Timteng Makin Menggila, AS Akan Gabung Saudi Perang Lawan Houthi Yaman
Jakarta, CNCB Indonesia - Timur Tengah makin memanas. Dalam update Minggu, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan ia tengah mempertimbangkan untuk bergabung dengan Arab Saudi dalam tindakan balasan terhadap kelompok Houthi yang didukung Teheran di Yaman.
Pernyataan diberikan usai serangan mematikan Houthi menghantam Bandara Internasional King Khalid di Riyadh menewaskan 12 orang dan melukai 309 lainnya, Sabtu. Ini merupakan serangan mematikan kedua yang menargetkan bandara Riyadh setelah Kamis, di mana tiga warga negara Arab Saudi, termasuk seorang pilot, tewas dalam serangan terhadap fasilitas tersebut yang dilakukan oleh militan Houthi.
"Kami mungkin saja melakukannya. Kami akan meninjaunya," ujar Trump kepada para wartawan di luar Gedung Putih pada hari Sabtu saat ditanya apakah AS akan mendukung serangan Arab Saudi, dikutip CNBC International, Senin (12/10/2026).
"Kami baru saja mengetahui tentang serangan terkini itu. Jadi, kami akan mengambil keputusan. Kami bertindak sangat cepat," tegasnya.
Sebelumnya, dua pejabat pemerintah Arab Saudi mengatakan kepada MS NOW bahwa kerajaan tersebut meminta dukungan pertahanan mendesak dari AS setelah serangan itu terjadi. Para pejabat tersebut, termasuk seorang anggota senior Kementerian Luar Negeri, meminta agar identitas mereka tidak diungkapkan karena sensitivitas masalah ini.
Mereka menambahkan bahwa AS perlu melakukan intervensi "sesegera mungkin" untuk membantu koalisi pimpinan Saudi di Yaman dalam memerangi kelompok Houthi. Namun, Gedung Putih tidak segera menanggapi permintaan komentar dari CNBC International.
Juru bicara Koalisi Pendukung Legitimasi di Yaman pimpinan Arab Saudi yang memimpin pertempuran melawan Houthi, Kolonel Turki Al-Maliki, menyebut serangan itu sebagai "kejahatan perang".
"Oleh karena itu, Komando Pasukan Gabungan Koalisi akan merespons secara tegas serangan teroris ini sesuai dengan Hukum Humaniter Internasional yang berlaku umum (Customary International Humanitarian Law)," kata Al-Maliki dalam sebuah unggahan di platform X.
Arab Saudi, sekutu utama AS di Timur Tengah, melakukan intervensi dalam perang saudara Yaman antara kelompok Houthi dan pemerintah Yaman yang diakui secara internasional. Ini setelah kelompok tersebut merebut ibu kota Yaman, Sanaa, pada tahun 2014.
Bulan lalu, pemerintahan Trump menyetujui potensi penjualan hampir 50 pesawat tempur F-35 senilai US$ 24,3 miliar ke Arab Saudi. Langkah itu dipandang sebagai dorongan besar bagi kerajaan tersebut di tengah meningkatnya serangan dari kelompok Houthi.
Penjualan ini sedang dalam tahap peninjauan oleh Kongres.
Warning di Bandara-Bandara Saudi
Sementara itu, kelompok Houthi kembali mengeluarkan peringatan agar tidak menggunakan bandara-bandara di Arab Saudi. Houthi mengatakan bandara akan menjadi area yang rentan serangan kecuali Mekkah dan Madinah.
"Kami memperbarui peringatan kami kepada semua maskapai penerbangan, ahli, karyawan, pekerja, dan pelancong agar tidak menggunakan bandara dan wilayah udara Arab Saudi, karena tempat-tempat tersebut rentan terhadap serangan dan telah menjadi arena operasi bagi pasukan kami-kecuali bandara di (kota suci) Mekkah dan Madinah," demikian pernyataan kelompok Houthi dalam sebuah unggahan di platform X.
Selain serangan terhadap penerbangan sipil, kelompok Houthi juga berupaya menghambat lalu lintas kapal tanker minyak yang melintasi Selat Bab el-Mandeb. Ini merujuk laut yang menjadi pintu masuk utama menuju Laut Merah, seperti halnya yang secara efektif dilakukan Iran di Selat Hormuz di sebelah utara Semenanjung Arab.
(sef/sef)