5 Photos
Penampakan Kerupuk Kulit Made in Pancoran, Tembus Pasar Inggris-Saudi
Kerupuk kulit Cap Tiga Bintang bertahan sejak 1999 dan kini diekspor ke Arab Saudi serta Inggris. Ini penampakannya.
Pekerja menjemur kerupuk kulit di rumah produksi Cap Tiga Bintang, Pancoran, Jakarta, Senin (5/10/2026). Usaha kerupuk kulit yang telah berdiri sejak tahun 1999 tersebut kini telah dipasarkan ke warung kelontong, restoran mewah, hingga ke beberapa negara seperti Arab Saudi dan Inggris. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Kerupuk kulit Cap Tiga Bintang saat ini dijalan oleh Siti Zubaidah yang merupakan generasi kedua dijual dengan harga Rp 140 ribu/kg. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Industri rumahan tersebut juga menjual kerupuk kulit mentah yang siap digoreng dangan harga Rp 135/kg. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Dalam sehari, kerupuk kulit produksi Cap Tiga Bintang memproduksi 200 kg kulit sapi mentah dan dapat menghasilkan 100 kg kerupuk kulit per hari yang siap diedarkan. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Proses pembuatan kerupuk kulit sapi dimulai dengan membersihkan dari sisa tetelan dan lemaknya. Setelah itu, kulit direbus di air mendidih untuk selanjutnya dibersihkan dari bulu-bulu yang menempel. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Setelah direbus, kulit-kulit sapi digantung dan dibakar untuk menghilangkan bulu-bulu halus yang masih menempel di dasar kulit. Kulit tersebut dipotong-potong kecil dan dijemur di bawah sinar matahari. Jika musim panas, penjemuran hanya dua hari. Namun, jika musim hujan, proses ini bisa mencapai empat hari. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Sebagai produsen kerupuk kulit yang masih tersisa di Jakarta, Siti tetap setia memproduksi secara tradisional agar cita rasanya tidak berubah. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Perkembangan zaman tidak membuat Siti terlena untuk memproduksi secara masif. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Kerupuk-kerupuk kulit Cap Tiga Bintang ini sebagian besar ia jual ke restoran-restoran di Jabodetabek hingga Bandung. Untuk saat ini penjualan kerupuk kulit tetap menyesuaikan harga jual untuk menyiasati biaya produksi agar usaha tersebut tetap berjalan. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)