Pemerintah Klaim Warga RI Punya Duit Buat Belanja, Bagaimana Faktanya?
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah berulang kali mengklaim daya beli masyarakat Indonesia masih tinggi.
Terbaru, Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo mengatakan daya beli masyarakat yang terjaga bakal tercermin dari laba perusahaan di sektor konsumer.
Dia memproyeksikan laba perusahaan sektor konsumer akan naik hampir 6% pada kuartal III-2026. Meski demikian, Drajad tidak menyampaikan apakah kenaikan 6% itu terjadi bila dibandingkan secara tahunan atau bulanan.
"Kemarin di Badan Pusat Statistik kan saya mengatakan daya beli tidak melemah dan terbukti di kuartal ketiga ini diperkirakan pendapatan emiten konsumer itu diperkirakan akan naik hampir 6%," ujar Dradjad, dikutip Senin (19/10/2026).
Berdasarkan catatan CNBC Indonesia, kinerja keuangan dari delapan emiten barang konsumsi (consumer goods) memang mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih yang baik pada kuartal III-2025.
Misalnya, PT Unilever Indonesia Tbk memiliki pendapatan Rp9,4 triliun pada kuartal III-2025. Angka ini naik 12,4% secara tahunan.
Penjualan Motor Moncer
Data yang terpisah menunjukkan penjualan sepeda motor di Indonesia mulai mengalami penguatan menjelang akhir 2026.
Pada September 2026, distribusi motor dari pabrikan ke diler menembus 654.343 unit, menjadi capaian bulanan tertinggi sepanjang tahun ini.
Kinerja tersebut turut mendorong akumulasi penjualan domestik menembus 5 juta unit sepanjang Januari-September 2026.
Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), penjualan motor domestik pada September 2026 mencapai 654.343 unit, naik 9,7% dibandingkan Agustus yang sebanyak 596.461 unit. Secara volume, terdapat tambahan distribusi sebanyak 57.882 unit hanya dalam satu bulan.
Angka tersebut sekaligus melampaui capaian Juli 2026 yang sebelumnya menjadi rekor tertinggi tahun ini dengan penjualan 636.030 unit. Dengan demikian, September menjadi periode dengan distribusi motor terbesar sepanjang Januari-September 2026.
Penjualan Baju Belum Naik
Di sisi lain, toko pakaian di pusat perbelanjaan menghadapi tantangan ketika aktivitas pengunjung mal masih relatif ramai tetapi transaksi belum meningkat.
Situasi ini berkaitan dengan pola belanja masyarakat yang berubah selama periode musim sepi (low season) industri ritel pada paruh kedua 2026.
Produk fesyen menjadi salah satu kategori yang rentan menghadapi perlambatan karena pembeli tidak selalu memiliki kebutuhan mendesak untuk membeli pakaian baru.
Berbeda dengan kebutuhan sehari-hari, pembelian busana dapat ditunda ketika konsumen ingin membatasi pengeluaran.
Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) Alphonzus Widjaja mengatakan kondisi tersebut merupakan pola yang lazim terjadi dalam siklus bisnis ritel.
Setelah momentum belanja besar berlalu, permintaan terhadap sejumlah kategori barang cenderung melemah.
"Sebagaimana biasanya dalam periode low season, maka produk ataupun barang kategori busana, sandang, atau fesyen akan mengalami tekanan sehubungan tidak ada kebutuhan mendesak untuk hal tersebut," kata Alphonzus kepada CNBC Indonesia, Kamis (15/10/26).
Aktivitas Belanja Melambat
Secara keseluruhan, laporan Mandiri Spending Index hingga 13 September 2026 memperlihatkan bahwa aktivitas belanja masyarakat masih tumbuh, tetapi mulai menunjukkan perlambatan. Di saat yang sama, porsi pengeluaran untuk sejumlah kebutuhan juga mengalami perubahan.
Berdasarkan laporan Mandiri, indeks belanja masyarakat berada di level 123,5 pada pekan kedua September 2026, sedikit turun dari 123,6 pada pekan sebelumnya.
Secara mingguan, indeks belanja melemah 0,05%. Penurunan tersebut telah berlangsung selama empat pekan berturut-turut.
Meski demikian, belanja masyarakat sebenarnya masih mencatat pertumbuhan jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Pertumbuhan belanja pada pekan kedua September tercatat sebesar 6,3% secara tahunan (year-on-year/YoY), sedikit melambat dibandingkan pertumbuhan 6,4% pada pekan sebelumnya.
Jika dilihat sepanjang tahun, rata-rata pertumbuhan belanja pada kuartal ketiga 2026 hingga pekan kedua September mencapai 6,1%.
Angka tersebut sama dengan kuartal kedua 2026 yang juga sebesar 6,1%, tetapi lebih rendah dibandingkan kuartal pertama yang mencapai 6,4%.
Kendati sedikit melambat, pertumbuhan belanja pada kuartal ketiga tahun ini masih lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 5,4%.
(arj/arj)