FOTO Internasional

Warga Ngamuk, Tanah Leluhur Diacak-acak Terendam Proyek Raksasa

Reuters, CNBC Indonesia
Senin, 12/10/2026 20:50 WIB

Ratusan warga suku di India memprotes proyek penghubung sungai US$87 miliar yang dinilai merendam desa dan merusak lahan pertanian leluhur.

1/8 Amit Bhatnagar, pemimpin Jai Kisan Sangathan, memimpin aksi protes di mana para pengunjuk rasa meneriakkan tuntutan ganti rugi dan rehabilitasi yang layak bagi keluarga-keluarga yang terdampak oleh Proyek Penghubung Sungai Ken-Betwa, di dekat Bendungan Majhgawan di Sungai Ken, Ajaygarh, Madhya Pradesh, India, pada 19 September 2026. (REUTERS/Amit Dave)

Para pengunjuk rasa menuntut ganti rugi dan relokasi yang layak bagi keluarga terdampak Proyek Penghubung Sungai Ken-Betwa di dekat Bendungan Majhgawan, Sungai Ken, Ajaygarh, Madhya Pradesh, India. Ratusan warga memprotes proyek pemerintah senilai US$87 miliar atau sekitar Rp1,55 kuadriliun untuk menghubungkan sejumlah sungai di negara tersebut. Mereka menilai pembangunan itu telah menenggelamkan desa dan merusak lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan keluarga selama lebih dari satu abad. (REUTERS/Amit Dave)

2/8 Amit Bhatnagar, pemimpin Jai Kisan Sangathan, memimpin aksi protes di mana para pengunjuk rasa meneriakkan tuntutan ganti rugi dan rehabilitasi yang layak bagi keluarga-keluarga yang terdampak oleh Proyek Penghubung Sungai Ken-Betwa, di dekat Bendungan Majhgawan di Sungai Ken, Ajaygarh, Madhya Pradesh, India, pada 19 September 2026. (REUTERS/Amit Dave)

Salah satu warga, Bitti Bai Kondar, terlihat berdiri di Sungai Ken dengan air setinggi lutut dan lumpur di wajahnya sebagai simbol keterikatan dengan tanah leluhurnya. Bersama empat putranya, ia ikut memprotes proyek tersebut dan menuntut kompensasi yang lebih layak atas rumah serta lahan yang terdampak. (REUTERS/Amit Dave)

3/8 Amit Bhatnagar, pemimpin Jai Kisan Sangathan, memimpin aksi protes di mana para pengunjuk rasa meneriakkan tuntutan ganti rugi dan rehabilitasi yang layak bagi keluarga-keluarga yang terdampak oleh Proyek Penghubung Sungai Ken-Betwa, di dekat Bendungan Majhgawan di Sungai Ken, Ajaygarh, Madhya Pradesh, India, pada 19 September 2026. (REUTERS/Amit Dave)

Sejumlah warga berbaring di atas tumpukan kayu bakar untuk upacara kremasi simbolis di dalam air, sementara lainnya berdiri di bawah kerangka kayu dengan tali menyerupai jerat di leher sebagai bentuk protes. “Pemerintah telah merampas tanah kami dan itulah sebabnya kami berbaring di atas keranda pemakaman,” kata Kondar. Sejumlah perempuan juga berbaring di atas replika tempat pembakaran jenazah untuk menegaskan penolakan meninggalkan tanah leluhur mereka. (REUTERS/Amit Dave)

4/8 Amit Bhatnagar, pemimpin Jai Kisan Sangathan, memimpin aksi protes di mana para pengunjuk rasa meneriakkan tuntutan ganti rugi dan rehabilitasi yang layak bagi keluarga-keluarga yang terdampak oleh Proyek Penghubung Sungai Ken-Betwa, di dekat Bendungan Majhgawan di Sungai Ken, Ajaygarh, Madhya Pradesh, India, pada 19 September 2026. (REUTERS/Amit Dave)

Perselisihan ini menjadi ujian awal bagi ambisi India menghubungkan sekitar 30 sungai di seluruh negeri. Program yang telah direncanakan selama beberapa dekade itu mendapat dorongan dalam beberapa tahun terakhir di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Narendra Modi. Pemerintah menyebut proyek tersebut bertujuan menyalurkan air ke wilayah rawan kekeringan, meningkatkan ketahanan pangan, serta membantu puluhan juta petani. Namun, para pengkritik menilai program itu berisiko menggusur masyarakat dan merusak ekosistem yang rentan. (REUTERS/Amit Dave)

5/8 Amit Bhatnagar, pemimpin Jai Kisan Sangathan, memimpin aksi protes di mana para pengunjuk rasa meneriakkan tuntutan ganti rugi dan rehabilitasi yang layak bagi keluarga-keluarga yang terdampak oleh Proyek Penghubung Sungai Ken-Betwa, di dekat Bendungan Majhgawan di Sungai Ken, Ajaygarh, Madhya Pradesh, India, pada 19 September 2026. (REUTERS/Amit Dave)

Tahap pertama proyek penghubung Sungai Ken di Madhya Pradesh dengan Sungai Betwa di Uttar Pradesh menelan biaya sekitar US$5,3 miliar atau Rp94,3 triliun. Pemerintah menawarkan kompensasi sedikitnya 1,25 juta rupee India atau sekitar US$13.000 (Rp231 juta) per hektare kepada warga di sepanjang Sungai Ken, Distrik Panna. Nilai tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tawaran awal sebesar 500.000 rupee per hektare. (REUTERS/Amit Dave)

6/8 Amit Bhatnagar, pemimpin Jai Kisan Sangathan, memimpin aksi protes di mana para pengunjuk rasa meneriakkan tuntutan ganti rugi dan rehabilitasi yang layak bagi keluarga-keluarga yang terdampak oleh Proyek Penghubung Sungai Ken-Betwa, di dekat Bendungan Majhgawan di Sungai Ken, Ajaygarh, Madhya Pradesh, India, pada 19 September 2026. (REUTERS/Amit Dave)

Administrator Distrik Panna, Usha Parmar, mengatakan kompensasi telah ditingkatkan dan 90% warga telah menerima pembayaran. Pemerintah juga melakukan pendataan dari rumah ke rumah untuk mengidentifikasi warga yang berhak menerima kompensasi, termasuk mereka yang berusia 18 tahun pada 2024. (REUTERS/Amit Dave)

7/8 Amit Bhatnagar, pemimpin Jai Kisan Sangathan, memimpin aksi protes di mana para pengunjuk rasa meneriakkan tuntutan ganti rugi dan rehabilitasi yang layak bagi keluarga-keluarga yang terdampak oleh Proyek Penghubung Sungai Ken-Betwa, di dekat Bendungan Majhgawan di Sungai Ken, Ajaygarh, Madhya Pradesh, India, pada 19 September 2026. (REUTERS/Amit Dave)

Meski demikian, sejumlah warga menilai pembayaran tersebut belum menutup seluruh kerugian mereka. "Jika rumah kami telah dihancurkan, kami seharusnya mendapat kompensasi yang sesuai agar bisa mencari tempat lain untuk anak-anak kami," kata warga setempat, Ramkali Prajapata. (REUTERS/Amit Dave)

8/8 Amit Bhatnagar, pemimpin Jai Kisan Sangathan, memimpin aksi protes di mana para pengunjuk rasa meneriakkan tuntutan ganti rugi dan rehabilitasi yang layak bagi keluarga-keluarga yang terdampak oleh Proyek Penghubung Sungai Ken-Betwa, di dekat Bendungan Majhgawan di Sungai Ken, Ajaygarh, Madhya Pradesh, India, pada 19 September 2026. (REUTERS/Amit Dave)

Juru bicara pemerintah mengatakan belum dapat memberikan komentar langsung mengenai asumsi ilmiah yang mendasari proyek tersebut. Ia merujuk pada pernyataan pemerintah tertanggal 21 Agustus yang menyebut proyek itu akan membantu mengatasi kelangkaan air kronis di wilayah Bundelkhand melalui penyediaan irigasi, air minum, dan pembangkit listrik tenaga air. (REUTERS/Amit Dave)