Bos IMF: Meski Perang Teluk Berakhir, Harga Energi Masih Akan Tinggi
Jakarta, CNBC Indonesia - Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF) Kristalina Georgieva mengungkapkan, peperangan di berbagai wilayah yang turut mengganggu aktivitas produksi dan distribusi komoditas energi, akan membuat tekanan harga dalam jangka menengah panjang di dunia.
"Sekalipun perang di Teluk segera berakhir, masalah harga energi yang tinggi kemungkinan akan tetap ada untuk beberapa waktu ke depan," kata Kristalina dalam agenda Outlook For The Global Economy and Policy Priorities jelang Annual Meeting IMF-World Bank 2026, dikutip Kamis (8/10/2026).
Menurutnya, harga minyak Brent berjangka saja saat ini proyeksi harganya masih akan tinggi hingga 2027. Kondisi ini menurutnya akan membuat kenaikan inflasi, suku bunga kebijakan, dan kurva imbal hasil acuan.
Meski begitu, ia mengakui, guncangan harga energi memang besar tetapi terkendali berkat efisiensi energi, diversifikasi sumber bahan bakar, pelepasan cadangan, kelincahan rantai pasokan, dan respons permintaan dan penawaran alami yang biasa terjadi.
Terlepas dari pemulihan pasokan minyak dari Teluk yang tidak stabil, harga minyak tetap berada di sekitar US$100 per barel, yang menurut Kristalina mencerminkan risiko, biaya transportasi yang tinggi, dan faktor-faktor lainnya.
"Ditambah lagi dengan selisih harga sekitar US$100 per barel akibat kekurangan kapasitas penyulingan global, maka harga eceran solar dan produk olahan lainnya mencapai rekor tertinggi," tuturnya.
Selain itu, pasokan gas alam dari Teluk masih sangat terganggu, yang mencerminkan pilihan transportasi LNG yang lebih terbatas selama pengiriman melalui Selat Hormuz masih terancam. Hal ini berdampak tidak merata di seluruh dunia, dengan Asia dan Eropa khususnya yang paling terpukul.
"Dan, seperti yang dikatakan dalam Game of Thrones, musim dingin akan datang (winter is coming). Tekanan harga mungkin akan meningkat lebih lanjut karena negara-negara mengisi kembali cadangan dan permintaan meningkat seiring dengan datangnya musim dingin di belahan bumi utara," tegas Kristalina.
(arj/arj) [Gambas:Video CNBC]