MARKET DATA
Internasional

Malaysia Mulai Frustrasi, Kabut Asap Tak Kunjung Pergi

tfa,  CNBC Indonesia
16 October 2026 19:50
Kuala Lumpur's skyline shrouded in haze from regional wildfires, in Kuala Lumpur, Malaysia, October 9, 2026. REUTERS/Hasnoor Hussain
Foto: REUTERS/Hasnoor Hussain

Jakarta, CNBC Indonesia - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia memicu kemarahan di Malaysia. Selain menyebabkan sekolah ditutup dan aktivitas masyarakat terganggu, krisis polusi lintas batas ini mendorong desakan agar negara-negara Asia Tenggara mengambil sikap lebih tegas terhadap Indonesia.

"Kalian harus memperlakukan mereka sebagai pihak yang dikucilkan di kawasan ini," ujar anggota parlemen Malaysia, Syed Saddiq Syed Abdul Rahman, saat membahas kebakaran di Indonesia, seperti dikutip AFP, Jumat (16/10/2026).

Pernyataan keras Syed Saddiq mencerminkan meningkatnya frustrasi di Malaysia akibat kabut asap yang terus berulang. Anggota parlemen lainnya, Syerleena Abdul Rashid, juga menegaskan bahwa hubungan bertetangga harus disertai tanggung jawab.

"Mengapa rakyat Malaysia harus terus menanggung akibat dari tindakan tidak bertanggung jawab yang terjadi di luar perbatasan kita?" kata Syerleena.

Kemarahan tersebut tidak hanya muncul di kalangan politisi, tetapi juga dirasakan masyarakat yang terdampak langsung. Di kawasan wisata Batu Caves, misalnya, operator tur Diddy Hamidon mengeluhkan jarak pandang yang tertutup asap dan mendesak pemerintah Indonesia segera bertindak.

"Pemerintah Indonesia harus melakukan hal yang benar," ujarnya.

Di tengah tekanan tersebut, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan pemerintahnya telah berupaya berkomunikasi dengan Indonesia. Menteri Luar Negeri Mohamad Hasan mengatakan tawaran bantuan untuk memadamkan karhutla mulai mendapat respons setelah pejabat penanggulangan bencana kedua negara menggelar pembicaraan.

"Untuk pertama kalinya, otoritas dari kedua negara telah memulai pembicaraan mengenai bagaimana kita dapat bekerja sama untuk menangani kabut asap yang tampaknya semakin memburuk," kata Mohamad.

Urgensi penanganan semakin besar karena dampak karhutla Indonesia meluas ke negara-negara tetangga, termasuk Singapura, Filipina, dan Timor Leste. Di Malaysia, sejumlah sekolah ditutup, masker dibagikan, dan operasional sejumlah fasilitas olahraga dihentikan sementara. Sementara itu, Singapura dilaporkan mengalami lonjakan polusi udara hingga masuk daftar kota dengan kualitas udara terburuk di dunia dalam beberapa hari terakhir.

Meluasnya dampak tersebut mendorong Malaysia meminta ASEAN menggelar pertemuan darurat untuk membahas krisis kabut asap. Namun, James Chin, profesor studi Asia di University of Tasmania, menilai upaya menghasilkan tindakan konkret kemungkinan menghadapi kendala karena negara-negara anggota cenderung berhati-hati dalam menyikapi persoalan kedaulatan nasional.

"ASEAN sangat, sangat berhati-hati dalam hal apa yang mereka sebut sebagai kedaulatan domestik. Jadi, kecil kemungkinan mereka akan melakukan tindakan apapun," ujar Chin.

 

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Negara-Negara ASEAN Bakal Bahas Kabut Asap akibat Kebakaran Hutan RI


Most Popular
Features