6 Photos
Jangan Tertipu! Begini Cara-Tanda Ban Bekas Disulap Jadi Seperti Baru
Tumpukan ban mobil bekas tersebut berasal dari sejumlah bengkel ban di wilayah Jabodetabek.
Pekerja mencuci ban bekas di sentra pengumpul ban bekas di kawasan Sasak Panjang, Tajur Halang, Bogor, Jawa Barat, Kamis (1/10/2026). Tumpukan ban mobil bekas tersebut berasal dari sejumlah bengkel ban di wilayah Jabodetabek. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Selain ban baru dan ban bekas, masyarakat juga menemukan ban vulkanisir atau ban rekondisi yang beredar di pasaran. Ban ini dibuat dengan memanfaatkan ban bekas yang kemudian diproses kembali agar tampilannya menyerupai ban baru. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Sejumlah ban bekas yang sudah botak dan dianggap tidak layak pakai kembali dikerik pada bagian permukaannya. Proses tersebut membentuk kembali alur tapak ban sehingga tampilannya terlihat seperti ban yang masih baru. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Ban hasil rekondisi ini bahkan dapat memiliki alur yang lebih dalam meski permukaannya telah melewati batas Thread Wear Indicator (TWI). Setelah proses pengerikan, penjual biasanya membuat permukaan ban tampak lebih mengilap sehingga semakin menyerupai ban baru. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Seorang pekerja ban kerik yang enggan disebutkan namanya mengatakan harga murah menjadi salah satu daya tarik ban hasil rekondisi. Menurutnya, proses tersebut tidak membutuhkan biaya produksi seperti pembuatan ban baru karena memanfaatkan ban bekas. "Harga tentu lebih murah, karena tidak ada biaya produksi lagi, cuma diulir ulang," ujarnya. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Ia juga mengungkapkan cara sederhana untuk membedakan ban baru dengan ban hasil rekondisi. Konsumen dapat memperhatikan garis warna yang terdapat pada permukaan ban. "Ban baru yang keluar dari pabrik biasanya terdapat garis warna yang menentukan jenis dan ukuran ban," ungkapnya. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)