada Netanyahu sebenarnya tidak pernah diragukan.
"Saya selalu berniat melakukannya, saya hanya tidak ingin melakukannya terlalu cepat," paparnya.
"Sangat penting bagi Israel untuk memiliki seseorang yang dapat diandalkan."
Namun, ketika Axios bertanya apakah ia bersedia dan bisa bekerja sama dengan pemimpin Israel lain selain Netanyahu, presiden AS itu memberikan jawaban yang sangat mengelak.
"Mungkin saya akan melakukannya, mungkin juga tidak. Siapa yang mau mengambil risiko?" kata Trump.
Kedua pemimpin ini tercatat telah bertemu lebih dari enam kali sejak Januari 2025, namun hubungan mereka kerap diwarnai konflik dan ketidaksepakatan terkait perang. Pada bulan Juni, Trump dilaporkan menyebut Netanyahu "sangat gila" melalui sambungan telepon karena merasa frustrasi dengan serangan Israel ke Lebanon.
Trump juga sempat meminta Netanyahu untuk tidak mengambil tindakan lebih lanjut di Lebanon dalam upayanya mempertahankan gencatan senjata singkat bulan April dengan Iran.
AS dan Israel sendiri telah melancarkan perang gabungan terhadap Iran sejak 28 Februari lalu. Namun, konflik tanpa ujung yang mengacaukan pasokan minyak dan gas global ini justru menggerus dukungan domestik bagi Trump.
Jajak pendapat Pew Research Center bulan ini menemukan bahwa sekitar 66% pemilih AS tidak menyetujui penanganan perang oleh Trump karena memicu lonjakan harga bahan bakar dan menguras persediaan militer negara. Situasi ini sangat krusial mengingat Partai Republik yang mengusung Trump akan menghadapi pemilu sela pada 3 November untuk menentukan kendali Kongres AS serta posisi kunci di negara bagian dan lokal.
Para ahli berspekulasi bahwa keengganan awal Trump untuk memberikan dukungan muncul dari persepsi publik AS bahwa Israel mungkin telah membujuk AS untuk masuk ke dalam pusaran perang tersebut. Di sisi lain, Partai Likud pimpinan Netanyahu beserta koalisi sayap kanannya juga terancam kalah telak dalam pemilu dari blok oposisi yang dipimpin oleh ketua partai Yashar, Gadi Eisenkot.
Dalam unggahannya di media sosial, Trump turut membela keputusan perangnya dengan berargumen bahwa serangan Iran ke AS dan Israel hanya masalah waktu. Ia mengeklaim perang tersebut telah berhasil membuat Iran hancur secara sistematis, baik secara militer maupun finansial.
"Dan kecuali mereka mengubah cara mereka, dengan cepat, kita akan segera menyelesaikan pekerjaan itu," tuturnya.
"Jika Israel memiliki pemimpin yang salah, yaitu siapapun selain Bibi, Amerika harus melakukan pekerjaan ini sendiri, dan saya tidak berniat melakukannya," tegas Trump.
"Bibi Netanyahu telah bersikap kuat, berani, dan brilian dalam menghadapi oposisi yang luar biasa, termasuk yang datang dari Israel sendiri."
Merespons dukungan besar tersebut, Netanyahu langsung mengunggah sebuah video di media sosial yang berisi ucapan terima kasih kepada sang presiden AS.
"Saya sangat merasa terhormat dan rendah hati atas dukungan Anda yang luar biasa," ucapnya.
"Belum pernah ada sahabat Israel yang lebih hebat di Gedung Putih. Itu adalah sebuah pernyataan yang meremehkan."
Netanyahu kemudian memuji Trump karena tidak pernah goyah oleh kritik internal terkait perang Iran. Ia juga secara khusus mengarahkan pesannya kepada para pemilih AS sebagai bentuk dukungan balik bagi Partai Republik di tengah kecemasan publik mengenai biaya hidup.
"Izinkan saya mengatakan kepada rakyat Amerika: Jika Anda khawatir dengan harga bensin saat ini, pikirkan apa yang akan terjadi jika Iran mendapatkan senjata nuklir, sesuatu yang tidak akan pernah diizinkan oleh Donald Trump dan saya," katanya.
"Ketika ancaman dari rezim tersebut menghilang, harga bensin akan turun drastis. Tetapi hanya di bawah kepemimpinan Trump. Hal itu tidak akan terjadi dengan mereka yang ingin mengakomodasi dan menenangkan para tiran ini," pungkas Netanyahu.
(luc/luc)