CNBC Insight

Mantan Menteri Ketahuan Jualan Beras di Glodok, Tidak Bilang Keluarga

MFakhriansyah, CNBC Indonesia
Minggu, 27/09/2026 10:00 WIB
Foto: Suasana warung sembako di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Selasa (11/8/2025). (CNBC Indonesia/Chandra Dwi Pranata)

Naskah ini merupakan bagian dari CNBC Insight, rubrik yang menyajikan ulasan sejarah untuk menjelaskan kondisi masa lalu lewat relevansinya di masa kini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Nasib para pejabat negara usai melepaskan jabatannya selalu menarik perhatian publik. Ada yang menikmati masa tua dengan fasilitas mewah, namun tidak sedikit pula yang harus berjuang keras menyambung hidup.


Salah satu kisah paling legendaris datang dari mantan Menteri Agama RI, Saifuddin Zuhri, yang memilih hidup dalam kesederhanaan ekstrem hingga terciduk berjualan beras di pasar tradisional.

Sebagai catatan sejarah, Saifuddin Zuhri menjabat sebagai Menteri Agama RI ke-10 sejak dilantik pada 2 Maret 1962 hingga purna tugas pada 1967. Selepas dari kursi menteri, ia sempat aktif kembali di dunia politik sebagai anggota DPR-GR dari Fraksi Nahdlatul Ulama (NU) hingga menjadi anggota DPR hasil Pemilu 1971.

Namun, roda kehidupan terus berputar. Setelah benar-benar pensiun dari panggung politik dan pemerintahan, kehidupannya jauh dari kata berlimpah kemewahan.

Dikutip dari buku Sang Pendoa: Para Kiai Fenomenal Pengayom Kedamaian Umat (2023), pada era 1980-an Saifuddin melakoni profesi baru sebagai pedagang beras di Pasar Glodok, Jakarta. Rutinitas itu dilakoninya hampir setiap hari.

Setiap pukul 09.00 WIB, seusai menunaikan salat Dhuha, ia menyetir mobilnya sendiri sambil mengangkut karung-karung beras menuju lapak dagangannya.

Kisah berdagang ini bahkan sempat disembunyikan rapat-rapat dari keluarganya. Istri dan anak-anaknya hanya tahu Saifuddin selalu pulang membawa uang, namun tidak pernah tahu dari mana sumber penghasilan tersebut.

Kedok sang mantan menteri akhirnya terbongkar ketika salah seorang putranya secara tidak sengaja memergokinya tengah melayani pembeli di Pasar Glodok.

Berdagang sejatinya bukan hal baru bagi Saifuddin. Dalam autobiografinya, Berangkat dari Pesantren (1984), ia menceritakan bahwa pada 1942, saat anak pertamanya lahir, ia pernah menyambung hidup dengan menjual apa saja yang bisa menghasilkan uang-mulai dari pakaian bekas, perabotan rumah tangga loak, hingga rokok.

Tolak Rumah Dinas dan Hibahkan Hunian Pribadi

Jiwa integritas dan kesederhanaan Saifuddin sebenarnya sudah mengakar kuat sejak ia masih menduduki kursi menteri. Bagi sosok yang juga ayah dari Menteri Agama era Kabinet Kerja, Lukman Hakim Saifuddin ini, jabatan menteri adalah amanah suci yang tidak boleh disalahgunakan untuk memperkaya diri.

Prinsip itu dibuktikan secara nyata lewat penolakannya terhadap fasilitas rumah dinas. Meski sah secara aturan dan didesak berkali-kali untuk menempati rumah dinas mewah, ia kukuh menolak dan memilih tinggal di rumah pribadinya.

"Kalau begitu aku serakah namanya. Kalau menteri agama sudah serakah, bagaimana yang lain... sikapku tegas. Sejak itu aku tetap menempati rumah sendiri hingga sekarang," tegasnya kala itu.

Ia kemudian memilih mencicil rumah sendiri di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, demi menjaga prinsip kemandirian. Hebatnya lagi, begitu cicilan rumah tersebut lunas, ia memilih untuk menghibahkannya secara cuma-cuma demi kepentingan sosial Nahdlatul Ulama.

Jejak pengabdian Saifuddin Zuhri akhirnya berpulang ke Rahmatullah pada 25 Februari 1986 setelah berjuang melawan sakit. Puluhan tahun telah berlalu sejak ia melepas jabatannya, namun integritas tanpa kompromi dan kesederhanaan hakiki yang ia wariskan tetap abadi sebagai teladan mulia bagi para pejabat negeri ini.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:

Video: DEN Pastikan RUU Migas Dorong Dekarbonisasi - Investasi Migas