Internasional

Chaos! Demo Besar Siswa Guncang Negara Eropa, Tangan Sampai Putus

sef, CNBC Indonesia
Selasa, 06/10/2026 14:59 WIB
Foto: Aksi protes pelajar Prancis (REUTERS/Yves Herman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Demonstrasi besar-besaran siswa kini mengguncang negara-negara Eropa. Setidaknya Senin, demonstrasi terlihat di Prancis dan Belgia.

Demonstrasi juga berujung kerusuhan dan kekerasan. Apa yang terjadi?


Prancis

Demonstrasi di Prancis melibatkan para siswa berusia 15-17 tahun. Para pengunjuk rasa menuntut peningkatan pendanaan untuk sekolah negeri dan kondisi belajar yang lebih baik, termasuk penambahan guru, ukuran kelas yang lebih kecil, serta perbaikan bangunan sekolah yang rusak parah.

Sebenarnya demonstrasi sudah melanda sejak akhir September. Namun Selasa (6/10/2026), AFP melaporkan akan ada demonstrasi baru lebih besar.

Dalam demonstrasi Senin, dilaporkan bagaimana insiden terjadi saat tangan seorang pelajar berusia 15 tahun putus akibat granat pengendali massa milik polisi saat unjuk rasa di kota Lens, Prancis. Dalam konferensi pers kemarin, Francois-Xavier Lauch, pejabat prefek wilayah Pas-de-Calais di utara, membenarkan laporan di tengah unjuk rasa di luar SMA Behal di Lens.

"Tidak ada tangan yang tersisa, bahkan pergelangan tangannya pun tidak ada; tidak ada apa-apa di sana," ujar seorang siswa kepada BFMTV, menggambarkan pemandangan mengerikan tersebut.

Remaja laki-laki itu segera dilarikan ke rumah sakit di Lille. Menurut keterangan pihak berwenang, kondisinya tidak mengancam jiwa.

Lauch menyatakan bahwa kekerasan pecah setelah sekitar 200 siswa mulai melemparkan benda-benda ke arah petugas polisi yang dikerahkan ke sekolah tersebut untuk membuka blokade yang dipasang oleh para pengunjuk rasa. Sumber kepolisian mengatakan kepada AFP bahwa korban memungut granat tersebut, tampaknya dengan niat melemparkannya kembali ke arah petugas.

Namun, kesaksian seorang rekan pengunjuk rasa menunjukkan bahwa remaja itu justru terkena granat tersebut. Jaksa setempat menyatakan bahwa penyelidik belum dapat memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Inspektorat Jenderal Kepolisian Nasional telah memulai penyelidikan.

Kepolisian Prancis memiliki beberapa jenis perangkat pengendali massa yang bersifat eksplosif namun tidak mematikan dalam persenjataan mereka, termasuk granat yang mampu menyebarkan peluru karet serta granat gas air mata dan granat kejut (stun grenade) jenis GM2L. Jenis perangkat yang terlibat dalam insiden di Lens belum dipastikan secara resmi, meskipun laporan media Prancis menyebutkan bahwa keterangan saksi dan rekaman video tampak mengarah pada penggunaan GM2L.

Di tengah meningkatnya kekerasan jalanan di seluruh Prancis, Marine Tondelier, sekretaris nasional partai Ekologis (Ecologists), menyerukan reformasi protokol pengendalian massa oleh polisi. Pendiri partai sayap kiri France Unbowed, Jean-Luc Melenchon, menulis di platform X pada hari Senin bahwa "eskalasi taktik kepolisian sudah di luar kendali," bahkan melampaui tingkat ketegangan pada demonstrasi Mei 1968.

Kantor Perdana Menteri (FM) Sebastien Lecornu menuduh France Unbowed dan "pihak-pihak proksi sayap kiri jauhnya" mendalangi kerusuhan tersebut. Namun France Unbowed membantah.

Menurut pihak berwenang Prancis, lebih dari 5.060 orang telah ditangkap sejak akhir September. Sekitar 650 petugas polisi, 78 staf pendidikan, dan setidaknya 190 pelajar juga terluka dalam kerusuhan tersebut.

Belgia

Protes juga menyebar dari Prancis hingga Belgia. Aksi protes pelajar menentang reformasi pendidikan berlanjut Senin di seluruh Belgia.

Mengutip Anadolu Agency (AA), yang mengutip penyiar RTBF, demonstrasi dilaporkan terjadi di beberapa kota dan polisi melakukan 16 penahanan administratif. Toko-toko di pusat kota Liege ditutup sebagai langkah pencegahan saat para pengunjuk rasa bergerak melintasi kota, termasuk di area sekitar stasiun kereta api Guillemins.

Awalnya, ratusan pelajar berkumpul di luar beberapa sekolah di seluruh kota. Polisi mengatakan mereka menemukan benda-benda yang berpotensi digunakan untuk membuat bom molotov, termasuk botol kaca dan potongan kain-di dalam tas beberapa pengunjuk rasa.

Namun, menurut pihak berwenang, tidak ditemukan bahan yang mudah terbakar. Tapi, beberapa pengunjuk rasa juga mencoba merusak pintu gulung (rolling shutter) Institut Saint-Michel, dengan dua orang ditangkap terkait insiden tersebut, menurut keterangan wali kota.

Di wilayah lain di kawasan Liege, petugas pemadam kebakaran melaporkan adanya kebakaran skuter di Herstal dan Chenee. Di Herstal, sekitar 20 pelajar memblokir pintu masuk sekolah IPES.

Di Jembatan Albert I, Liege, para pelajar membentangkan spanduk untuk memprotes biaya pendidikan sebesar 1.200 euro (Rp 245 juta). Di kota Mons, sekitar 100 anak muda melakukan pawai melintasi pusat kota, menurut portal berita Sudinfo.

Sebuah sepeda listrik dan tumpukan sampah dibakar, sehingga memicu intervensi dari petugas pemadam kebakaran. Sementara itu, ketegangan juga meningkat di Charleroi, di mana petasan dan kembang api dinyalakan di luar ruangan. Sebuah kontainer sampah juga dibakar.


(sef/sef)
Saksikan video di bawah ini:

Iran Siap Perang Diplomasi Tetap Terbuka - Haji Isam Borong Saham BYAN