MARKET DATA
Internasional

Perang AS-Iran Masih Panas! Teheran Warning, Kapal Selat Hormuz Bahaya

sef,  CNBC Indonesia
30 September 2026 12:30
Ilustrasi bendera Amerika Serikat dan Iran. (iStockphoto/studiocasper)
Foto: Ilustrasi bendera Amerika Serikat dan Iran. (iStockphoto/studiocasper)

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran mengancam menyerang infrastruktur di sekitar Timur Tengah lagi Selasa. Teheran meningkatkan retorika di tengah pemerintah Washington yang belum memberi respons soal persyaratan baru pembukaan Selat Hormuz.

Perlu diketahui Presiden AS Donald Trump telah menolak proposal dari Teheran. Tetapi Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan pada Senin bahwa ia mengharapkan tanggapan resmi dari pejabat Amerika dalam waktu satu hari.

Beberapa pekan terakhir, pertempuran mereda karena Sidang Meajelis Umum PBB digelar di New York, AS. Meski begitu, Iran masih terus menargetkan kapal-kapal Barat di Selat Hormuz dan AS mengumumkan sanksi baru ke maskapai Teheran.

Mengutip AFP, Rabu (30/9/2026), ancaman baru diberikan Kepala Negosiator Iran Mohammad Bagher Ghalibaf. Ia memperingatkan akan ada serangan baru, mengatakan bahwa tidak ada infrastruktur di wilayah tersebut yang akan aman jika keamanan negaranya tidak terjamin.

"Di wilayah di mana kita tidak dapat menjual minyak, tidak ada orang lain yang akan menjual minyak juga; atau jika keamanan kita tidak terjamin, tidak ada infrastruktur yang akan tetap aman," kata Ghalibaf, yang juga ketua parlemen Iran, menurut video yang dirilis oleh televisi pemerintah.

Iran telah mempertahankan blokade terhadap pelayaran komersial melalui Selat Hormuz sejak perang dimulai pada akhir Februari. Kala itu AS bersama Israel membombardir Iran dan menewaskan Ayatollah Khamenei.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran yang mengangkut seperlima minyak dan gas alam cair dunia sebelum konflik dimulai. Militer AS telah mempertahankan blokade balasan terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran untuk mencegah Teheran mengekspor minyak.


Kapal Selat Hormuz Masih Bahaya

Sementara itu, pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) memberi peringatan pada kapal-kapal barat yang melewati Selat Hormuz tanpa izin dengan beragam modus. Bahkan mereka yang berani melanggar akan diserang dan ditembak dengan ranjau.

"Menyelundupkan beberapa ratus barel minyak di bawah kegelapan malam- dengan transponder dimatikan dan dengan biaya yang sangat besar- tidak berarti selat itu terbuka," kata juru bicara Hossein Mohebi.

"Selat yang benar-benar terbuka adalah selat di mana, seperti di masa lalu, setidaknya 125 kapal akan melewatinya setiap hari, mengangkut minimal 20 juta barel minyak dan produk minyak bumi," tambahnya.

"Kapal mana pun yang mencoba melewatinya akan mengalami kerusakan, entah kita yang menyerangnya, atau kapal itu menabrak ranjau."

Update Negosiasi

Di sisi lain, Iran mengatakan sudah memulai kembali negosiasi dengan AS melalui perantara Qatar, Selasa. Pihak-pihak berharap akan ada update baru, Rabu ini.

"Fokus saat ini sepenuhnya pada Selat Hormuz, dan pembukaan kembali selat tersebut bergantung pada pemenuhan beberapa syarat yang telah kami sampaikan kepada pihak lain," kata diplomat Iran.

Pekan lalu, diskusi juga sudah diadakan di New York antara Araghchi dan utusan AS Steve Witkoff dan Jared Kushner. Kemarin, juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al Ansari, mengatakan telah terjadi beberapa pertemuan dan pertukaran pesan antara AS dan Iran dengan fokus "membangun kesamaan pandangan".

Sebagai prasyarat untuk mengakhiri blokade, Iran menuntut gencatan senjata tujuh hari di seluruh Timur Tengah, termasuk di Lebanon, tempat sekutunya Hizbullah secara teratur dibom oleh Israel. Iran juga menuntut pencairan asetnya di luar negeri, pencabutan sanksi terhadap sektor minyaknya, dan pengakhiran blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhannya.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Mojtaba Khamenei Tiba-Tiba Muncul, Beri Pesan ke Amerika


Most Popular
Features