Dunia Banjir Baja 640 Juta Ton, Pengusaha Datangi Menperin Desak Ini
Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi industri besi dan baja Indonesia, The Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA) meminta pemerintah tegas membatasi masuknya besi-baja impor ke pasar domestik. Selain itu, pengusaha juga mengeluhkan keterbatasan pasokan gas yang membatasi kinerja industri baja di Tanah Air.
Hal itu terungkap dari pertemuan Chairman IISIA Willgo Zainar dan Vice Chairman IISIA Ismail Mandry dengan Menteri Perindustrian (Menperin) M Sarmuji di kantor Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Dalam pertemuan itu, IISIA meminta perlindungan untuk industri baja nasional.
"Sekaligus kami juga laporkan bahwa utilisasi industri baja kita ini masih rendah, kisaran 43-57%. Ini bisa ditingkatkan lagi," kata Willgo kepada wartawan, usai pertemuan.
"Tentunya kami berharap industri kita bisa berdaya saing. Saat ini gempuran baja impor itu luar biasa. Tidak terbatas pada produk China, tapi juga produk-produk negara lainnya," tambahnya.
Saat ini, menurut Willgo, ada kelebihan pasokan atau excess over produksi baja dunia hingga mencapai sekitar 640 juta ton. Di mana, dari angka itu, China bekontribusi setidaknya 120-an juta ton.
"China sekarang menghadapi trade barrier dengan Uni Eropa dan Amerika, tentunya akan masuk ke pasar Indonesia. Bagaimana pak Menteri (Menperin) bersama dengan lintas kementerian dan lembaga terkait untuk bisa melindungi industri baja nasional," tukasnya.
Merespons hal itu, Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kemenperin Setia Diarta yang juga ada hadir dalam kesempatan itu berjanji akan menampung laporan IISIA dalam audiensi dengan Menperin tersebut.
"Kami terima dulu, karena sifatnya masih audiensi aja dulu. Nanti kami bersama dengan lintas kementerian lainnya akan cari solusi atas isu dari Pak Ketum (Chairman IISIA) dengan Pak Menteri tadi," ucap Setia Diarta.
Dalam kesempatan sama, Vice Chairman IISIA Ismail Mandry menambahkan, saat ini ada 189 perusahaan anggota IISIA dengan produksi per tahun mencapai 18 juta ton.
"Impor pada tahun-tahun sebelumnya, tahun 2024, 2025, itu 8 juta ton per tahun. Dan sampai Agustus 2026 sudah mencapai 7 juta ton. Jadi sampai akhir tahun akan lebih banyak lagi," beber Ismail.
"Oleh sebab itu, hari ini kami courtesy call dengan Menteri Perindustrian yang baru, sekaligus menyampaikan hal-hal seperti ini, agar impor itu bisa kita tetap batasi. Kalau memang tidak bisa diproduksi di dalam negeri, tentu buka nanti impor," ucapnya.
(dce/dce)