Marak Fenomena Live Streaming, Warga RI Jadi Mudah Tergoda Belanja
Jakarta, CNBC Indonesia - Pola belanja masyarakat Indonesia melalui kanal digital terus berubah. Aktivitas perdagangan berbasis video atau video commerce kini semakin berkembang dan menjadi bagian dari tren belanja online di Tanah Air.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, jumlah transaksi video commerce di Indonesia telah mencapai sekitar 2,6 miliar transaksi. Perkembangan ini menjadi salah satu indikator positif, di tengah perubahan perilaku konsumen yang semakin menggabungkan kanal online dan offline.
"Ya, jadi kalau sekarang trennya tetap baik, terjadi dual channel atau kita sering disebut sebagai omnichannel, di mana video conference trade itu berjalan dan trennya malah naik ke 800 ribu, itu naik hampir 75%. Jumlah transaksinya sekitar 2,6 miliar. Ini yang tren positif di Indonesia," kata Airlangga dalam konferensi pers Kick Off Road to Harbolnas 2026 di Auditorium Kemendag, Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Menurut Airlangga, perkembangan video commerce juga terlihat dari semakin banyaknya pelaku usaha yang memanfaatkan video dan siaran langsung untuk menawarkan produk kepada konsumen.
Ia menyebut jumlah penjual online di Indonesia telah mencapai sekitar 800 ribu. Sementara itu, transaksi melalui video commerce telah mencapai 2,6 miliar transaksi.
"Indonesia karena pengguna aktif dari sosial media sudah tembus di atas 180 juta dan ini terus tumbuh dengan double digit atau 26% per tahun. Nah kita juga melihat bahwa dalam e-commerce ini optimalisasi AI sangat penting, terutama dalam program algoritma untuk mendorong produk-produk yang berbasis kepada personalisasi para konsumen," ujarnya.
Menurutnya, perkembangan teknologi digital tersebut membuka peluang bagi pelaku industri maupun UMKM untuk memperluas pasar. Perubahan pola konsumsi juga membuat batas antara perdagangan offline dan online semakin tipis.
"Nah ini tentu momentum adaptasi teknologi yang luar biasa dan ini merupakan peluang bagi pelaku industri maupun UMKM lokal, untuk melakukan transformasi ekonomi digital secara lebih inklusif," tutur dia.
Ilustarsi melihat Tiktok. (Freepik) Foto: Ilustarsi melihat Tiktok. (Freepik) |
Belanja Online dan Offline Makin Menyatu
Airlangga mengatakan, sektor perdagangan Indonesia kini bergerak menuju pola omnichannel, yakni konsumen menggunakan kanal online dan offline secara bersamaan sesuai kebutuhan.
Ia menyebut perdagangan offline masih menyumbang sekitar dua pertiga dari keseluruhan perdagangan, sedangkan e-commerce sekitar sepertiganya.
"Kita lihat bahwa sektor offline dan online ini sudah mulai menyatu, walaupun sektor offline masih dua pertiga dari perdagangan dan di sektor e-commerce masih sekitar sepertiga," ujar Airlangga.
Ia juga mengatakan ekonomi digital Indonesia terus berkembang. Nilainya disebut telah mencapai sekitar US$100 miliar pada 2025, dengan Indonesia menjadi salah satu pasar utama untuk perdagangan berbasis video.
Fenomena tersebut turut menjadi perhatian pemerintah menjelang pelaksanaan Hari Belanja Online Nasional (Harbolnas) 2026. Pemerintah menargetkan transaksi Harbolnas tahun ini mencapai sekitar Rp40 triliun, naik sekitar 10% dari realisasi tahun sebelumnya sebesar Rp36,4 triliun.
"Targetnya tahun ini Rp40 triliun. Tentu pemerintah berharap bahwa ini penting karena kita perlu mengangkat perekonomian di kuartal keempat," katanya.
Adapun Harbolnas 2026 akan berlangsung selama tujuh hari pada 10-16 Desember 2026. Selain marketplace, pemerintah juga memperluas partisipasi ke berbagai platform dalam ekosistem digital, termasuk online travel agent, ride hailing, social commerce, serta platform perdagangan dan layanan digital lainnya.
Pemerintah berharap perkembangan kanal digital tersebut tidak hanya meningkatkan aktivitas konsumsi, tetapi juga membuka ruang lebih besar bagi UMKM dan produk lokal untuk berkembang.
Airlangga juga mendorong pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas pasar hingga ke luar negeri. Menurutnya, platform e-commerce Indonesia kini sudah mulai digunakan untuk mendukung ekspor produk UMKM, terutama ke negara-negara Asia.
"Nah ini di lingkup ASEAN kita sedang menyiapkan namanya Digital Economic Framework Agreement (DEFA), harapannya DEFA ini akan ditandatangani di bulan November, di Manila," ujar dia.
Ia menilai integrasi ekonomi digital ASEAN dapat memperbesar peluang pasar bagi pelaku usaha Indonesia, terutama UMKM yang mulai masuk ke ekosistem digital dan memanfaatkan teknologi untuk menjangkau konsumen global.
(wur) [Gambas:Video CNBC]