MARKET DATA

2 Kereta Api Babaranjang Tabrakan Adu Banteng di Sumsel, Kok Bisa?

Wiji Nur Hayat,  CNBC Indonesia
16 October 2026 11:03
Dua kereta batu bara adu banteng yakni KA 4045 relasi Stasiun Tanjung Enim Baru menuju Tarahan dan KA 4136 relasi Stasiun Tarahan menuju Stasiun Tanjung Enim Baru di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan. (Dok. Istimewa)
Foto: (Dok. Istimewa)

Jakarta, CNBC Indonesia - Dua kereta api angkut batu bara (Babaranjang) mengalami tabrakan di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan. Akibatnya, dua orang yakni masinis dan asisten masinis terluka.

Kecelakaan terjadi tepatnya di Jalur I emplasemen Stasiun Talang Baru, Desa Talang Baru, Kecamatan Peninjauan, Kabupaten OKU, wilayah operasional KAI Divre IV Tanjungkarang, Kamis dini hari (15/10/2026) sekitar pukul 02.36 WIB. Adapun dua kereta yang terlibat yakni KA 4045 relasi Stasiun Tanjung Enim Baru menuju Tarahan dan KA 4136 relasi Stasiun Tarahan menuju Stasiun Tanjung Enim Baru.

Dampak insiden, lokomotif dan sejumlah gerbong terguling serta anjlok dari rel. Seluruh lintas pelayanan perjalanan kereta api dari dan menuju Tanjungkarang lumpuh total, termasuk dibatalkannya perjalanan KA penumpang Rajabasa relasi Tanjungkarang - Kertapati Palembang (PP).

Berdasarkan laporan kejadian, KA 4045 masuk ke Jalur I Stasiun Talang Baru dan menabrak KA 4136 yang sedang dalam proses berhenti di jalur yang sama. Benturan keras mengakibatkan kerusakan pada kedua rangkaian.

Dua kereta batu bara adu banteng yakni KA 4045 relasi Stasiun Tanjung Enim Baru menuju Tarahan dan KA 4136 relasi Stasiun Tarahan menuju Stasiun Tanjung Enim Baru di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan. (Dok. Istimewa)Dua kereta batu bara adu banteng yakni KA 4045 relasi Stasiun Tanjung Enim Baru menuju Tarahan dan KA 4136 relasi Stasiun Tarahan menuju Stasiun Tanjung Enim Baru di Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU), Sumatera Selatan. (Dok. Istimewa) Foto: (Dok. Istimewa)

Pengamat perkeretaapian Joni Martinus mengatakan, jika suatu rangkaian kereta berada di emplasemen stasiun seharusnya posisinya sangat aman, karena di dalam stasiun sudah dilengkapi berbagai alat pengaman seperti sistem persinyalan, petugas stasiun (PPKA), hingga petugas di sistem pengendali terpusat. Namun faktanya masih terjadi tabrakan. Menurut Joni, ada beberapa faktor yang kemungkinan menjadi penyebab.

Pertama adalah Pelanggaran terhadap sinyal merah (Signal Passed at Danger / SPAD) oleh masinis. Kemudian bisa jadi masinis dan asisten masinis tertidur.

"Hilangnya konsentrasi, sehingga mengurangi kewaspadaan dalam memantau kondisi jalur di depan," kata dia kepada CNBC Indonesia, Jumat (16/10/2026).

Kemudian bisa jadi ada kegagalan sistem sinyal yang menampilkan aspek yang salah (wrong side failure). Lalu penyimpangan prosedur yang menyebabkan kereta diizinkan masuk ke jalur yang masih terisi kereta lain.

Lanjut Joni, masalah teknis seperti rem blong, sehingga tidak mampu berhenti tepat waktu meskipun sinyal sudah terlihat. Kondisi cuaca ekstrem seperti kabut tebal atau kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan yang mengganggu jarak pandang.

Joni yang juga Ketua Bidang Perkeretaapian Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Sumsel menyatakan prihatin dan turut berduka atas kejadian yang menimbulkan kekecewaan dan ketidaknyamanan ratusan penumpang serta kerugian sarana dan prasarana.

Ia berharap kejadian ini menjadi perhatian, evaluasi, dan pembenahan bagi KAI maupun pihak terkait agar tidak terulang, serta mendorong KNKT untuk segera melakukan investigasi guna mencari penyebab secara cermat demi perbaikan transportasi yang lebih aman.

"Evaluasi dan perbaikan harus dilakukan secara menyeluruh, seperti pembenahan dan peningkatan pembinaan SDM, penerapan prosedur operasional yang ketat, serta memastikan keandalan sarana dan prasarana," ucap Joni.

(wur/wur) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Konsesi Perusahaan Sawit Disegel-Garis Kuning Efek Kebakaran Berulang


Most Popular
Features