Hacker Serang Raksasa NATO, Panaskan Kulkas-Freezer di 500 Supermarket
Jakarta, CNBC Indonesia - Peretas atau hacker secara jarak jauh memanaskan unit lemari es di ratusan supermarket di seluruh Prancis dan menghancurkan berton-ton pasokan makanan segar serta beku. Serangan siber berskala besar ini memaksa para peritel menanggung kerugian hingga jutaan euro dan membuat beberapa toko terpaksa tutup sementara.
Mengutip Russia Today, Selasa (13/10/2026), serangan brutal tersebut terjadi secara mendadak pada Senin malam dan berdampak pada lebih dari 500 toko ritel. Target serangan mencakup sekitar 300 toko Intermarche dan Netto, 100 gerai Cooperative U, 80 supermarket Carrefour, 30 lokasi Monoprix, serta beberapa toko E.Leclerc.
Selain jaringan supermarket raksasa, serangan siber ini juga melumpuhkan grosir Metro, para anggota asosiasi industri daging Prancis Culture Viande, hingga para pedagang daging independen.
Modus operasi peretas adalah dengan menargetkan pengontrol pendingin yang dipasok oleh produsen asal Denmark, Danfoss, yang memungkinkan teknisi mengatur suhu dari jarak jauh. Para pelaku mengaktifkan sistem pencairan es otomatis dan memaksa unit pendingin memanas hingga menyentuh suhu 50 derajat Celcius.
Dalam beberapa kasus, peretas dengan sengaja memperpanjang siklus pencairan dari satu jam menjadi delapan jam guna menunda bunyi alarm, sehingga kerusakan yang ditimbulkan semakin maksimal saat karyawan tiba untuk bekerja di pagi hari.
Skala pasti kerugian secara keseluruhan masih belum jelas, namun sebuah gerai Intermarche di Haguenau tercatat kehilangan makanan beku senilai 50.000 euro (Rp 1 miliar). Sementara itu, toko E.Leclerc di Wasselonne harus membuang produk segar dan beku bernilai 220.000 euro (Rp 4,4 miliar).
Merespons krisis tersebut, CEO Cooperative U Dominique Schelcher mengutuk keras insiden sabotase ini. Ia kembali menggarisbawahi kerugian yang sangat besar.
"Serangan ini belum pernah terjadi sebelumnya dan tidak dapat diterima. Kerugian nasional bisa mencapai puluhan juta euro," tutur Cotillard.
Hingga kini, para penyerang masih belum teridentifikasi dan tidak ada tuntutan uang tebusan yang dilaporkan. Juru bicara Intermarche menyebutkan bahwa serangan itu secara spesifik meretas penyedia layanan pihak ketiga yang mengelola peralatan pendingin. Peneliti keamanan siber Kevin Beaumont membeberkan celah keamanan konyol pada infrastruktur mesin pengontrol tersebut.
"Ribuan pengontrol Danfoss dapat diakses langsung melalui internet dengan nama pengguna 'admin' dan kata sandi yang secara otomatis berubah setiap hari sesuai tanggal saat ini," ungkapnya.
Pihak Danfoss menyatakan bahwa sistem yang paling banyak terdampak adalah produk usang yang sudah tidak lagi menerima pembaruan keamanan, seperti model AK-SM 800 dan AK-SC 355. Badan keamanan siber Prancis (ANSSI) langsung mendesak para operator untuk memutus sambungan antarmuka manajemen yang rentan dari internet atau membatasi akses hanya ke koneksi tepercaya.
Peralatan Danfoss tercatat pernah menjadi target serangan serupa pada tahun 2022 lalu yang menyasar 16 supermarket Rusia dan 40 toko di Israel akibat perlindungan firewall atau VPN yang tidak memadai.
(tps/tps)