Internasional

Negara Kacau Balau, Perang Saudara di Depan Mata

luc, CNBC Indonesia
Jumat, 25/09/2026 22:00 WIB
Foto: REUTERS/Stringer

Jakarta, CNBC Indonesia - Ethiopia kembali dihadapkan pada ancaman perang saudara setelah pasukan dari wilayah Tigray melancarkan serangkaian serangan ke negara bagian Afar dan Amhara. Situasi makin memanas setelah sejumlah kelompok bersenjata membentuk aliansi baru yang bertujuan menggulingkan pemerintahan Perdana Menteri Abiy Ahmed.

Konflik ini memunculkan kekhawatiran akan terulangnya perang besar yang berlangsung pada 2020-2022. Perang antara militer Ethiopia dan Tigray People's Liberation Front (TPLF), partai politik sekaligus kelompok paramiliter yang menguasai Tigray, kala itu menewaskan sekitar 600.000 orang.

Kini, kedua pihak saling menuding sebagai pemicu kembalinya pertempuran terbuka.


Pada Minggu (20/9/2026), tujuh kelompok bersenjata dari berbagai wilayah Ethiopia, termasuk TPLF, mengumumkan pembentukan Ethiopian Peoples' Forces Alliance for Survival. Aliansi tersebut dibentuk dengan tujuan menggulingkan pemerintahan di Addis Ababa.

Beberapa hari kemudian, pada Rabu (23/9/2026), TPLF merebut kendali atas tiga bandara dari polisi federal. Maskapai milik negara Ethiopian Airlines kemudian mengumumkan penghentian penerbangan ke wilayah tersebut "karena situasi yang sedang berlangsung".

TPLF juga melancarkan serangan ke Afar dan Amhara. Sumber kemanusiaan di Afar mengatakan kepada AFP bahwa terjadi serangan artileri berat pada Kamis (24/9/2026) ketika pasukan TPLF berupaya merebut Kota Yallo, yang berada tidak jauh dari perbatasan Tigray.

Penerbangan menuju Lalibela, kota bersejarah Ethiopia, juga dihentikan pada Kamis akibat pertempuran yang terjadi di sekitar wilayah tersebut.

Di Tigray, warga mulai menimbun bahan makanan dan uang tunai. Seorang penduduk mengatakan kepada Reuters bahwa masyarakat khawatir wilayah itu kembali terkepung seperti yang terjadi selama perang sebelumnya.

Kondisi serupa dilaporkan dari Adigrat, kota yang berada dekat perbatasan Eritrea. Seorang warga menggambarkan kepanikan masyarakat membeli kebutuhan pokok hingga rak-rak toko mulai kosong.

"Kelangkaan makanan semakin memburuk karena rak-rak pasar kosong ... Obat-obatan penting tetap langka dan harganya sangat mahal," katanya kepada Reuters. "Bertahan hidup setiap hari telah menjadi perhitungan yang terus-menerus."

Wakil Presiden TPLF Amanuel Assefa mengatakan situasi telah berubah menjadi perang terbuka.

"Kami sekarang berada dalam situasi perang besar-besaran," kata Assefa kepada AFP.

Ia juga membenarkan bahwa pasukan Tigray bertempur bersama kelompok-kelompok bersenjata lokal di Afar dan Amhara.

Sumber keamanan asing yang berbasis di Ethiopia mengatakan kepada AFP bahwa TPLF merebut Abala, kota yang juga berada di perbatasan Tigray-Afar, pada Rabu. Sumber dari TPLF menyebut mereka juga telah menguasai beberapa kota lain di Afar.

Sumber keamanan tersebut mengatakan pertempuran turut berlangsung di sekitar Kota Weldiya, Amhara. Wilayah ini menjadi salah satu dari sedikit jalur yang dapat digunakan menuju ibu kota Ethiopia.

Militer Ethiopia untuk pertama kalinya memberikan pernyataan terbuka mengenai pertempuran tersebut pada Kamis. Angkatan bersenjata Ethiopia mengklaim telah menggagalkan serangan dan membunuh, melukai, atau menangkap lebih dari 500 pejuang lawan.

Para analis menilai TPLF mendapat dukungan dari Eritrea, negara tetangga sekaligus rival lama Ethiopia. Eritrea disebut khawatir Ethiopia yang tidak memiliki akses langsung ke laut sedang merencanakan invasi untuk mendapatkan akses ke Laut Merah.

Assefa mengatakan TPLF tidak mengetahui rencana Eritrea.

"Kami tidak memiliki informasi mengenai rencana Eritrea," ujarnya kepada AFP.

Ketika ditanya apakah TPLF akan meminta campur tangan Eritrea, Assefa menjawab, "Belum."

Perkembangan terbaru ini menunjukkan perubahan peta aliansi dibandingkan perang saudara sebelumnya. Saat konflik 2020-2022 berlangsung, Eritrea dan Fano, kelompok pemberontak yang kini bergabung dalam aliansi baru, justru bertempur bersama pemerintah Ethiopia melawan pasukan Tigray.

Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB pada Rabu, Presiden Ethiopia Taye Atske-Selassie Amde mengecam apa yang disebutnya sebagai "kekuatan penghancuran dan kekacauan" serta "campur tangan dalam urusan dalam negeri kami oleh pihak-pihak yang bermusuhan".

Ia mengatakan Ethiopia telah menunjukkan "pengendalian diri yang luar biasa" dan mencatat adanya kemajuan dalam hubungan dengan negara-negara tetangganya.

Juru bicara Abiy, Billene Seyoum, mengatakan anggota aliansi baru tersebut telah bekerja sama selama beberapa waktu dengan dukungan pendanaan dari Eritrea. Pemerintah Eritrea berulang kali membantah tuduhan serupa.

TPLF sebelumnya menguasai pemerintahan Ethiopia selama periode 1991 hingga 2018. Kelompok tersebut kemudian tersingkir setelah munculnya Abiy, yang pada akhirnya menjadi salah satu faktor yang memicu perang saudara.

Pertempuran terbaru menjadi tantangan paling serius terhadap kesepakatan Pretoria 2022, yang mengakhiri perang saudara dan menjaga situasi relatif tenang selama beberapa waktu. Namun, bentrokan kembali terjadi sejak akhir tahun lalu.

Kembalinya konflik menimbulkan kekhawatiran bahwa perang dapat meluas menjadi konflik regional. Sejumlah kelompok bersenjata dari negara-negara sekitar berpotensi terseret, sementara kawasan tersebut sudah menghadapi tekanan akibat perang di negara tetangga, Sudan, serta ketegangan di sepanjang Laut Merah.

Ketua Uni Afrika Mahmoud Ali Youssouf pada Rabu menyerukan "pengendalian diri semaksimal mungkin" kepada pihak-pihak yang bertikai dan meminta agar perundingan langsung kembali dilanjutkan.

Juru bicara Uni Eropa juga menyerukan "deeskalasi segera" serta komitmen kembali terhadap kesepakatan Pretoria.

Dalam perang 2020-2022, Tigray sebagian besar terputus dari dunia luar setelah jaringan komunikasi diputus. Akses terhadap makanan, uang tunai, dan obat-obatan juga sangat dibatasi, sehingga ratusan ribu warga terdampak dan berada dalam kondisi kemanusiaan yang sangat sulit.

 


(luc/luc)
Saksikan video di bawah ini:

Video: PBB Soroti Krisis Air Gaza & Kekerasan di Tepi Barat