Revisi RKAB Batu Bara Hampir Tuntas, Produksi Bisa Tembus 700 Juta Ton
Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan bahwa saat ini revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) batu bara untuk tahun 2026 sudah hampir rampung. Pemerintah memperhitungkan produksi batu bara nasional berada pada kisaran 720 juta ton hingga akhir tahun.
Angka ini lebih rendah dari realisasi produksi batu bara pada 2025 yang tercatat mencapai 817,48 juta ton, berdasarkan laporan kinerja Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara (Ditjen Minerba) Kementerian ESDM tahun 2025. Namun, perkiraan tersebut lebih tinggi dari target awal yang ditetapkan sekitar 600-an juta ton.
Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno membantah adanya hambatan besar dalam proses penerbitan revisi RKAB batu bara. Ia menegaskan bahwa mayoritas permohonan RKAB perusahaan pertambangan telah disetujui dan diselesaikan oleh pemerintah.
"95% RKAB keluar," tegas Tri saat ditemui di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta, Selasa (29/9/2026).
Pemerintah memastikan alokasi pasokan batu bara berada dalam kondisi aman untuk memenuhi kebutuhan industri domestik maupun ekspor.
Sebelumnya pada awal September 2026 lalu, Tri sempat mengatakan, hingga Juli 2026 realisasi produksi batu bara tercatat mencapai 423 juta ton atau rata-rata bulanan sekitar 60 juta ton. Bila produksi ini konsisten, maka produksi sampai akhir tahun ini menurutnya diperkirakan bisa di antara 720-722 juta ton.
Saat ditanya kembali apakah perkiraan produksi batu bara nasional hingga akhir tahun ini masih sesuai perkiraan tersebut yang di kisaran 720 juta ton, dia pun menjawab, "Ya in between lah."
Mengenai penyesuaian kuota pertambangan dalam revisi RKAB, Tri menjelaskan bahwa evaluasi dilakukan untuk mengakomodasi penambahan kapasitas, serta dinamika kebutuhan dalam negeri. Penyesuaian tersebut dilakukan agar rantai pasok dan pasokan batu bara nasional berjalan.
"Nggak, nggak, nggak. Ini hanya pengaturan kemarin karena terkait ada penambahan. Ada penambahan kuota dan lain-lain," tandasnya.
RKAB Batu Bara 2026
Sebelumnya, memang pemerintah sendiri berulang kali menyebutkan bahwa produksi batu bara dalam RKAB 2026 akan dipangkas untuk menjaga harga pasar batu bara dunia agar tidak terus menurun. Pemerintah merumuskan RKAB batu bara tahun 2026 ini di kisaran 600-an juta ton, turun dari realisasi produksi pada 2025 yang mencapai 817,48 juta ton.
Tri sempat membeberkan bahwa volume RKAB yang telah disetujui pemerintah hingga pertengahan tahun berada di kisaran 600 juta ton.
"600 (juta) something-lah. He eh, lebih sedikit," kata Tri ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (22/6/2026).
Meski demikian, menurutnya pemerintah masih akan melihat perkembangan kebutuhan pasar domestik, khususnya permintaan batu bara untuk pembangkit listrik milik PLN.
"Nanti lihat, lihat DMO-nya seperti apa. Karena yang diminta PLN kan yang medium ya," ujar Tri.
Kemudian, pemerintah mempertimbangkan untuk melakukan relaksasi terukur produksi batu bara dalam negeri tahun ini, mempertimbangkan kebutuhan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara.
Kementerian ESDM memprioritaskan pemenuhan energi dalam negeri dibanding kepentingan lainnya.
"(Tambahan produksi) untuk yang batu bara hanya diperuntukkan untuk yang PLN. Itu aja," kata Tri saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (10/7/2026).
Rencana tambahan produksi itu demi menutup selisih antara realisasi kontrak pengadaan dengan kebutuhan pembangkit listrik saat ini. Pihaknya tengah menghitung rincian volume tambahan yang diperlukan agar operasional listrik tetap stabil.
Meski produksi akan ditambah, pemerintah memastikan pasokan batu bara benar-benar terserap oleh PLN. Tri mengingatkan bahwa setiap penyesuaian kuota produksi harus dilakukan secara hati-hati agar tidak memicu kondisi kelebihan pasokan di pasar.
"Jangan sampai ada oversupply. Itu aja," tegasnya.