MARKET DATA

Industri Galangan Kapal RI Meringis: Rupiah Melemah-Bunga Bank Mahal

Ferry Sandi,  CNBC Indonesia
29 September 2026 14:25
Ilustrasi galangan kapal. (Dok. Pexels)
Foto: Ilustrasi galangan kapal. (Dok. Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri galangan kapal nasional menghadapi tekanan biaya dari dua sisi sekaligus. Pembiayaan kapal masih mahal, sementara pelemahan kurs valuta asing ikut mendorong kenaikan harga berbagai material dan komponen yang masih harus didatangkan dari luar negeri.

Kondisi ini menjadi persoalan penting karena pembangunan kapal membutuhkan modal besar sejak tahap awal. Selain bahan utama, sejumlah komponen bernilai tinggi masih menggunakan mata uang asing sehingga perubahan kurs langsung berpengaruh terhadap ongkos produksi.

Ketua Umum DPP IPERINDO (Ikatan Perusahaan Industri Kapal dan Sarana Lepas Pantai Indonesia) Anita Puji Utami menilai akses perbankan sebenarnya bukan persoalan utama. Tantangannya terletak pada tingkat bunga yang masih menggunakan pola pembiayaan umum dan belum secara khusus menyesuaikan karakter industri galangan kapal.

"Ya kalau untuk mengakses sih enggak ada masalah, cuman memang dari perbankan itu sendiri kalau masih tetap menerapkan pola suku bunga yang disamakan dengan industri yang lainnya, saya pikir berat ya bagi industri galangan kapal," kata Anita kepada CNBC Indonesia, Selasa (29/9/26).

Pembangunan kapal memiliki siklus pengerjaan dan pengembalian investasi yang berbeda dengan banyak sektor usaha lainnya. Karena itu, biaya dana menjadi salah satu komponen yang menentukan apakah sebuah proyek kapal dapat dikerjakan secara kompetitif di dalam negeri.

Tekanan biaya juga datang dari sisi material. Pelat baja, consumable part atau suku cadang dengan masa terbatas, cat, spare part hingga sejumlah mesin dan komponen utama kapal masih terpengaruh pergerakan valuta asing.

Selain harga bahan, komponen seperti main engine dan mesin bantu juga menjadi bagian penting dalam struktur biaya produksi. Ketergantungan pada material impor membuat perubahan kurs tidak hanya memengaruhi satu bagian dari kapal, tetapi dapat menjalar ke keseluruhan nilai proyek.

"Seperti di negara lain, bisa di 1 digit lah, itu pun mungkin kalau bisa mungkin di 4% lah, itu mungkin bisa sangat membantu dari industri galangan kapal dan juga shipping company bisa membangun di Indonesia," ujarnya.

Kenaikan kurs juga membuat galangan kapal nasional harus menghadapi tekanan harga ketika bersaing dengan galangan di negara lain. Situasi ini menjadi semakin berat ketika komponen impor masih memiliki porsi besar dalam pembangunan kapal.

Perhitungan biaya produksi akhirnya tidak hanya dipengaruhi oleh harga baja dan kebutuhan produksi di dalam negeri. Mesin utama, mesin bantu, serta komponen tertentu yang belum tersedia secara kompetitif dari pemasok domestik ikut menentukan harga akhir kapal.

"Selain itu tentunya dengan kenaikan kurs valuta asing yang baru-baru ini ya. Ini memicu adanya kenaikan dari bahan baku. Mulai dari harga plat, consumable, kemudian cat, spare part. Kemudian juga beberapa material-material impor seperti main engine, kemudian mesin pokok, mesin bantu, maupun jenis-jenis komponen kapal yang sampai sekarang ini masih impor dan menggunakan valuta asing, itu sangat membuat harga kapal di Indonesia lebih tinggi dibandingkan dengan negara lain," kata Anita.

Besarnya tekanan tersebut mulai tercermin pada kenaikan biaya yang harus ditanggung industri. Kondisi itu berpotensi mengurangi daya saing galangan dalam mendapatkan pesanan baru, terutama ketika calon pengguna kapal memiliki pilihan untuk membeli atau membangun kapal dari luar negeri.

"Kalau saat ini yang terakhir kenaikannya bisa sampai di 15% ya," ujarnya.


Sebagai catatan, Nilai tukar rupiah semakin tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (29/9/2026).

Dolar AS kini menembus level psikologis Rp18.000.
Merujuk data Refinitiv, pada pukul 09.55 WIB rupiah terdepresiasi 0,19% ke posisi Rp18.000/US$. Pelemahan rupiah membesar dibandingkan posisi pembukaan pagi tadi. Rupiah mengawali perdagangan dengan penurunan tipis 0,03% di level Rp17.970/US$.

Tekanan tersebut melanjutkan pergerakan pada Senin (28/9/2026), ketika rupiah ditutup melemah 0,48% ke posisi Rp17.965/US$.

(dce) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Prabowo Minta Kembangkan Industri Kapal RI: 95% Berbendera Asing


Most Popular
Features