Bos Pengusaha Minta RI Belajar dari Vietnam dan China, Sorot PSN & KEK
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perindustrian (Menperin) M Sarmuji mengungkapkan rencana pengembangan sekitar 60 kawasan industri baru. Kepastian perizinan, kecepatan realisasi investasi, hingga kesiapan infrastruktur menjadi pekerjaan rumah pemerintah agar Indonesia mampu bersaing memperebutkan modal global.
Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri (HKI) Akhmad Ma'ruf Maulana menilai pemerintah perlu mengambil langkah konkret untuk memperbaiki iklim investasi. Menurutnya, kawasan industri memiliki posisi strategis dalam mendorong investasi, hilirisasi, ekspor, hingga penciptaan lapangan kerja.
"Kawasan industri memiliki peran strategis sebagai motor penggerak investasi, hilirisasi, ekspor, dan penciptaan lapangan kerja. Namun, untuk mencapai target tersebut, kita membutuhkan keberanian melakukan terobosan kebijakan, khususnya dalam mempercepat proses perizinan dan realisasi investasi," ujar Ma'ruf kepada CNBC Indonesia, dikutip Senin (12/10/2026).
Salah satu hal yang menjadi perhatian HKI adalah proses pengajuan hingga penetapan Proyek Strategis Nasional (PSN) dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). Pemerintah didorong mempercepat seluruh tahapan tersebut, baik untuk usulan kawasan baru maupun pengembangan kawasan yang sudah beroperasi.
Ma'ruf mengingatkan, proses administrasi yang panjang berisiko membuat Indonesia kehilangan peluang investasi. Ketika realisasi proyek tertunda, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh investor, tetapi juga berpengaruh terhadap penyerapan tenaga kerja, ekspor, dan penerimaan negara.
"Dalam dunia investasi, kecepatan adalah faktor penentu. Kita tidak boleh kehilangan peluang investasi hanya karena proses administrasi yang panjang dan berlarut-larut. Setiap keterlambatan investasi berarti tertundanya penciptaan lapangan kerja, peningkatan ekspor, penerimaan negara, dan pertumbuhan ekonomi," tegasnya.
Persaingan menarik investasi semakin ketat karena negara-negara lain terus memperbaiki daya tarik kawasan industrinya. Ma'ruf menyoroti Vietnam yang agresif mengembangkan kawasan industri dan ekonomi khusus melalui kemudahan administrasi, insentif perpajakan, akses lahan, serta dukungan infrastruktur logistik untuk kegiatan ekspor.
Sementara itu, China dinilai unggul karena memiliki ekosistem industri yang terintegrasi. Ketersediaan bahan baku, industri pendukung, energi, logistik, dan akses pasar membuat perusahaan lebih mudah menjalankan kegiatan produksi dalam skala besar.
"Vietnam dan China memberikan pelajaran penting bahwa investor membutuhkan lebih dari sekadar insentif. Mereka membutuhkan kecepatan, kepastian, dan ekosistem industri yang siap mendukung kegiatan usahanya. Indonesia harus mampu menawarkan kemudahan yang setara, bahkan lebih baik, agar tidak tertinggal dalam perebutan investasi global," kata Ma'ruf.
Ma'ruf menilai Indonesia sebenarnya memiliki modal kuat untuk bersaing, mulai dari pasar domestik yang besar, kekayaan sumber daya alam, tenaga kerja produktif, hingga posisi geografis yang strategis. Tantangannya adalah memastikan keunggulan tersebut didukung kebijakan investasi yang responsif, efisien, dan konsisten.
"Investor global membandingkan Indonesia dengan negara-negara lain sebelum mengambil keputusan. Apabila proses persetujuan investasi di negara pesaing lebih cepat dan lebih pasti, tentu hal tersebut akan memengaruhi keputusan mereka. Karena itu, reformasi perizinan harus menjadi agenda prioritas kita bersama," tambahnya.
Di sisi lain, pemerintah tengah menyiapkan pengembangan sekitar 60 kawasan industri baru untuk memperluas pusat pertumbuhan ekonomi, terutama di luar Pulau Jawa. Menteri Perindustrian Sarmuji menyampaikan, pembangunan tersebut diarahkan untuk mendorong pemerataan industri sekaligus membuka peluang investasi dan lapangan kerja di berbagai daerah.
Namun, penambahan jumlah kawasan industri perlu diikuti kesiapan infrastruktur dasar. Ketersediaan listrik, akses pelabuhan, transportasi, dan bahan baku menjadi faktor penting agar kawasan baru tidak sekadar menyediakan lahan, tetapi benar-benar mampu menarik perusahaan untuk berproduksi.
"Kita menyiapkan roadmap untuk pengembangan sekitar 60 kawasan industri baru. Sebagian besar diarahkan ke luar Jawa supaya pertumbuhan industri bisa lebih merata," ujar Sarmuji dalam Manufacture Check CNBC Indonesia, Jumat (9/10/2026).
(dce)