Presiden Iran Buka Suara Kapan Perang dengan AS Berakhir
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Iran Masoud Pezeshkian blak-blakan kapan perang antara Amerika Serikat (AS) dan negaranya berakhir. Hal ini dikatakannya saat melakukan wawancara dengan laman AS Fox News, Kamis waktu New York, di sela-sela Sidang Majelis Umum ke-81 PBB.
Ia mengatakan semua di tangan AS. Paman Sam berhak memilih apakah akan mengakhiri perangnya di Iran karena Teheran tidak ingin melanjutkan pertempuran.
"Ketika kita bisa menyelesaikan masalah melalui dialog, kita tidak boleh melakukan pembunuhan satu sama lain," katanya, dikutip AFP, Jumat (25/9/2026).
"Namun atas dorongan yang dilakukan Israel, mereka telah memaksakan perang terhadap kita," tambahnya.
"Tetapi kami tidak ingin melanjutkannya. Amerika-lah yang harus memilih apakah ingin mengakhiri ini atau tidak."
Pezeshkian pun menegaskan Iran siap mencapai kesepakatan dengan Trump untuk mengakhiri konflik. Selama ini, AS-lah yang mengingkari perdamaian.
"Mengapa dalam waktu dua minggu setelah penandatanganan perjanjian, mereka memilih untuk meledakkannya?" katanya lagi menyinggung gagalnya gencatan senjata sebelumnya.
"Jika pemerintah Amerika saat ini, dalam kerangka hukum internasional, ingin mencapai kesepakatan, baiklah. Jika tidak, sebelum pemilu paruh waktu AS atau setelah pemilu, apa bedanya bagi kita?" tambahnya.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dilaporkan melakukan pertemuan dengan utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, dan menantu laki-laki Trump, Jared Kushner, di sela-sela sidang PBB. Namun, pembicaraan mereka tidak serta merta menghasilkan terobosan.
Perang Arab Saudi & Houthi
Dalam wawancara itu, Pezeshkian bersikeras bahwa Houthi tidak diatur oleh Teheran. Houthi, milisi di Yaman, kini terlibat kekerasan dengan Arab Saudi dan bertanggung jawab pada sejumlah serangan.
"Houthi bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri," ujarnya.
"Mereka tidak mengikuti arahan dari kami sebagai pihak yang melakukan perlawanan di wilayah tersebut, berdasarkan situasi yang dikenakan pada mereka," kata Pezeshkian lagi.
"Kami punya kontak dengan mereka. Tidak ada hubungan yang sistematis."
Arab Saudi mencegat rudal balistik Houthi pada hari Kamis setelah mengeluarkan peringatan untuk beberapa wilayah termasuk Mekah. Kelompok Houthi telah memberlakukan blokade laut di Arab Saudi, menyerang tanker dan wilayahnya serta merebut sebagian besar pantai Laut Merah Yaman, yang penting bagi ekspor minyak Saudi, sehingga menyebabkan harga energi melonjak.
(sef/sef)