Pasar di Jakarta Ini Sepi Bak Kuburan, Tiba-Tiba Muncul Fenomena Aneh
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemandangan pedagang berjualan di pinggir jalan menjadi hal yang mudah ditemui di sekitar Pasar Nangka Bungur, Kemayoran, Jakarta Pusat. Lapak-lapak sederhana hingga bangunan semi permanen berjajar di luar area pasar, sementara kendaraan dan pembeli terus keluar-masuk di sela-selanya.
Bagi sebagian pedagang, berjualan di luar bukan sekadar pilihan lokasi. Ada alasan praktis di balik keputusan meninggalkan kios di dalam pasar dan membuka lapak di tepi jalan.
Berdasarkan pantauan CNBC Indonesia, kondisi di dalam Pasar Nangka Bungur justru terlihat jauh lebih lengang. Dari deretan kios yang ada, diperkirakan hanya sekitar seperempat yang masih buka. Sebagian besar kios tampak tertutup, sementara aktivitas perdagangan lebih terlihat di luar pasar.
Salah seorang pedagang yang memilih berjualan di luar, Sugi (nama samaran), mengatakan dirinya tidak mempersoalkan harga sewa kios. Masalah utamanya adalah pembeli yang sepi.
"Di dalam sepi. Parkirnya susah, sempit, jadi nggak ada yang datang. Sepi, dagangan nggak laku," kata Sugi kepada CNBC Indonesia, Rabu (7/10/2026).
Menurutnya, kondisi berjualan di luar sudah berlangsung cukup lama. Ia juga melihat semakin banyak pedagang yang akhirnya memilih membuka lapak di luar pasar.
"Lumayan, sudah lama begini. Lupa sejak kapan, memang begini jualannya," ujarnya.
Bagi Sugi, bertahan di dalam pasar ketika pembeli sepi justru berisiko membuat dagangannya tidak terjual.
"Nggak juga (karena harga sewa kios), cuma sepi. Percuma kan sepi nggak ada yang beli, jadinya rugi," ucap dia.
Alasan serupa terlihat dari pedagang lainnya. Tono (nama samaran) mengatakan bagian dalam pasar memang sepi. Salah satu persoalannya, menurut dia, adalah pembeli harus menghadapi akses parkir yang tidak praktis.
"Kurang tau (alasan awal memilih berdagang di luar pasar), karena saya cuma lanjutin. Tapi yang pasti di dalam sepi. Orang mungkin malas ya ribet parkirnya, malas turun dari motor juga mungkin. Kalau di sini kan mereka bisa belanja sambil nangkring di motor," tutur Tono.
Kondisi tersebut membuat lapak di pinggir jalan menawarkan cara berbelanja yang lebih sederhana. Pembeli tidak harus mencari tempat parkir lalu berjalan masuk ke dalam pasar. Mereka cukup menghentikan motor di depan lapak untuk membeli barang.
Tono bahkan menyamakan pola tersebut dengan drive thru.
"Iya, kayak lagi beli makan di McDonald tuh, sambil nyetir belanjanya," sebutnya.
Bagi pedagang, posisi di luar membuat mereka lebih dekat dengan arus orang dan kendaraan yang melintas. Pembeli yang sekadar lewat pun bisa langsung berhenti ketika melihat barang yang dibutuhkan.
Pilihan itu pula yang membuat sejumlah lapak terus bertahan di sepanjang sisi jalan sekitar pasar. Meski ruang yang tersedia terbatas, pedagang tetap menggelar dagangannya karena di sanalah pembeli lebih mudah dijangkau.
Konsekuensinya, aktivitas perdagangan pun meluber hingga ke jalan. Lapak-lapak semi permanen berdiri di sepanjang tepian pasar, berdampingan dengan motor dan pejalan kaki yang membuat ruang jalan semakin terbatas.
Namun bagi pedagang, pilihan tersebut sederhana: selama pembeli lebih banyak ditemui di luar, berjualan di pinggir jalan menjadi cara untuk tetap bertahan.
(wur)