Bahlil Dorong Industri Penyerap Produk Hilirisasi Nikel Dibangun di RI

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Jumat, 16/10/2026 17:10 WIB
Foto: (CNBC Indonesia/Firda Dwi Muliawati)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia mendorong pembangunan industri hilir di dalam negeri untuk menyerap bahan baku setengah jadi hasil olahan smelter nikel.

Wacana itu seiring dengan target pemerintah mendapatkan nilai tambah 100% di dalam negeri, sekaligus merespons kondisi kelebihan pasokan nikel di pasar global.

Bahlil yang juga menjabat sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan bahwa pemerintah sedang mengkaji pembatasan pembangunan baru fasilitas pemurnian dan pemrosesan (smelter) nikel yang hanya menghasilkan produk setengah jadi.


"Yang benar itu adalah pemerintah sedang mempertimbangkan untuk membuat satu kebijakan, sekarang kan hilirisasi itu kan yang kita inginkan adalah ending-nya nilai tambah 100% di sini. Tapi di industri sekarang smelter masih ada produk sasaran antara, 60%, 50%," ungkap Bahlil dalam konferensi pers di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (16/10/2026).

Dia menyebut, saat ini terjadi selisih pasokan (oversupply) sebesar 2,5 juta ton antara tingkat konsumsi dunia dan total produksi nikel global. Kondisi oversupply tersebut melatarbelakangi rencana pemerintah untuk menahan penambahan smelter baru yang hanya menghasilkan produk olahan setengah jadi.

"Nah, yang menghasilkan produk yang turunannya baru 50%-60% ini, ini mungkin setelah nanti kajian dulu ya, kalau memang kita ini sudah terjadi oversupply di nikel itu. Terjadi oversupply 2,5 juta antara konsumsi dunia dengan produksi," jelasnya.

Oleh karena itu, pihaknya akan mendorong pembangunan industri hilir yang memproduksi barang setengah jadi hasil smelter menjadi produk jadi. Dengan demikian, produk hasil olahan smelter nikel di dalam negeri tidak perlu lagi diekspor, melainkan bisa diserap di industri dalam negeri.

"Nah, ke depan kita akan dorong adalah industri-industri hilirnya supaya bahan baku setengah jadi ini tidak semuanya dibawa ke luar negeri. Itu yang dimaksudkan," tandasnya.

Produksi Nikel Hasil Hilirisasi

Forum Industri Nikel Indonesia (FINI) mencatat total produksi nikel olahan hasil hilirisasi di dalam negeri mencapai 2,5 juta ton pada 2025. Capaian produksi tersebut menjadikan Indonesia sebagai pemasok utama yang menguasai hingga 60% kebutuhan nikel dunia.

Ketua Umum FINI Arif Perdana Kusumah memaparkan bahwa total kapasitas produksi fasilitas pemurnian nikel nasional pada 2025 telah mencapai 2,7 juta ton Ni. Ia menyebut produksi tersebut berasal dari pengolahan jalur pirometalurgi dan hidrometalurgi yang beroperasi di dalam negeri.

"Pada tahun 2025 total produksi nikel nasional telah mencapai 2,5 juta ton nikel dalam bentuk produk intermediate (setengah jadi) yang terdiri dari 2,05 juta berupa produk-produk NPI, FeNi dan Matte, serta 450 ribu ton nikel dalam bentuk MHP - Nikel Sulfat," ujar Arif kepada CNBC Indonesia, Rabu (14/10/2026).

Pihaknya mengestimasi produksi nikel olahan Indonesia pada 2026 akan mengalami penurunan sebesar 3,5% hingga 4% dibanding capaian 2025. Meski begitu, volume produksi diproyeksikan kembali meningkat pada 2027 seiring bertambahnya kapasitas dari proyek-proyek baru.

"Pada tahun 2027 akan ditandai oleh penambahan kapasitas produksi dari proyek-proyek hidrometalurgi berbasis HPAL yang akan selesai tahap konstruksinya, dalam waktu dekat memasuki tahapan komisioning dan operasi penuh," paparnya.

Penambahan kapasitas dari proyek HPAL tersebut difokuskan pada pengolahan nikel bahan baku baterai kendaraan listrik. Kapasitas produksi MHP nasional yang sebesar 450 ribu ton pada 2025 diperkirakan meningkat melebihi 900 ribu ton nikel pada akhir 2027.

"Jumlah produksi sebesar itu telah menjadikan Indonesia sebagai pemasok nikel terbesar di dunia (~60%)," tandasnya.


(wia)
Saksikan video di bawah ini:

Tambang Wajib Pakai Jasa Lokal, Emiten Mana Paling Menderita?