Ambisi Trenggono Genjot Produktivitas Tambak Udang RI Melonjak 1.566%
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia masuk dalam jajaran empat besar eksportir udang dunia dengan nilai ekspor mencapai sekitar US$1,8 miliar. Namun, di balik besarnya kinerja ekspor tersebut, produktivitas tambak udang nasional masih tergolong rendah.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono mengungkapkan, produktivitas tambak udang Indonesia saat ini baru mencapai sekitar 0,6 ton per hektare (ha), meskipun luas tambak yang ada mencapai ratusan ribu hektare. Dia pun ingin produktivitas tambak di Indonesia bisa dipacu hingga melonjak sampai 16,6 kali lipat atau 1.566%.
"Kita ini termasuk eksportir udang yang nomor empat di dunia ya. Jadi khusus untuk udang itu ekspor kita hampir mencapai US$2 miliar dolar," kata Trenggono dalam Squawk Box: Foodagri Insight CNBC Indonesia, dikutip Kamis (15/10/2026).
Ia menyampaikan, luas tambak udang Indonesia mencapai 247.803 hektare. Namun, produktivitasnya masih rendah karena sistem produksi yang digunakan sebagian besar masih tradisional.
"Sistem produksi udang kita itu masih sangat tradisional, jadi dari 247.803 hektare. Itu produktivitasnya cuma 0,6 ton per hektare. Jadi sangat tradisional," sebutnya.
Untuk meningkatkan produktivitas, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyiapkan sejumlah langkah, mulai dari pembangunan kawasan budidaya udang berskala besar hingga revitalisasi tambak milik masyarakat.
Salah satu proyek yang tengah dikembangkan berada di Waingapu, Nusa Tenggara Timur (NTT), sementara model percontohan budidaya udang berskala menengah telah dibangun di Kebumen, Jawa Tengah.
"Nah, itu kita bangun. Lalu kemudian, kita revitalisasi juga yang tambak-tambak masyarakat, agar mereka menjadi lebih modern. Kita tata ulang instalasi pengolahan limbahnya dan seterusnya. Tujuannya adalah supaya mereka lebih sustain gitu," jelas Trenggono.
KKP menargetkan peningkatan produktivitas tambak melalui modernisasi sistem budidaya dan perbaikan infrastruktur pendukung.
Menurut Trenggono, kenaikan produktivitas dari 0,6 ton menjadi 10 ton per hektare saja akan memberikan dampak ekonomi yang besar.
"Kalau begitu akan terjadi peningkatan produktivitas tidak 0,6 ton per hektare lagi, dia naik menjadi 10 ton per hektare saja itu dampaknya sudah sangat luar biasa gitu," pungkasnya.
(dce)