RI Bisa Raup Investasi US$618 M dari Hilirisasi 28 Komoditas

haa, CNBC Indonesia
Rabu, 07/10/2026 07:55 WIB
Foto: Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat memberikan keynote speech, dalam 14th Annual US-Indonesia Investment Summit “Building Confidence: Strengthening Indonesia’s Investment Climate”, Jakarta, Selasa (6/10). (Dok. Kemenko)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah memproyeksikan program hilirisasi 28 komoditas strategis mampu menghasilkan investasi hingga US$618,1 miliar dan nilai ekspor mencapai US$857,6 miliar, serta nilai tambah ekonomi sebesar US$235,9 miliar.

Angka tersebut menjadi salah satu andalan pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperkuat daya saing Indonesia di pasar global.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan hilirisasi menjadi instrumen penting untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam Indonesia, baik yang bersifat terbarukan (renewable) maupun tidak terbarukan (non-renewable).


"Peran pengembangan industri ataupun ekonomi selanjutnya menjadi kunci karena kita sedang mendorong bahwa nilai tambah daripada sumber daya alam itu menjadi penting," kata Airlangga, Selasa (6/10/2026).

Adapun, dengan tambahan nilai tambah yang disebutkan di atas, Airlangga mengatakan total kenaikan ekspor yang berasal dari program hilirisasi diperkirakan mendekati US$500 miliar.

"Penguatan hilirisasi memiliki potensi besar untuk mendorong ekspor Indonesia hingga berlipat ganda," ujarnya.

Airlangga menegaskan hilirisasi tidak hanya difokuskan pada sektor mineral dan batu bara, tetapi juga mencakup komoditas berbasis pertanian, perkebunan, kehutanan, hingga sektor perikanan dan kelautan.

Komoditas seperti kelapa sawit, karet, kelapa, dan berbagai produk perikanan dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi produk bernilai tambah tinggi dan berorientasi ekspor.

Meski demikian, Airlangga mengingatkan bahwa hilirisasi tidak bisa disamakan dengan industrialisasi secara keseluruhan.

"Hilirisasi salah satu bagian dari industri. Berbagai manufaktur lain yang didorong adalah sektor otomotif, tekstil dan produk tekstil, fast moving consumer goods serta sektor strategis lainnya," kata Airlangga.

Pemerintah menargetkan kontribusi sektor industri terhadap produk domestik bruto (PDB) dapat meningkat melampaui level 20% dalam beberapa tahun mendatang.

Airlangga mencontohkan keberhasilan hilirisasi yang telah terlihat pada industri nikel. Nilai ekspor produk berbasis nikel melonjak dari sekitar US$1,3 miliar pada 2016 menjadi US$34 miliar pada 2025.

Selain meningkatkan ekspor, hilirisasi juga dinilai mendorong pemerataan investasi dan pertumbuhan ekonomi di luar Pulau Jawa.

Data pemerintah menunjukkan sekitar 75,7% investasi hilirisasi pada Semester I-2026 terealisasi di luar Jawa, sekaligus memunculkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis sumber daya alam.


(haa/haa)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Bersaing Tarik Investasi, Kawasan Industri Butuh Kemudahan Izin