Bertahan Hidup, Pemilik Konveksi Belajar Live Streaming Jualan Online
Jakarta, CNBC Indonesia - Persaingan industri fesyen Indonesia tak lagi hanya berlangsung di pasar tradisional, pusat grosir, atau toko pakaian. Kini, persaingan juga semakin sengit di layar ponsel, tempat produk lokal dan barang impor saling berebut perhatian konsumen melalui platform perdagangan elektronik atau e-commerce.
Bagi pelaku industri konveksi, perubahan ini menjadi tantangan sekaligus peluang. Apalagi banyak pelaku usaha gulung tikar karena sulit bersaing dengan produk impor berharga murah, baik di pasar daring maupun penjualan konvensional. Situasi tersebut mendorong pengusaha lokal mencari cara baru agar produk mereka tetap memiliki pembeli.
"Sejak 2022, banyak anggota kami yang terpaksa menghentikan usahanya karena tidak mampu bersaing dengan produk impor murah. Kami tidak anti terhadap impor, tetapi produk dalam negeri juga harus mendapatkan perhatian agar persaingan berjalan sehat dan industri lokal tetap bisa tumbuh," kata Ketua Umum Ikatan Pengusaha Konveksi Berkarya (IPKB) Nandi Herdiaman kepada CNBC Indonesia, Senin (12/10/26).
Tekanan terhadap pelaku usaha berlangsung di tengah masih masuknya produk pakaian dari luar negeri. Data resmi Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada Juli 2026, nilai impor pakaian dan aksesori rajutan atau kode HS 61 mencapai sekitar US$38,49 juta. Sementara itu, impor pakaian dan aksesori bukan rajutan atau HS 62 tercatat sekitar US$29,96 juta. Kedua kelompok tersebut mencakup produk pakaian jadi.
Besarnya arus perdagangan tersebut membuat persaingan harga menjadi persoalan penting bagi produsen lokal, terutama industri kecil dan menengah (IKM) yang memiliki keterbatasan modal, kapasitas produksi, dan jangkauan pemasaran. Namun, bagi Nandi, digitalisasi dapat menjadi salah satu jalan keluar jika pelaku usaha mampu memangkas jalur distribusi dan mendekatkan produsen dengan konsumen.
"Pelaku konveksi perlu mengubah cara berjualan. Dengan dukungan teknologi digital, produk bisa ditawarkan langsung kepada konsumen tanpa harus melewati terlalu banyak perantara. Rantai distribusi yang lebih pendek dapat membantu menekan biaya sehingga produk lokal tetap bisa dijual dengan harga yang terjangkau," ujarnya.
Pelaku usaha pun mulai beralih untuk mempelajari berjualan online, termasuk melalui platform e-commerce TikTok Academy. Upaya ini diharapkan tidak berhenti pada pemindahan toko ke internet, tetapi juga membantu pengusaha memahami cara menjangkau konsumen dan membangun kepercayaan pembeli.
Salah satu strategi yang dinilai bisa dimanfaatkan adalah siaran langsung atau live streaming. Melalui cara ini, penjual dapat memperlihatkan bahan, detail jahitan, hingga kualitas pakaian secara langsung kepada calon pembeli. Konsumen pun memiliki kesempatan menilai produk berdasarkan kondisi yang ditampilkan, bukan hanya mengandalkan foto atau harga yang tertera di halaman penjualan.
"Lewat live streaming, kami bisa menunjukkan langsung kualitas bahan dan jahitan kepada pembeli. Konsumen dapat melihat apa yang mereka beli, sementara pengusaha lokal punya kesempatan menjelaskan keunggulan produknya. Dengan begitu, persaingan tidak semata-mata soal siapa yang menjual paling murah," kata Nandi.
Selain pemasaran langsung, sistem pre-order atau produksi berdasarkan pesanan juga bisa membantu pengusaha konveksi mengelola modal. Dengan memperkirakan permintaan sebelum memproduksi barang dalam jumlah besar, pelaku usaha dapat mengurangi risiko stok menumpuk dan menjaga perputaran uang. Strategi tersebut menjadi penting bagi IKM yang tidak memiliki ruang finansial sebesar perusahaan berskala besar untuk menanggung barang yang tidak terjual.
"Digitalisasi bukan pengganti perlindungan pasar dalam negeri. Kami berharap pelaku usaha bisa semakin siap menghadapi perubahan pasar, sementara pemerintah memastikan persaingan berjalan adil dan produk ilegal ditangani. Dengan begitu, industri fesyen lokal punya kesempatan lebih besar untuk berkembang, membuka lapangan kerja, dan membuat produk buatan Indonesia semakin diminati masyarakatnya sendiri," ujar Nandi.
(fys/wur)