Dibangun Trenggono, Ini Dia Kampung Nelayan Merah Putih Tongke-Tongke

Martyasari Rizky, CNBC Indonesia
Jumat, 25/09/2026 12:58 WIB
Foto: Menteri Kelautan dan Perikanan (MenKP) Sakti Wahyu Trenggono dalam Acara Sinergi Lintas Sektor: Tata Kelola dan Operasionalisasi KNMP, di KNMP Tongke-tongke, Kab. Sinjai, Sulawesi Selatan, Jumat (259/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizki)

Sinjai, CNBC Indonesia - Menteri Kelautan dan Perikanan (MenKP) Sakti Wahyu Trenggono meninjau Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Tongke-Tongke di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, Jumat (25/9/2026). Kampung nelayan ini dibangun sebagai bagian dari upaya pemerintah meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan nelayan melalui penyediaan sarana perikanan yang terintegrasi.

KNMP Tongke-Tongke memiliki 554 nelayan dengan komoditas utama ikan tuna, dan dilengkapi fasilitas yang meliputi cold storage, pabrik es balok, kios perbekalan, kendaraan berpendingin, sentra kuliner, cool box hingga kendaraan roda tiga.

Trenggono mengatakan, pembangunan kampung nelayan menjadi bentuk perhatian pemerintah terhadap masyarakat pesisir. Menurutnya, selama ini pembangunan sarana produksi lebih banyak dirasakan sektor pertanian dibandingkan nelayan.


"Jadi kalau di darat itu petani oleh pemerintah dibuatkan bendungan, dibuatkan irigasi, ya primer, sekunder, tersier. Dibuatkan pabrik pupuk untuk diberikan subsidi kepada mereka. Lalu kemudian diberikan juga bibit dan sarana prasarana lainnya. Nelayan mana pernah itu dilakukan? Semenjak pemerintahan Bapak Prabowo ini, kita bangun desa-desa nelayan," kata Trenggono dalam acara Sinergi Lintas Sektor: Tata Kelola dan Operasionalisasi KNMP.

Dia mengatakan KNMP Tongke-Tongke juga masih akan dikembangkan, terutama untuk memperbaiki kualitas hasil tangkapan tuna. Salah satu yang menjadi perhatian adalah fasilitas penyimpanan ikan.

"Jadi saya minta didesain cold storage-nya kalau katakan di Sinjai adalah tuna rata-rata. Maka cold storage-nya dia harus punya titik beku sampai dengan minus 60 derajat," ujarnya.

Menurut Trenggono, peningkatan kualitas ikan penting karena akan berpengaruh langsung terhadap harga jual yang diterima nelayan.

Tak hanya itu, dia juga menyoroti persoalan permodalan nelayan agar mereka tidak terus bergantung kepada tengkulak.

"Tinggal PR satu lagi adalah bagaimana nelayan melaut tidak usah pakai modal. Nah itu tanggung jawabnya Pak Menteri Koperasi ya. Pak Ferry," ucap dia.

Trenggono juga menyebut Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) nantinya dapat berperan sebagai offtaker hasil tangkapan nelayan. Bahkan, dia mengaku telah membicarakan peluang kerja sama dengan pengusaha di China untuk menjadi pembeli hasil produksi dari Kampung Nelayan Merah Putih.

"Jadi nanti yang harus dikoreksi adalah hasil produksinya, kualitas dari produksinya," tutur Trenggono.

Dalam pengembangan KNMP, Trenggono menegaskan pembangunan tidak berhenti pada fasilitas fisik. Pemerintah juga akan mendorong agar kawasan tersebut mampu menjadi pusat ekonomi bagi masyarakat pesisir.

"Ini dalam beberapa waktu yang akan datang lagi, akan kita ubah lagi menjadi yang lebih baik. Sehingga seluruh nelayan di sini menjadi model, nelayan Sinjai sejahtera," katanya.

Menteri Kelautan dan Perikanan (MenKP) Sakti Wahyu Trenggono bersama Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono saat melihat langsung Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Tongke-tongke, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, Jumat (25/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizki) Foto: Menteri Kelautan dan Perikanan (MenKP) Sakti Wahyu Trenggono bersama Menteri Koperasi (Menkop) Ferry Juliantono saat melihat langsung Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) Tongke-tongke, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, Jumat (25/9/2026). (CNBC Indonesia/Martyasari Rizki)

Operasional KNMP Tongke-Tongke

Ketua Satgas Operasionalisasi KNMP Victor Gustaaf Manoppo melaporkan, KNMP Tongke-tongke telah mulai beroperasi sejak awal Juni 2026.

"Di KNMP Tongke-tongke telah dilengkapi infrastruktur integrasi, mulai dari cold storage, kios perbekalan, pabrik es balok, kendaraan berpendingin, serta fasilitas-fasilitas umum lainnya," jelas Victor.

Menurut dia, keberadaan fasilitas tersebut mendukung aktivitas 554 nelayan dan komoditas utama tuna di Tongke-tongke. Adapun operasional KNMP juga telah menghasilkan omzet koperasi sebesar Rp32,19 juta, terutama dari penyewaan gudang beku, penjualan es balok, kios kuliner, penyewaan cool box, kios perbekalan dan kendaraan roda tiga.

Dari sisi pemasaran, hasil produksi di KNMP Tongke-Tongke mulai dikirim ke Jakarta. Sejak awal operasionalisasi, pengiriman tuna loin telah dilakukan enam kali dengan total 65 ton senilai sekitar Rp2,55 miliar. Produk tersebut selanjutnya dikirim ke sejumlah unit pengolahan ikan di Jakarta dan dipasarkan ke pasar internasional, termasuk China, Amerika Serikat, dan Vietnam.

Victor juga menyebut terjadi peningkatan harga jual tuna setelah KNMP beroperasi.

"Satu hal dampak yang paling dirasakan oleh masyarakat saat ini, yaitu peningkatan harga ikan tuna yang awalnya hanya Rp25 ribu per kilogram (kg), saat ini telah meningkat menjadi Rp45 ribu per kg," ujarnya.

KKP mencatat harga tuna sebelumnya berada di kisaran Rp25.000-Rp30.000 per kg, kemudian meningkat menjadi Rp40.000-Rp45.000 per kg. Pendapatan nelayan juga disebut naik dari sekitar Rp3 juta per bulan menjadi Rp6,5 juta-Rp7 juta per bulan.

Selain peningkatan harga dan pendapatan, operasional KNMP Tongke-Tongke juga mulai membuka lapangan kerja. Tercatat sudah ada 17 tenaga kerja yang saat ini terlibat, terutama pada unit gudang beku dan pabrik es balok.

Ke depan, KKP mengarahkan KNMP Tongke-Tongke tidak hanya memenuhi kebutuhan pasar domestik, tetapi juga mampu menjadi sentra perikanan yang melakukan ekspor secara mandiri melalui peningkatan kapasitas produksi, mutu, keamanan pangan, serta akses pasar internasional.


(wur)
Saksikan video di bawah ini:

KKP Sukses Budi Daya Lobster di Batam, Hasil Panen Diserap Singapura