Timur Tengah Makin Chaos, Bandara Saudi Jadi Sasaran-Korban Berjatuhan
Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik di Yaman kembali meluas ke wilayah Arab Saudi. Dua bandara internasional di kerajaan tersebut menjadi sasaran serangan yang diklaim dilakukan kelompok Houthi, menewaskan tiga orang dan melukai 36 lainnya.
Otoritas Arab Saudi mengatakan serangan terjadi di Bandara Internasional Abha dan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh. Houthi sebelumnya mengaku melancarkan serangkaian serangan, termasuk menembakkan rudal balistik ke bandara utama di ibu kota Saudi.
Otoritas penerbangan sipil Arab Saudi mengatakan serangan terhadap kedua bandara berlangsung pada Selasa dan Rabu.
"Pada Selasa dan Rabu... Bandara Internasional Abha dan Bandara Internasional King Khalid menjadi sasaran serangan yang menargetkan fasilitas mereka," kata otoritas penerbangan sipil kerajaan dalam sebuah pernyataan, dilansir AFP, Kamis (8/10/2026).
Pernyataan itu tidak secara langsung menyebut pihak yang bertanggung jawab.
Seorang warga Mesir dan seorang warga Aljazair tewas dalam serangan di Bandara Abha. Sementara itu, seorang warga Sudan meninggal dunia dalam serangan di bandara Riyadh. Sebanyak 36 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka.
Koalisi pimpinan Arab Saudi yang mendukung pasukan pemerintah Yaman mengatakan pihaknya telah menghancurkan fasilitas peluncuran rudal balistik yang digunakan dalam serangan terhadap Riyadh.
"Telah menghancurkan platform peluncuran rudal balistik" yang digunakan dalam serangan ke Riyadh, demikian pernyataan koalisi melalui X.
Kelompok Houthi, yang menguasai sebagian besar wilayah barat laut Yaman, tengah bertempur memperebutkan wilayah dengan pasukan yang didukung Arab Saudi setelah perang saudara kembali berkobar pada Juli. Dalam konflik terbaru tersebut, Houthi berhasil menguasai sejumlah wilayah pesisir.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengatakan lebih dari 200.000 orang telah mengungsi di dalam Yaman akibat pertempuran tersebut.
Pemerintah Yaman yang diakui secara internasional pada pekan ini menyatakan telah melancarkan serangan balasan besar-besaran. Pemerintah mengklaim berhasil mendorong pasukan Houthi keluar dari sejumlah wilayah strategis di Laut Merah dan kota pelabuhan Mocha.
Namun, Houthi yang didukung Iran membantah kehilangan wilayah tersebut dan menyatakan masih menguasai posisi mereka. Sumber militer dari kedua pihak yang dihubungi AFP juga tidak melaporkan adanya perubahan besar di medan perang.
Klaim kedua kubu sejauh ini sulit diverifikasi secara independen karena situasi di lapangan berubah cepat dan akses bagi jurnalis terbatas.
Rudal Houthi Ganggu Penerbangan
Juru bicara militer Houthi Yahya Saree mengatakan kelompoknya kembali menargetkan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dengan rudal balistik.
"Angkatan bersenjata kami baru saja menargetkan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh dengan rudal balistik. Serangan tersebut tepat sasaran, atas izin Tuhan, dan menyebabkan gangguan terhadap lalu lintas udara," kata Saree dalam unggahan di X pada Rabu.
Koalisi militer pimpinan Arab Saudi sebelumnya mengatakan rudal tersebut berhasil dicegat.
Dalam unggahan terpisah, Houthi juga mengklaim menyerang konvoi pasokan militer di dekat bandara di kota Aden, yang menjadi ibu kota sementara pemerintah Yaman.
Kantor berita pemerintah Yaman, Saba, melaporkan adanya serangan rudal dan drone yang menyasar bandara tersebut. Mengutip otoritas transportasi, Saba mengatakan salah satu rudal jatuh di dekat landasan pacu hanya beberapa menit sebelum pesawat dari Kairo dijadwalkan mendarat. Pesawat itu kemudian dialihkan ke Jeddah, Arab Saudi.
Saree juga mengatakan drone dan rudal Houthi menyerang Bandara Abha serta Pangkalan Udara King Khalid di Khamis Mushait. Ia mengklaim seluruh serangan "mengenai sasaran secara akurat".
Serangan ke bandara utama Riyadh tersebut menjadi yang kedua dalam pekan ini. Menurut situs pelacakan penerbangan Flightradar24, wilayah udara di sekitar bandara juga beberapa kali mengalami penutupan sementara.
Perang Yaman Kembali Membara
Arab Saudi memimpin koalisi internasional yang telah memerangi Houthi sejak 2015. Kini, koalisi tersebut kembali mendukung upaya pasukan pemerintah Yaman untuk merebut wilayah yang dikuasai kelompok tersebut.
Pada Senin, koalisi mengatakan memberikan dukungan udara bagi serangan balasan yang dilancarkan pasukan pemerintah Yaman.
Perang saudara Yaman kembali pecah pada Juli setelah gencatan senjata berlangsung selama empat tahun. Bulan lalu, Houthi merebut seluruh garis pantai barat Yaman di sepanjang Laut Merah dalam salah satu pertempuran paling mematikan di negara tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Pada Rabu, bentrokan baru di wilayah barat Yaman menewaskan sedikitnya 62 kombatan, termasuk 37 anggota Houthi, menurut sumber militer dari kedua pihak kepada AFP.
Kantor berita Saba juga melaporkan Houthi menembakkan rudal ke Kota Taiz yang dikuasai pemerintah. Serangan tersebut melukai lima warga sipil.
Pemerintah Yaman telah menetapkan target untuk merebut kembali seluruh wilayah yang dikuasai Houthi. Wilayah tersebut merupakan tempat tinggal sebagian besar penduduk Yaman dan sebagian di antaranya telah dikuasai Houthi selama lebih dari satu dekade.
Perang yang berlangsung juga memperparah krisis kemanusiaan di Yaman. Sebagian besar penduduk negara tersebut kini bergantung pada bantuan kemanusiaan.
(luc/luc)