Wamenko Dradjad Bantah Daya Beli Warga RI Lemah: Banyak Jalan-Jalan

Chandra Dwi Pranata, CNBC Indonesia
Senin, 12/10/2026 13:39 WIB
Foto: Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Wamenko Perekonomian), Dradjad Hari Wibowo dan Kepala BPS, Amalia A. Widyasanti saat ditemui di kantor BPS, Jakarta, Senin (12/10/2026). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)

Jakarta, CNBC Indonesia - Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Wibowo membantah daya beli masyarakat Indonesia tengah mengalami pelemahan.

Pernyataan ini ia sampaikan selepas mengadakan pertemuan dengan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adhininggar Widyasanti di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (12/10/2026).

"Bisa saya sampaikan, itu tidak betul kalau daya beli di Indonesia itu melemah, salah," ucap Dradjad seusai pertemuan.


Dradjad mengaku kesimpulan itu ia dapat setelah mendapatkan sejumlah data dari BPS. Namun, ia tidak menyebut secara spesifik angka yang ia maksud dari setiap perolehan data.

"Jadi daya beli tidak melemah, buktinya banyak, saya tadi lihat bukti data-data, memang gak semua data bisa dipublikasi, tapi tadi saya lihat buktinya ya," kata Dradjad.

Ia hanya menegaskan, tidak adanya indikasi daya beli masyarakat Indonesia melemah bisa dilihat dari data pertumbuhan aktivitas sektor transportasi hingga pariwisata.

"Karena apa? Karena masyarakat kita rupanya sekarang banyak yang senang halan-halan, halan-halan ya, jalan-jalan. Dan konsumsi jalan-jalan itu tinggi sekali, restoran dan hotel juga. Turisme juga meningkat, pariwisata meningkat sekali," tuturnya.

Selanjutnya, kuatnya daya beli masyarakat kata dia juga terlihat dari transaksi QRIS yang terus meningkat di atas 100%. Termasuk terkait dengan transaksi yang kini makin banyak beralih melalui ruang digital.

"Ya kalau transaksi QRIS meningkat drastis, itu kan nantinya memang banyak transaksi, banyak konsumsi. Jadi yang terjadi, itu bukan daya beli melemah. Enggak, sangat-sangat enggak betul," papar Dradjad.


(arj/arj)
Saksikan video di bawah ini:

Airlangga Ungkap Alasan Ekonomi Vietnam Tumbuh Lebih Kencang Dari RI