RI Kehilangan 25% Sumber Impor BBM, Begini Siasat ESDM
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan bahwa Indonesia sempat kehilangan sebanyak 25% sumber impor Bahan Bakar Minyak (BBM), akibat konflik di Timur Tengah. Hal ini membuat Indonesia harus aktif berburu atau hunting ke negara-negara yang memiliki kelebihan stok BBM.Â
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengungkapkan bahwa mekanisme lelang pengadaan yang biasa dijalankan PT Pertamina (Persero). Namun sayangnya, pengadaan melalui mekanisme lelang itu cenderung tak ada peminatnya.Â
Makanya, pemerintah dan Pertamina harus aktif berburu pasokan langsung ke negara-negara yang memiliki kelebihan stok minyak.
"Kita lakukan hunting untuk menjaga agar stok nasional itu ada dan hunting ini tidak lagi mekanisme pengadaan seperti sebelumnya. Jika sebelumnya Pertamina itu melakukan lelang, maka sekarang lelang itu relatif pesertanya tidak ada. Jadi, kita harus cari negara-negara yang punya kelebihan stok," ujar Laode dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Tahun 2026 Kemendagri, disiarkan daring, dikutip Selasa (6/10/2026).
Laode membeberkan bahwa pembelian minyak lewat skema hunting ini memiliki potensi harga beli yang lebih tinggi ketimbang pengadaan biasa. Namun, strategi tersebut tetap diambil demi menjamin ketersediaan pasokan energi di dalam negeri. "Kita beli dengan harga akan bisa berpotensi lebih tinggi daripada harga kalau kita lakukan dengan pengadaan biasa," imbuhnya.
Di tengah tantangan impor tersebut, pemerintah menjamin ketahanan stok BBM nasional selalu terjaga di kisaran aman 18-20 hari. Selain menjaga cadangan stok, pemerintah juga mempertahankan harga BBM bersubsidi agar tidak naik demi menekan inflasi serta melindungi petani dan nelayan.
"Jadi, ada dua hal ini, pertama adalah subsidi di solar dan bensin tetap kita jaga tetap, yang kedua adalah ketahanan stok 18-20 hari itu tetap ada," katanya.
Adapun, Laode angkat suara soal antrean BBM yang sempat terjadi di sejumlah daerah murni disebabkan hambatan distribusi akibat El Nino, bukan karena kelangkaan pasokan. Kondisi El Nino menyebabkan alur sungai mengering sehingga pengiriman terpaksa dialihkan dari kapal ke armada truk yang kapasitas angkutnya lebih terbatas.
"Kondisi El Nino ini menyebabkan proses pengiriman dan distribusi yang contohnya misalnya lewat sungai, sungainya kering, lalu dikirim pakai truk, dan truknya ini kapasitasnya tidak sebesar kalau kita mengirimkan dengan menggunakan kapal-kapal di sungai," tandasnya.
(pgr/pgr) [Gambas:Video CNBC]