Internasional

Siapakah Houthi & Mengapa Terus-menerus Menyerang Arab Saudi?

sef, CNBC Indonesia
Rabu, 14/10/2026 14:10 WIB
Foto: Rekaman pengawas memperlihatkan kepulan asap dan api serta reaksi orang-orang saat terjadi serangan di Bandara Internasional King Khalid di Riyadh, Arab Saudi, pada 10 Oktober 2026, dalam cuplikan dari video yang dirilis untuk umum ini. (via REUTERS/Saudi Ministry of Media)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kekerasan di Timur Tengah terus terjadi. Belum selesai panasnya Israel di Gaza dan Lebanon, serta Iran dan Amerika Serikat (AS), kini muncul kekerasan antara kelompok Houthi di Yaman dengan Arab Saudi.

Dalam update terbaru Rabu (14/10/2026), Arab Saudi mengonfirmasi serangan terhadap sebuah gedung milik Aramco di wilayah timur kerajaan itu yang memicu kebakaran. Insiden ini terjadi beberapa jam setelah koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pemerintahan sah Yaman memerangi kelompok Houthi ,mencegat sejumlah rudal pada Selasa malam.


Secara rinci, seorang pejabat kementerian energi Saudi juga mengatakan sebuah gedung administrasi milik perusahaan minyak raksasa Aramco di Dhahran terkena serangan pada Selasa malam. Beruntung tidak ada korban luka maupun jiwa.

Di sisi lain, dilaporkan pula bahwa empat orang di ibu kota, Riyadh, terluka akibat serpihan dari rudal Houthi yang berhasil dicegat militer. Badan pertahanan sipil Arab Saudi menyatakan mereka terdiri dari dua wanita, seorang pria, dan seorang anak di mana 15 rumah mengalami kerusakan.

Sebelumnya pada hari Selasa, koalisi Arab Saudi menyerang sejumlah fasilitas minyak di wilayah barat Yaman sebagai tanggapan atas serangan paling mematikan di wilayah kerajaan itu dalam beberapa tahun terakhir. Serangan di Sanaa, serta provinsi Dhamar dan Saada di wilayah barat, menyasar fasilitas-fasilitas yang disebut digunakan Houthi untuk mendukung upaya perang Houthi dan mengancam wilayah selatan Laut Merah, dan jalur pelayaran.

Siapa Houthi?

Mengutip Reuters dan NDTV, Houthi adalah gerakan militer, politik, dan keagamaan yang menguasai sebagian besar wilayah barat laut Yaman. Kelompok ini telah mengganggu pasar perdagangan dan energi global dengan serangan terhadap kapal kargo dan tanker di Laut Merah.

Houthi awalnya muncul di ujung utara Yaman pada tahun 1990-an sebagai gerakan kebangkitan sekte Zaydi ⁠Islam Syiah, yang pernah memerintah Yaman. Wilayah utara itu diketahui merupakan wilayah miskin dan terpinggirkan.

Mereka melancarkan serangkaian perang gerilya melawan tentara nasional Yaman. Konflik perbatasan singkat dengan Arab Saudi yang merupakan Islam Sunni juga terjadi.

Ketika presiden lama Yaman Ali Abdullah Saleh digulingkan dalam protes "Arab Spring" tahun 2011, kelompok tersebut mengonsolidasikan kendalinya atas Yaman utara. Bahkan menolak transisi politik yang didukung negara-negara Teluk.

Dengan dukungan Iran, pemimpin kelompok itu, Abdul Malik al-Houthi berhasil mengubah faksi pejuang gunungnya menjadi kekuatan beranggotakan puluhan ribu orang. Puncaknya, pada tahun 2014, mereka merebut ibu kota Sanaa, mendorong pemerintah yang diakui secara internasional ke selatan menuju Aden.

Gerakan Houthi menyebut dirinya Ansar Allah (Pembela Tuhan). Istilah populer "gerakan Houthi" mengacu pada pendirinya, mendiang pemimpinnya, Hussein Badruddin Houthi.

Dari data di 2019, Houthi menguasai sekitar sepertiga wilayah Yaman, tempat hampir 70% penduduknya tinggal. Sebuah laporan pada bulan September di tahun yang sama memperkirakan kekuatan mereka mencapai 180.000-200.000 orang bersenjata dengan akses terhadap sistem persenjataan mulai dari tank dan kendaraan teknis hingga peluru kendali anti-tank dan rudal balistik jarak jauh.

Konflik 2015 & Gencatan Senjata

Sebenarnya, ada kekhawatiran akan meningkatnya pengaruh Iran di Yaman dan kekacauan di perbatasan. Hal inilah yang pada akhirnya mendorong Arab Saudi memimpin intervensi militer terhadap Houthi pada awal tahun 2015 untuk mengusir kelompok tersebut, memulihkan pemerintahan dan menghidupkan kembali rencana transisi.

Perang terjadi antara koalisi Arab Saudi yang mendukung pemerintah dengan Houthi dan memicu salah satu krisis kemanusiaan terbesar di dunia, menyebabkan pertempuran sengit selama bertahun-tahun. Serangan udara Houthi kala itu tak hanya menghantam Arab Saudi, tapi juga mitra koalisinya, termasuk Uni Emirat Arab (UEA).

Setelah bertahun-tahun berperang, PBB menjadi perantara gencatan senjata antara pihak-pihak yang bertikai di Yaman pada tahun 2022. Perdamaian sementara itu berhasil setidaknya sampai 2023, saat Israel menyerang Gaza, Palestina.

Houthi mulai menembaki kapal-kapal di Laut Merah dan meluncurkan drone dan rudal ke Israel pada November 2023. Mereka mengatakan bahwa mereka melakukan hal tersebut untuk mendukung warga Palestina selama perang Israel di Gaza yang dimulai bulan sebelumnya.

Kenapa Terus Menyerang Arab Saudi Lagi?

Mengutip The Guardian dalam analisanya, pemilihan waktu yang dilakukan Houthi menyerang Arab Saudi bukan hanya sbersifat oportunis tetapi juga berakar pada dinamika konflik di Teluk terutama AS dan Israel melawan Iran.

Kelompok Houthi pada awalnya tidak ikut campur dalam konflik yang mulai awal tahun ini. Namun bulan lalu, Houthi tiba-tiba menguasai wilayah utama Yaman dan menguasai selat Bab al-Mandab, yang mendominasi Laut Merah, jalur pelayaran penting untuk ekspor minyak dan gas dari wilayah tersebut.

Hal ini membuat pasukan pemerintah Yaman dan sekutu lokalnya memulai serangan balasan besar-besaran pekan lalu untuk mengusir Houthi dari Bab al-Mandab dan juga menyerang posisi Houthi lainnya. Arab Saudi berada di garis bidik terdepan Houthi karena mendukung pemerintah Yaman yang didukung PBB dan pasukannya.

Serangan mereka terhadap sasaran-sasaran penting di kerajaan seperti infrastruktur minyak dan bandara ibu kota- yang merupakan simbol utama integrasi internasional dan masa depan ekonomi- memperjelas dampak buruk dari pilihan strategis Riyadh. Perlu diketahui pula, saat serangan Houthi dilancarkan massif pekan lalu ke bandara-bandara Arab Saudi pekan lalu dan Senin, sebenarnya kerjaan tengah menjadi tuan rumah dua konferensi besar energi dan investasi.

Salah satunya Kongres Perminyakan Dunia (WPC). Saudi akan menjadi rumah bagi para eksekutif dan pembuat kebijakan minyak global dari Minggu hingga Kamis.

Serangan Houthi juga dipandang menguntungkan Iran, yang telah lama mendukung Houthi sebagai bagian dari "poros perlawanan". Ini merujuk sebuah koalisi gerakan Islam garis keras yang memungkinkan Teheran memproyeksikan kekuatan dan pengaruh di wilayah tersebut.

Ancaman baru dari kelompok Houthi terhadap Laut Merah dan Arab Saudi kembali menyoroti besarnya pengaruh Teheran dan sekutu-sekutunya terhadap pasokan minyak dan gas global. Ini penting guna melawan tekanan AS baru-baru ini ke Iran di tengah pembicaraan yang buntu soal; gencatan senjata kedua belah pihak dan pembukaan Selat Hormuz.

Ekonomi Arab Saudi Jadi Korban?

Arab Saudi adalah salah satu pemain energi terkuat di dunia dan kekuatan geopolitik utama, terutama karena dominasi minyaknya. Dalam hal produksi minyak dunia secara keseluruhan, Arab Saudi memproduksi sekitar 11% dari total produksi minyak global.

Kerajaan ini memiliki sekitar 15 hingga 17% cadangan minyak bumi dunia. Sektor minyak dan gas menyumbang sekitar 50% PDB dan sekitar 70% pendapatan ekspor.

Dengan konflik di Timur Tengah yang terus terjadi saja antara AS, Israel dan Itan, Arab Saudi menghadapi kontraksi ekonomi yang signifikan tahun ini. Di mana PDB diperkirakan menyusut sebesar 3,3% sebagaimana disampaikan Dana Moneter Internasional (IMF).

Perlu diketahui laporan IMF muncul sebelum konflik dengan Houthi diperhitungkan. Jika krisis terus berlanjut, perlambatan makin menggerus ekonomi Arab Saudi.


(sef/sef)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Serangan Houthi Lumpuhkan Penerbangan Riyadh