Kisah Pilu Nenek 87 Tahun, Terusir hingga Meninggal-Picu Demo Massal
Jakarta, CNBC Indonesia - Sekitar 20.000 orang berunjuk rasa di pusat Kota Madrid, Spanyol, pada Kamis (8/10/2026) malam untuk mengenang María del Carmen Abascal, perempuan berusia 87 tahun yang meninggal setelah diusir dari apartemennya.
Melansir The Guardian, kasus yang dikenal dengan nama Maricarmen itu memicu gelombang protes nasional dan kembali menyoroti krisis perumahan di Spanyol.
Abascal meninggal di rumah sakit pada Rabu malam, sekitar dua pekan setelah kehilangan tempat tinggal yang telah dihuni selama 70 tahun. Apartemennya dibeli perusahaan investasi yang berencana menaikkan harga sewanya hingga 230%, sementara perempuan tersebut sebelumnya telah menghadapi tiga upaya penggusuran untuk mempertahankan rumahnya.
Kematian Maricarmen memicu kemarahan masyarakat yang menilai perlindungan terhadap investor lebih diutamakan daripada hak warga atas tempat tinggal. Warga menilai kasus tersebut menunjukkan bagaimana institusi dapat mengabaikan penderitaan seseorang.
"Ketika perlindungan bagi masyarakat lebih rendah dibandingkan perlindungan bagi investor, hal-hal seperti inilah yang terjadi," kata Sara, 41 tahun, yang mengikuti aksi bersama putranya.
Di depan apartemen tempat Maricarmen pernah tinggal, warga mendatangi lokasi penghormatan yang dipenuhi bunga, lilin, dan pesan tulisan tangan. Sejumlah aktivis perumahan juga hadir untuk mengenang perjuangan perempuan tersebut.
"Sungguh sulit dipercaya ketika uang dianggap lebih berkuasa daripada nyawa manusia," kata Miguel, 59 tahun, salah satu aktivis yang pernah membantu Maricarmen melawan penggusuran.
Bagi para demonstran, Maricarmen kini menjadi simbol perjuangan mendapatkan hunian layak di tengah krisis perumahan Spanyol. Jaime, 34 tahun, mengatakan perempuan itu telah menjadi lambang perjuangan meskipun tidak pernah menginginkan peran tersebut. Aktivis juga berharap kematiannya mendorong perhatian lebih besar terhadap warga yang kehilangan tempat tinggal, mengingat mereka memperkirakan sekitar 44 orang digusur setiap hari.
Kasus tersebut turut memanaskan perdebatan politik menjelang pemilihan umum dini yang diumumkan Perdana Menteri Pedro Sánchez pada 29 November. Sebelumnya, parlemen menolak langkah darurat yang diusulkan pemerintah pimpinan Partai Sosialis untuk menciptakan pasar sewa yang lebih adil.
Pemerintah berupaya mendorong kembali paket kebijakan perumahan, sementara partai-partai konservatif dan sayap kanan menuding Sánchez gagal mengatasi persoalan tersebut selama delapan tahun pemerintahannya.
Sánchez menyampaikan belasungkawa kepada keluarga dan sahabat Maricarmen, sekaligus kepada masyarakat yang merasakan kehilangan itu sebagai duka pribadi. Pemimpin Partai Rakyat yang konservatif, Alberto Núñez Feijóo, juga menyampaikan belasungkawa, tetapi kemudian menuduh pemerintah memanfaatkan kasus tersebut untuk memengaruhi emosi publik.
Pada Kamis, sejumlah politisi dari Partai Rakyat bersama kelompok sayap kanan jauh turut memveto upaya mengheningkan cipta bagi Maricarmen di parlemen regional Madrid dan senat nasional.
Perdebatan semakin tajam setelah sejumlah tokoh sayap kanan jauh mempertanyakan penyebab kematian Maricarmen tanpa menyertakan bukti yang mendukung tuduhan mereka. Partai Vox, yang menolak kebijakan darurat perumahan pemerintah, juga menuai sorotan setelah melontarkan klaim keliru mengenai kemungkinan perempuan tersebut memperoleh tempat tinggal jika berstatus sebagai imigran Afrika Utara.
Sementara itu, bagi para pendukung Maricarmen, kematiannya telah menjadikan krisis hunian sebagai salah satu isu utama yang membayangi politik Spanyol.
(tfa/luc)