Data Center Sedot Banyak Air dan Energi, Ini Tanggapan Wamen ESDM

Firda Dwi Muliawati, CNBC Indonesia
Jumat, 02/10/2026 18:00 WIB
Foto: Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung meyampaikan keterengan usai upacara peringatan hari jadi Energi & Pertamabangan ke-81 Tahun 2026 di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta, Selasa (29/9/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menanggapi keluhan masyarakat terkait dampak operasional pusat data (data center) yang dikhawatirkan memicu kelangkaan air di sekitar kawasan operasional.

Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menegaskan bahwa kebijakan pengembangan fasilitas data center di Indonesia akan diselaraskan dengan pemetaan potensi pasokan listrik serta daya dukung ketersediaan air setempat.

Yuliot memaparkan bahwa fasilitas data center sendiri membutuhkan dua komponen pasokan utama dalam kapasitas yang sangat masif, yaitu energi listrik berskala besar dan ketersediaan air yang memadai. Oleh karena itu, penentuan lokasi dan perizinan pengembangan data center tidak boleh mengabaikan kesiapan kedua infrastruktur dasar tersebut.


"Data center itu kan membutuhkan dua, itu listrik besar itu dan juga ketersediaan air. Jadi ya kita juga melihat itu pengembangan data center itu sesuai dengan itu potensi listrik dan ketersediaan air," ujar Yuliot saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (2/10/2026).

Di samping pemenuhan kebutuhan air, kecukupan dan keandalan pasokan listrik dinilai penting dalam menjaga keberlanjutan operasional data center.

Adapun, Yuliot juga menanggapi peluang pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) sebagai opsi sumber energi bersih untuk menopang beban listrik data center yang besar, Yuliot tidak menampik kemungkinan tersebut. "Mungkin," kata Yuliot saat ditanya peluang PLTN sebagai salah satu opsi sumber energi bagi data center.

Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengajak para investor untuk membangun pusat data (data center) di Indonesia. Menurut Bahlil, Indonesia memiliki potensi pasokan energi yang sangat besar untuk mendukung kebutuhan listrik industri tersebut.

Salah satu potensi energi hijau terbesar berasal dari Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Sungai Mamberamo di Papua yang mencapai sekitar 23 gigawatt (GW). Selain itu, Sungai Kayan di Kalimantan memiliki potensi tenaga air sekitar 12 GW.

Bahlil menyampaikan bahwa pasokan energi di sejumlah negara mulai mengalami tekanan, terutama seiring meningkatnya kebutuhan energi baru terbarukan (EBT) guna mendukung pesatnya perkembangan industri digital. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi peluang emas bagi Indonesia untuk menawarkan sumber daya energi bersih yang melimpah di dalam negeri.

"Kita tahu bahwa di beberapa negara sekarang kebutuhan terhadap energi sudah mulai ngos-ngosan, apalagi energi baru terbarukan. Data center, wah, ini banyak sekali. Bapak-Ibu semua, para investor tidak perlu ragu kalau mau membangun data center di Indonesia," ujar Bahlil dalam acara Electricity Connect 2026 in Partnership with Enlit Asia di ICE BSD, dikutip Kamis (24/9/2026).

Untuk mendukung investasi tersebut, Indonesia memiliki wilayah kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau serta sumber energi yang sangat beragam, mulai dari tenaga surya, air, panas bumi, hingga angin.

"Ada yang mau membangun di Kalimantan, ada yang di Sumatra. Kalau ada yang butuh tenaga air, PLTA di Papua, di Sungai Mamberamo itu potensinya 23 gigawatt. Kalau di Kalimantan, di Kayan, kurang lebih sekitar 12 gigawatt. Banyak sekali," jelasnya.

Menurut Bahlil, ketersediaan energi bersih kini menjadi salah satu faktor penentu utama bagi industri data center global yang semakin memprioritaskan penggunaan energi hijau. Pemerintah pun berkomitmen untuk terus mengejar target emisi nol bersih (net zero emission) pada 2050 hingga 2060.

Komitmen tersebut, kata Bahlil, diwujudkan melalui berbagai program konkret, termasuk Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025-2034 yang menargetkan penambahan pembangkit sebesar 69,5 GW, di mana 70% di antaranya bersumber dari EBT. Pemerintah juga tengah menggenjot program Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GW yang ditargetkan rampung dalam tiga tahun.

"Ini bukan hanya sekadar tema, tetapi langsung dibuat program yang konkret," tegas Bahlil.


(pgr/pgr)
Saksikan video di bawah ini:

Data Center Jadi Ladang Emas Baru Investasi Global Tembus Rp2.300 T