RI Ternyata Sempat Kehilangan 25% Sumber Impor BBM

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Senin, 05/10/2026 13:55 WIB
Foto: Sejumlah kendaraan roda empat mengisi bensin subsidi di Kawasan SPBU, Bojongsari, Depok, Jawa Barat, Rabu, (12/8/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) membeberkan bahwa Indonesia ternyata sempat kehilangan sekitar 25% sumber impor Bahan Bakar Minyak (BBM). Hal itu terjadi imbas eskalasi konflik di wilayah Timur Tengah.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengungkapkan bahwa dinamika pasokan tersebut memaksa pemerintah mengubah strategi pengadaan energi nasional secara langsung.

"Lalu yang kedua, sejak terjadinya konflik di Timur Tengah, kita kehilangan 25% sumber impor, Bapak Ibu sekalian," ungkapnya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 Kemendagri, disiarkan daring, Senin (5/10/2026).


Untuk mengamankan pasokan dalam negeri, Laode menjelaskan bahwa pemerintah saat ini beralih menggunakan mekanisme berburu (hunting) pasokan secara langsung ke negara-negara yang memiliki kelebihan stok.

Langkah tersebut diambil karena mekanisme lelang pengadaan biasa yang sebelumnya dijalankan PT Pertamina (Persero) relatif tidak terjamin akibat ketidakpastian pasokan global.

"Kita lakukan hunting untuk menjaga agar stok nasional itu ada dan hunting ini tidak lagi mekanisme pengadaan seperti sebelumnya. Jika sebelumnya Pertamina itu melakukan lelang, maka sekarang lelang itu relatif pesertanya tidak ada. Jadi, kita harus cari negara-negara yang punya kelebihan stok," kata Laode.

Meski menghadapi tantangan pasokan dan potensi harga beli yang lebih tinggi, pemerintah memastikan ketahanan stok BBM nasional tetap aman berada di kisaran 18-20 hari. Di saat yang sama, harga BBM bersubsidi jenis Solar dan bensin juga terus ditahan agar tidak memicu kenaikan inflasi.

"Jadi, ada dua hal ini, pertama adalah subsidi di solar dan bensin tetap kita jaga tetap, yang kedua adalah ketahanan stok 18-20 hari itu tetap ada," tegasnya.

Impor minyak dari Timur Tengah

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia pernah membeberkan bahwa impor minyak mentah RI yang berasal dari kawasan timur tengah hanya mencapai 25% dari total kebutuhan nasional.

Semula, Bahlil menjelaskan bahwa impor minyak mentah Indonesia berasal dari berbagai negara. Adapun, pasokan minyak mentah yang diimpor antara lain berasal dari Afrika, Angola, kawasan Timur Tengah, Amerika Serikat, Brasil, Australia, serta sejumlah negara lainnya.

"Berapa total yang kita impor dari Middle East untuk crude? Itu totalnya 20 sampai 25 persen. Dari total kebutuhan nasional kita, kita impor crude dari Middle East itu 20 sampai 25 persen," kata Bahlil dalam acara Podcast Bukan Abuleke, Rabu (11/3/2026).

Oleh sebab itu, Bahlil menegaskan, masyarakat tidak perlu khawatir terhadap kondisi pasokan BBM nasional meskipun terjadi gangguan distribusi minyak di kawasan Timur Tengah.

Terlebih, Indonesia tidak mengimpor BBM jadi seperti bensin dari kawasan Timur Tengah, melainkan minyak mentah (crude oil) yang kemudian diolah di kilang dalam negeri.

Bahlil mengungkapkan pemerintah berencana mengalihkan sebagian pasokan impor minyak mentah ke sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Angola, beberapa negara di Afrika, serta kawasan Amerika Latin.

"Di mana itu? Yaitu di Amerika, di Angola, apalagi di beberapa negara di Afrika itu, Amerika Latin, di Afrika itu, sebagian punya Pertamina. Jadi itu yang kita geser. Jadi sekalipun Selat Hormuz ditutup, untuk kita punya 20 sampai 25% itu sudah kita alihkan ke negara lain," ujarnya.


(pgr/pgr)
Saksikan video di bawah ini:

Video: B50 Resmi Berlaku Penuh Mulai Hari Ini