MARKET DATA

Rupiah Loyo & Perang Bikin Warga RI Takut Pelesiran ke Luar Negeri

Arrijal Rachman ,  CNBC Indonesia
01 October 2026 14:55
Penumpang di Bandara Internasional Soekarno Hatta. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)
Foto: Penumpang di Bandara Internasional Soekarno Hatta. (REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana)

Jakarta, CNBC Indonesia - Jumlah perjalanan wisatawan nasional (wisnas) atau masyarakat Indonesia yang berpelesiran ke luar negeri mengalami penurunan sepanjang tahun ini, dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Penyebabnya, konflik yang terjadi di berbagai wilayah dunia hingga pelemahan kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat membuat masyarakat Indonesia mengurungkan niat untuk berpergian ke luar negeri.

"Nilai tukar rupiah juga kami catat sebagai penyebabnya, kemudian juga dari faktor cuaca yang pada beberapa wilayah negara ekstrem dan geopolitik yang secara global ini terjadi kan," kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono di kantornya, Jakarta, Kamis (1/10/2026).

Berdasarkan catatan terbaru BPS, jumlah perjalanan wisnas pada periode Januari-Agustus 2026 hanya sebesar 5,90 juta turun 3,56% dibanding periode yang sama tahun lalu sebanyak 6,12 juta perjalanan pada periode yang sama tahun lalu.

Sebetulnya sejak 2021 hingga 2025, tren perjalanan wisnas terus meningkat. Pada 2021 masih sebanyak 1 juta perjalanan, 2022 menjadi 1,47 juta perjalan, 2023 melesat 235% menjadi 4,95 juta perjalanan, dan pada 2024 menjadi 5,99 juta sebelum akhirnya menyentuh 6,12 juta perjalanan pada 2025.

BPS mencatat, merosotnya jumlah perjalanan wisnas tentu tidak hanya dipicu oleh nilai tukar rupiah yang tengah tertekan terhadap dolar AS maupun konflik geopolitik yang terus terjadi di berbagai wilayah, melainkan juga disebabkan turunnya frekuensi penerbangan internasional hingga tingginya harga tiket pesawat.

"Kami mencatat pengaruh menurunnya wisnas karena frekuensi penerbangan internasional yang untuk berangkat, seperti dari Kualanamu turun, kemudian harga tiket pesawat yang relatif lebih mahal," papar Ateng.

(arj/haa) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Rupiah Jebol Rp17.700 & CAD US$4 Miliar, Ekonom Ungkap Penyebabnya


Most Popular
Features