Pemerintah Petakan Wilayah Penghasil Bahan Baku Bioetanol
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia membeberkan bahwa wilayah Jawa, Sumatra, hingga Papua memiliki potensi bahan baku lokal untuk mendukung pemenuhan bioetanol nasional. Pemetaan potensi bahan baku tersebut dilakukan untuk menopang rencana kebijakan campuran etanol 50% ke dalam Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin atau E50 secara bertahap.
Pemerintah saat ini terus mematangkan perencanaan program bioetanol tersebut dengan mengukur kapasitas industri pengolahan di dalam negeri. Pengukuran kapasitas industri dilakukan agar penerapan mandatori campuran ensin dengan etanol tidak memicu ketergantungan pada impor dari luar negeri.
"Udah, udah, udah (pemetaan bahan baku). Ada sebagian di Jawa, di Sumatra, ada sebagian di Papua, ada ya," ujar Bahlil di sela acara Rakernas Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI), di Jakarta, dikutip Selasa (13/10/2026).
Pemerintah menekankan bahwa kesiapan pasokan dalam negeri menjadi syarat agar kebijakan campuran BBM nabati tidak memicu ketergantungan baru pada komoditas impor. Langkah tersebut belajar dari pengalaman keberhasilan penerapan campuran bioenergi pada BBM jenis solar.
"Ke depan itu dalam perencanaan kita, kita akan bikin sampai dengan E50. Tetapi bertahap. Nah, untuk sampai dengan 2028, kita melihat kapasitas industri kita sekarang sudah seperti apa. Karena jangan sampai kita melakukan mandatori, tapi etanolnya lagi kita impor. Nggak boleh, ya," tambahnya.
Adapun jenis komoditas pertanian lokal yang dimanfaatkan sebagai bahan baku bioetanol mencakup tebu, singkong, hingga jagung. Pengolahan hasil tani tersebut dirancang sekaligus untuk menyerap komoditas warga serta membangun kawasan pertumbuhan ekonomi baru di berbagai daerah.
Melalui program mandatori etanol ini, pemerintah optimistis dapat menekan ketergantungan impor bensin nasional yang saat ini konsumsinya mencapai 40 juta kiloliter per tahun. Di sisi lain, bioetanol dinilai menjadi energi alternatif yang harganya jauh lebih terjangkau di tengah tingginya harga minyak mentah dunia.
"Untuk bensin, kita konsumsi kita 40 juta kiloliter. Produksi kita dalam negeri tidak lebih dari 18 sampai 19 juta, selebihnya kita masih impor. Nah, bagaimana itu caranya membuat clear? Kita mau dorong etanol. Kita mau dorong sampai dengan E50," kata Bahlil dalam paparannya.
(pgr/pgr)