Internasional

Trump Sesumbar Negara Komunis Ini Bakal Jatuh, China Pasang Badan

tps, CNBC Indonesia
Selasa, 29/09/2026 20:00 WIB
Foto: Seorang pria mendorong gerobak dorong sementara yang lain berjalan di dekatnya di sebuah jalan saat Kuba berjuang untuk memulihkan aliran listrik setelah runtuhnya jaringan listrik nasionalnya sehari sebelumnya, menyebabkan jutaan orang masih tanpa listrik di seluruh negara kepulauan Karibia itu, di Havana, Kuba, 7 Juli 2026. (REUTERS/Norlys Perez)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah China bersumpah akan mendukung penuh Kuba dalam melawan campur tangan pihak asing. Langkah tegas ini diambil setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyebut bahwa Havana akan segera runtuh dan menyerukan sebuah perubahan mendasar di negara kepulauan tersebut.

Mengutip Russia Today, Selasa (29/9/2026), Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun menyampaikan komitmen tersebut pada hari Senin bertepatan dengan peringatan 66 tahun hubungan diplomatik Beijing dan Havana.

"China akan mendukung Kuba dalam menjaga kedaulatan nasionalnya dan menempuh jalur pembangunan yang sesuai dengan kondisi nasionalnya," ungkapnya.


Sebelumnya, dalam sebuah pidato di Sidang Majelis Umum PBB pekan lalu, Trump secara terang-terangan menggambarkan Kuba sebagai negara yang benar-benar gagal. Ia juga menuduh negara yang berada tepat di depan pintu AS tersebut sebagai surga berlindung bagi musuh-musuh asing.

Kuba saat ini memang tengah menghadapi krisis ekonomi terburuk dalam beberapa dekade terakhir yang ditandai dengan kekurangan bahan bakar dan makanan parah, pemadaman listrik berkepanjangan, hingga infrastruktur energi yang menua akibat pembatasan sanksi puluhan tahun.

Krisis ini semakin menukik tajam usai pasokan minyak dari Venezuela dan Meksiko, yang menyumbang sekitar 86% dari total impor minyak mentah Kuba tahun lalu, terhenti total. Pengiriman minyak dari Venezuela dilaporkan berhenti setelah operasi militer AS melengserkan Presiden Nicolas Maduro pada bulan Januari, sementara Meksiko terpaksa menangguhkan pasokannya akibat ancaman tarif dari Washington.

Tekanan AS tersebut kian intensif usai Trump kembali menjabat. Melalui perintah eksekutif pada Januari 2026, ia mendeklarasikan kebijakan Havana sebagai ancaman luar biasa bagi keamanan nasional dan menuduh Kuba bersekutu dengan Rusia, China, Iran, Hamas, dan Hizbullah. Washington berdalih kebijakan keras ini ditujukan murni untuk menangkal ancaman sekaligus mempromosikan demokrasi dan kebebasan ekonomi.

Merespons tekanan hebat tersebut, Kuba mengecam AS karena melancarkan perang ekonomi multidimensi dan blokade energi untuk memaksakan perubahan politik. Menteri Luar Negeri Kuba Bruno Rodriguez di Sidang Majelis Umum PBB pada hari Sabtu menyamakan langkah sanksi Washington tersebut sebagai blokade laut secara gamblang.

"Ini adalah tindakan perang," tegasnya.

Di sisi lain, China memosisikan dukungannya sebagai bagian dari kebijakan luar negeri untuk membela kedaulatan, menentang campur tangan asing, dan mendorong tatanan multipolar bagi negara berkembang. Hal ini sejalan dengan seruan prinsip serupa yang mereka tunjukkan selama perang AS-Israel terhadap Iran tahun ini yang menolak keras upaya pergantian rezim.

Wakil Presiden China Han Zheng di Sidang PBB secara khusus mendesak negara-negara terkait untuk segera mengubah sikap agresifnya.

"Segera berhenti menggunakan ancaman kekerasan terhadap Kuba," paparnya. "Cabut sepenuhnya blokade dan sanksi."

Sebagai wujud bantuan nyata, Beijing telah menggelontorkan bantuan pangan darurat, restrukturisasi utang, hingga pembiayaan dan pasokan peralatan tenaga surya. Investasi agresif ini sukses meroketkan bauran listrik terbarukan Kuba dari yang hanya 2% pada Januari 2025 menjadi 21,4% pada September 2026.

Sebagai imbalannya, Kuba memberi China sekutu politik yang kuat sekaligus pijakan perluasan infrastruktur dan investasi strategis di Amerika Latin melalui Inisiatif Sabuk dan Jalan (Belt and Road Initiative) sejak 2018. Kuba juga diketahui selalu mendukung posisi Beijing terkait isu Taiwan, Hong Kong, dan Xinjiang.

Di kancah global, Kuba juga terus mendapat dukungan yang luar biasa. Pada pemungutan suara Majelis Umum PBB Oktober 2025, sebanyak 165 negara mendukung resolusi diakhirinya embargo tersebut, dengan hanya tujuh negara menolak dan 12 abstain. Sejumlah negara juga berinisiatif turun tangan, seperti Meksiko yang mengirimkan ratusan ton makanan, Spanyol yang mengaktifkan program konversi utang, hingga Uni Eropa yang mengucurkan pendanaan kemanusiaan darurat.

Rusia juga terus mempertahankan posisinya sebagai mitra terdekat dengan memberikan dukungan diplomatik dan ekonomi. Moskow tercatat telah mengirimkan kapal tanker bermuatan 730.000 barel minyak mentah pada akhir Maret lalu sebagai satu-satunya pasokan minyak utama Kuba tahun ini.

Mereka juga telah merampungkan distribusi bantuan pangan senilai US$18 juta (Rp320,4 miliar) melalui PBB pada periode 2018-2025, yang kini disusul dengan alokasi tambahan sebesar US$2 juta (Rp35,6 miliar) untuk tahun ini.

"Situasi kemanusiaan di Kuba sangat putus asa," tutur Lavrov. "Washington harus mencabut pembatasan terhadap negara tersebut dan menghapusnya dari daftar negara sponsor terorisme."


(tps/luc)
Saksikan video di bawah ini:

Video: Jamu Xi Jinping, Trump: Kita Belum Pernah Seakur Ini