DBS Ungkap Alasan Emas Selalu Menarik untuk Investasi

Teti Purwanti, CNBC Indonesia
Rabu, 30/09/2026 14:43 WIB
Foto: dok Istimewa

Jakarta, CNBC Indonesia -Head of Market Intelligence, Consumer Banking Group, PT Bank DBS Indonesia, Boy Suhendry meyakini harga emas akan tetap tangguh, meski sempat anjlok pada perdagangan Senin (28/9/2026).

Seperti diketahui, emas tercatat ambruk 4% dan menyentuh level terendah dalam lebih dari tujuh pekan, dihantam lonjakan harga minyak, dolar AS, hingga ancaman kenaikan suku bunga The Fed.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Senin (28/9/2026) ditutup di posisi US$4.114,27 per troy ons. Harganya ambruk 4,01% dalam sehari. Pelemahan dalam sehari sebesar 4,01% ini adalah yang terdalam sejak 3 Maret 2026 atau enam bulan lebih.


"Emas diperkirakan tetap tangguh bahkan bisa mencapai rekor tertinggi seperti sebelumnya, didukung pembelian berkelanjutan oleh Bank Central di tengah kekhawatiran geopolitik, dan keberlanjutan fiskal," jelas Boy kepada media, di Jakarta, Rabu (30/9/2026).

Dia menambahkan bahwa emas bukan hanya komoditas, namun juga menggambarkan ketidakpastian global, kebijakan moneter bank central, dan perkiraan inflasi, serta menggambarkan tingkat kepercayaan investor. Selain itu, emas juga merangkum global, bahkan dengan kondisi saat ini emas menurutnya adalah investasi yang paling likuid.

Oleh karena itu, setidaknya ada lima hal yang membuat emas tidak memerlukan cerita investasi yang baru:

  • Kelangkaan (Scarcity): emas tidak dapat dicetak atau diproduksi sesuka hati. Pasokannya sangat dibatasi oleh alam serta tingginya biaya, waktu, dan energi yang diperlukan untuk menambangnya.
  • Likuiditas (liquidity): emas merupakan salah satu aset dengan likuiditas tertinggi dan diperdagangkan secara luas di seluruh dunia. Dapat dibeli, dijual, atau dipinjamkan di hampir semua pusat keuangan utama, dan zona mata uang global tanpa memerlukan lembaga Kliring pusat.
  • Pengakuan Global (Global recognition): emas tidak memerlukan penerjemahan, model penilaian yang rumit, ataupun pernyataan sangkalan hukum. Tampilan dan bobotnya dipahami secara universal lintas budaya, batas negara, dan sistem ekonomi.
  • Bebas dari Risiko Gagal Bayar (Free from Default Bank): Emas adalah aset yang tidak memiliki kewajiban. Nilainya tidak bergantung pada neraca, tanda tangan, atau janji pembayaran pihak lain sehingga risiko gagal bayar dapat dihilangkan sepenuhnya.
  • Penjaga Daya Beli dari Waktu ke Waktu (Preservation of Purchasing Power Across Time): Secara histories emas berperan sebagai pelindung lintas generasi yang menjaga kekayaan dari ketidakstabilan politik, perang, dan Perubahan tantanan moneter.

Kendati demikian, Boy pun mengingatkan ke para investor,agar selalu berpikir melalui skenario, bukan prediksi, yakni kuncinya bukankah apakah harga emas akan naik, namun apa peran yang sebaliknya diamankan emas dalam portofolio yang terdersifikasi, mengingat adanya berbagai risiko.

"Sebagai simpulan, emas itu digerakan oleh kondisi makro + kebijakan moneter + tensi geopolitik, selain itu prospek emas ditentukan oleh skenario yang berjalan. Oleh karena itu, bagi investor emas dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari diversifikasi portofolio bukan sebagai single asset," pungkas Boy.

Sebelumnya, dalam DBS Insights Forum 2026, para panelis DBS membahas strategi menghadapi dinamika pasar global dan perencanaan kekayaan secara end-to-end, mencakup geopolitik AS-Asia, ketangguhan fundamental ekonomi Indonesia, hingga pengelolaan warisan lintas generasi.

Melengkapi berbagai insight tersebut, DBS Chief Investment Office (CIO) pada 3Q26 merekomendasikan investor meningkatkan alokasi pada saham Asia di luar Jepang, obligasi korporasi negara maju, emas, serta aset swasta dan dana lindung nilai (hedge funds), dengan posisi netral pada saham global, Amerika Serikat, Jepang, dan obligasi pemerintah negara maju, serta mengurangi eksposur pada saham Eropa, obligasi pasar berkembang, dan kas.

Di antara berbagai kelas aset tersebut, emas dinilai tetap menarik sebagai instrumen diversifikasi dan lindung nilai yang didukung prospek jangka panjang di tengah risiko geopolitik, tekanan inflasi, dan tren dedolarisasi global. Memasuki semester II 2026, peluang investasi diperkirakan tetap terbuka meski volatilitas global masih menjadi bagian dari lanskap pasar.

Oleh karena itu, investor perlu menjaga disiplin dalam melakukan diversifikasi dan membangun portofolio yang tangguh agar mampu menangkap peluang di berbagai siklus pasar.


(dpu/dpu)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Leo Carnando/Daniel Marthin Raih Emas Ganda Putra ASIAN Games