RI Punya Pabrik Bioetanol 70.500 KL, Siap Terapkan BBM E10 di 2027
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menargetkan implementasi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis bensin dicampur dengan bioetanol 10% atau E10, bisa berjalan pada tahun 2027.
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi menyatakan, bahwa saat ini pihaknya sedang mempersiapkan teknis implementasi mandatory pencampuran 10% bioetanol tersebut ke dalam BBM.
"Tinggal nanti bahan bakunya komitmennya bagaimana, kita sekarang sedang mempersiapkan teknisnya untuk bisa ke arah mandatory. Selaras dengan itu memang sudah ada ketentuan di Permen bahwa bahan bakunya kan memang dari dalam, jadi nanti terkumpul berapa," terang Eniya ditemui di Wetin, Jakarta, dikutip Senin (26/10/2026).
Eniya mencatat, saat ini kebutuhan stok etanol atau feedstok masih kurang banyak atau baru mencapai 70.500 Kiloliter (KL). Jika ingin E20 terlaksana di 2028, maka dibutuhkan setidaknya etanol sebanyak 400.000 KL - 500.000 KL.
"Karena kalau mau E20 di 2028 itu juga harus tambah banyak. Paling minimal itu kan kita perlu 400.000 KL, bertahap terus 500.000, naik-naik terus," terang Eniya.
Sebagaimana diketahui, untuk mendukung terlaksana E10 di 2027, pemerintah juga terus mendorong pembangunan pabrik etanol. Di mana, ditargetkan ada 11 pabrik baru yang akan dibangun.
"Kita sih menghitungnya sudah ada sekitar perencanaan 11 pabrik baru. Itu mau MoU, memastikan lahan dan lain sebagainya. Tapi kalau untuk revitalisasi pabrik-pabrik yang lama kita sangat mendukung, pokoknya semua menghasilkan feedstock baru karena yang terkumpul hanya sedikit nih," tegas Eniya.
(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]