Perang Saudi-Houthi Yaman Menggila, Suriah Bisa Kirim 20.000 Tentara
Jakarta, CNBC Indonesia - Suriah dilaporkan tengah mempertimbangkan pengerahan hingga 20.000 tentara ke Yaman untuk memperkuat operasi militer yang didukung Arab Saudi melawan kelompok Houthi. Menurut laporan Axios yang mengutip pejabat Amerika Serikat (AS), Washington pada prinsipnya tidak keberatan dengan rencana tersebut.
Riyadh dan Damaskus disebut sedang membahas kemungkinan pengerahan pasukan untuk membantu pemerintah Yaman yang diakui secara internasional merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi, kelompok bersenjata yang didukung Iran. Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa dilaporkan tengah mempertimbangkan usulan tersebut, tetapi belum mengambil keputusan.
Isu pengerahan pasukan itu turut dibahas dalam pertemuan al-Sharaa dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman di Riyadh pada Selasa. Menurut sumber yang dikutip Axios, Saudi ingin memperkuat kemampuan tempur pasukan pemerintah Yaman yang dinilai memiliki tingkat pelatihan lebih rendah dibandingkan pasukan Houthi.
Washington memandang keterlibatan Suriah berpotensi memperkuat operasi militer tanpa membuat AS terlibat lebih jauh dalam konflik. Komando Pusat AS (CENTCOM) juga dilaporkan telah dimintai pendapat mengenai kemungkinan pengerahan pasukan Suriah ke Yaman.
Pasukan yang dipertimbangkan mencakup ribuan petempur asing beraliran Islamis yang sebelumnya berperang melawan mantan Presiden Suriah Bashar Assad di bawah kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS). Keterlibatan mereka berpotensi memperuncing ketegangan sektarian karena para petempur tersebut beraliran Sunni, sedangkan Houthi menganut Islam Syiah Zaydi.
Namun, rencana tersebut masih diliputi ketidakpastian. Reuters melaporkan Damaskus juga mempertimbangkan bantuan militer untuk Arab Saudi, termasuk dukungan pertahanan atau partisipasi dalam operasi di Yaman. Meski demikian, penasihat kepresidenan Suriah Ahmad Zaidan membantah Riyadh meminta pengerahan pasukan dan menyebut laporan tersebut tidak berdasar.
Konflik kembali memanas setelah Houthi merebut wilayah di pesisir Laut Merah pada September, yang mengancam pelayaran di Selat Bab el-Mandeb, jalur strategis penghubung Laut Merah dan Teluk Aden. Koalisi pimpinan Saudi mengklaim telah mengerahkan 100 jet tempur dan menghancurkan 324 target Houthi. Sebagai balasan, Houthi melancarkan serangan rudal dan drone ke wilayah Saudi, termasuk ke arah bandara di Riyadh dan Abha.
Arab Saudi juga dilaporkan memperoleh dukungan militer dari Turki dan Pakistan melalui perjanjian pertahanan kolektif yang ditandatangani pada Agustus. Konflik Yaman sendiri bermula ketika Houthi merebut Sanaa pada 2014, yang kemudian memicu intervensi militer pimpinan Saudi pada 2015. Setelah sempat mereda melalui gencatan senjata pada 2022, pertempuran kembali meningkat tahun ini.
(tfa/sef)