Kemenkeu Cari Cara Bereskan Utang Whoosh, APBN Jangan Sampai Terbebani
Bogor, CNBC Indonesia - Pemerintah masih menggodok skema penyelesaian kewajiban utang proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) Whoosh. Pembahasan dilakukan untuk memastikan layanan kereta cepat tetap berjalan sekaligus meminimalkan dampaknya terhadap keuangan negara.
Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) Juda Agung mengatakan pemerintah tengah mengkaji berbagai opsi penyelesaian yang memungkinkan kewajiban fiskal proyek tersebut dikelola secara hati-hati tanpa mengganggu operasional Whoosh.
"Yang penting jangan sampai Whoosh ini berhenti servisnya. Pelayanan dari Whoosh harus terus berjalan, tetapi beban fiskalnya bisa diminimalkan," kata Juda saat ditemui di Bogor, Kamis (1/10/2026).
Menurut Juda, pembahasan penyelesaian kewajiban proyek Whoosh masih berlangsung. Pemerintah belum mengambil keputusan final karena masih mengevaluasi sejumlah alternatif mekanisme yang dapat digunakan.
Ia menegaskan, salah satu fokus pemerintah adalah menjaga keberlanjutan layanan Whoosh sembari mencari solusi untuk meminimalkan beban fiskal yang muncul dari proyek tersebut.
Sebagai bagian dari proses tersebut, pemerintah juga tengah melakukan uji tuntas (due diligence) terhadap proyek Whoosh untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai kondisi proyek dan kewajiban yang harus diselesaikan.
"Hari ini masih dilakukan due diligence. Jadi dicari cara-cara untuk menyelesaikan masalah ini," kata Juda.
Sebagai informasi, proyek Whoosh memiliki nilai investasi sekitar US$7,26 miliar hingga US$7,27 miliar, termasuk pembengkakan biaya (cost overrun). Dengan asumsi kurs Rp16.500 per dolar AS, nilai tersebut setara sekitar Rp119,79 triliun hingga Rp119,96 triliun.
Sekitar 75% pembiayaan proyek berasal dari pinjaman China Development Bank (CDB), sedangkan sisanya berasal dari ekuitas pemegang saham. Struktur awal proyek mencatat nilai investasi sekitar US$6,07 miliar sebelum mengalami cost overrun.
Adapun cost overrun proyek diperkirakan mencapai sekitar US$1,21 miliar. Dengan asumsi kurs Rp16.500 per dolar AS, nilai pembengkakan tersebut setara sekitar Rp19,97 triliun.
Dengan demikian, angka US$7,27 miliar merupakan total nilai investasi proyek setelah memperhitungkan cost overrun, bukan total utang Whoosh.
(ras/haa)