Kebijakan HET Pemerintah Tak Ampuh, Harga Beras di Pasar Beterbangan

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Jumat, 16/10/2026 13:10 WIB
Foto: (CNBC Indonesa/Martyasari RIzky)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pedagang beras di Pasar Rumput, Jakarta Selatan, mengeluhkan harga eceran tertinggi (HET) beras yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi harga di lapangan. Pasalnya, harga pembelian beras dari pemasok hingga biaya distribusi membuat pedagang kesulitan menjual beras sesuai ketentuan pemerintah.

Berdasarkan pantauan langsung CNBC Indonesia di Pasar Rumput, Jumat (16/10/2026), harga beras medium di tingkat pedagang ditemukan mencapai Rp15.500 per kilogram (kg). Sementara itu, beras premium dijual dengan harga yang bervariasi, bahkan mencapai Rp18.000-Rp19.000 per kg.

Padahal, HET beras medium di Zona 1, yang mencakup Jawa, Lampung, dan Sumatra Selatan, ditetapkan sebesar Rp13.500 per kg. Adapun HET beras premium di zona tersebut sebesar Rp14.900 per kg.


Salah satu pedagang beras, Bayu, mengatakan persoalan harga tidak bisa hanya dibebankan kepada pedagang eceran. Menurutnya, harga beras dari daerah asal sudah tinggi sebelum ditambah ongkos distribusi hingga sampai ke Jakarta.

"Saya juga bingung. HET pemerintah untuk medium kan Rp13.500 dan premium Rp14.900 per kg. Sedangkan dari daerah asalnya saja, hitungan untuk beras yang layak makan itu rate-nya sudah Rp14.000 per kg lebih. Itu untuk premium yang paling murah," kata Bayu kepada CNBC Indonesia.

Ia menjelaskan, harga beras itupun masih harus ditambah biaya transportasi dan operasional dari daerah asal menuju Jakarta. Bayu memperkirakan biaya tersebut mencapai Rp500-Rp700 per kg.

"Taruhlah dari penggilingan harga premium Rp14.900, sedangkan orang bawa ke Jakarta kan butuh biaya transportasi dan operasional. Rata-rata biayanya sekitar Rp500 sampai Rp700 per kg untuk sampai Jakarta," ujarnya.

Pantauan harga beras di Pasar Rumput, Jakarta Selatan, Jumat (16/10/2026). (CNBC Indonesa/Martyasari RIzky) Foto: (CNBC Indonesa/Martyasari RIzky)

Menurut Bayu, kondisi tersebut membuat pedagang kesulitan mengikuti HET apabila harga pembelian barang sudah tinggi. Pedagang harus memperhitungkan modal agar tetap bisa menjalankan usahanya.

"Kalau pemerintah mengharuskan jual sesuai HET yang paling tinggi, yang mau nombokin siapa? Pemerintah mana tahu hitungan jumlah operasionalnya dari daerah sampai ke sini," tutur dia.

Keluhan serupa disampaikan pedagang beras lainnya, Dedi. Ia mengatakan harga beras yang dibeli dari Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) sudah tinggi, belum termasuk biaya tambahan untuk membawa dan menangani barang.

"Iya, karena kita juga ambil barang dari induk (PIBC) sudah tinggi. Belum lagi ongkos sama jasa panggulnya. Kalau harus jual sesuai HET, kita juga susah, modalnya saja sudah besar," ujar Dedi.

Dedi saat ini menjual beras medium paling murah Rp15.500 per kg. Adapun beras premium dijual sekitar Rp16.500-Rp18.000 per kg, tergantung kualitasnya.

Sementara itu, pedagang lainnya, Rena, menyebut harga beras cenderung bertahan di level tinggi selama beberapa bulan terakhir. Ia menjual beras medium sekitar Rp15.000-Rp15.500 per kg dan beras premium sekitar Rp16.000-Rp18.500 per kg, bergantung pada jenisnya.

"Ada naik, sedikit saja. Tapi stabil segini-segini saja sih harganya udah berapa bulan, cuma emang stabilnya lumayan tinggi ya," kata Rena.

Bayu menilai pemerintah perlu mengevaluasi pembentukan harga beras dari tingkat hulu, termasuk harga gabah dan penggilingan, agar ketentuan HET tidak bertentangan dengan biaya yang harus ditanggung pedagang.

"Pokoknya dibenahi saja hulunya, di tingkat penggilingannya. Kalau kita di hilir ini kan cuma mengikuti harga dari hulu saja," ujar Bayu.

Ia juga meminta pemerintah menyesuaikan ketentuan HET dengan kondisi riil di lapangan, sehingga kebijakan pengendalian harga tidak hanya menekan pedagang di tingkat pengecer.


(wur)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Harga Pangan Impor Naik, Pengusaha Antisipasi Risiko Produksi