Meramu Kebijakan Subsidi BBM Tepat Sasaran di Tengah Gejolak Dunia
Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah tengah menyiapkan kebijakan subsidi energi agar lebih tepat sasaran. Terutama, di tengah ketidakpastian dan gejolak geopolitik global yang berpotensi mempengaruhi harga dan pasokan energi.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman menjelaskan, pemerintah perlu memperhitungkan dinamika global dalam merumuskan kebijakan subsidi energi. Khususnya, subsidi untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) dan Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kg.
"Kalau bicara subsidi kan ada dua ya, BBM dan LPG. Sebelum jawab itu, kami ingin bagi informasi kalau kita lihat Pak Menteri ESDM menyampaikan kita ini sedang dalam kondisi dinamika global yang tidak menentu dalam artian seperti sakit malaria sudah sembuh sakit lagi," ungkap Laode dalam acara Coffee Morning CNBC Indonesia bertajuk "Meramu Kebijakan Subsidi Tepat, Mampukah Negara Melindungi Hak Rakyat?", Kamis (24/9/2026).
Menurut dia, kondisi geopolitik global saat ini masih perlu diwaspadai meski belum mengarah pada situasi yang lebih buruk. Pasalnya, gejolak tersebut dapat berdampak terhadap harga minyak mentah maupun kelancaran pasokan energi dunia.
Ia menilai kenaikan harga minyak mentah saat ini menjadi perhatian pemerintah. Selain konflik Rusia-Ukraina yang masih berlangsung, ketegangan di kawasan Timur Tengah hingga gangguan terhadap jalur perdagangan energi turut menjadi faktor yang perlu diantisipasi.
"Harga crude naik, kemudian ketegangan yang awalnya di Rusia dan Ukraina menjalar menjadi permasalahan di Selat Hormuz permasalahan ini belum selesai ternyata Houthi serang Arab Saudi. Lalu kemampuan jelajah drone Ukraina mampu serang kilang Rusia.
Laode kemudian memandang apabila negara-negara penghasil komoditas energi menahan ekspor akibat meningkatnya risiko geopolitik, maka pasokan energi global akan terganggu. Oleh sebab itu, Indonesia perlu memiliki strategi untuk menghadapi berbagai kemungkinan tersebut.
Penataan Subsidi Sejak 2024
Di sisi lain, Laode menyampaikan bahwa pemerintah juga telah melakukan penataan subsidi agar penyalurannya dapat lebih tepat sasaran sejak tahun 2024. Adapun, tahap awal dilakukan melalui pendataan, kemudian dilanjutkan dengan penataan mekanisme penyaluran.
Lalu pada 2025 pemerintah mulai melakukan sosialisasi sekaligus menjalankan kebijakan tersebut dalam skala uji coba. Selanjutnya, pada 2026, penataan terus dilakukan dengan memanfaatkan sistem digital, termasuk melalui Merchant Apps Pertamina (MAP).
Ia mengatakan, pengalaman dari pelaksanaan uji coba penyaluran LPG pada 2025 menjadi salah satu bahan evaluasi pemerintah dalam menyusun kebijakan subsidi ke depan
"Tahun 2026 skala Merchant Apps Pertamina (MAP), ini dalam penataan. Ada hal yang patut jadi pelajaran sebagai refrensi kondisi uji coba LPG 2025 sehingga diketahui ada kondisi tidak menentu sehingga dijadikan pelajaran" ujarnya.
Salah satu mekanisme yang tengah ditata adalah penggunaan barcode untuk pembelian BBM bersubsidi serta pemanfaatan Nomor Induk Kependudukan (NIK) dalam pembelian LPG 3 kg. Adapun untuk LPG 3 kg, pemerintah dapat memanfaatkan data pembelian berdasarkan identitas konsumen untuk melihat pola konsumsi masyarakat, termasuk rumah tangga maupun pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
"Contohnya pemanfaatan barcode, pembelian LPG pakai NIK, sambil dipelajari kalau LPG kan konsumen rumah tangga, mereka belinya pakai KTP kita cek warga ini berapa sih per bulan. Demikian juga UMKM dan lain lain," ujarnya.
Saat ini, kata dia pemerintah masih berada pada tahap pemadanan data dan belum masuk pada tahap pemilahan maupun pembatasan secara penuh.
Laode pun menekankan bahwa ketepatan sasaran memang menjadi tujuan utama dalam penataan subsidi. Namun, implementasinya harus dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan data dan kondisi masyarakat.
"Jadi referensi data yang ada masih dalam tahap kita melakukan pemadanan belum sampai pemilahan dan pembatasan. Jangan sampai ambil kebijakan ujungnya baik tapi menjadi chaos," kata dia.
Pentingnya Validasi Data
Deputy Director Commercial PT Surveyor Indonesia M. Chairudin menilai bahwa pemerintah perlu memastikan akurasi data sebelum menerapkan kebijakan subsidi energi tepat sasaran. Menurutnya, ketepatan penyaluran subsidi harus diukur berdasarkan data yang valid dan terverifikasi di lapangan.
Menurut dia, pembahasan mengenai subsidi tepat sasaran tidak dapat dilepaskan dari kualitas data penerima manfaat. Sebab, persoalan utama yang dihadapi bukan hanya mengenai sistem identifikasi, tetapi juga pembaruan dan verifikasi data secara berkala.
"Kalau ngomong apakah tepat sasaran atau tidak harus dibandingkan dengan data awal yang diterima, permasalahan awal kita terkait dengan data, belum soal single identifikasi number, bisa jadi data-data di pemilu ada masalah, oh orangnya sudah meninggal, karena tidak ada update atau verifikasi," kata dia.
Dia mengatakan, proses verifikasi lapangan menjadi penting karena data administratif tidak selalu menggambarkan kebutuhan aktual masyarakat. Sebagai contoh yakni pendataan penerima LPG.
Berdasarkan pengalaman Surveyor Indonesia dalam melakukan pemeriksaan lapangan, ditemukan kondisi di mana kebutuhan masyarakat atau pelaku usaha tidak selalu sesuai dengan informasi yang tercantum dalam data awal.
"Misal ada keluarga desil sekian, diverifikasi dan validasi, bisa tahu saat kunjungan, pengalaman kami dalam proses ini sering menemukan data awal itu berbeda, misal terkait dengan penerima LPG, ketika LPG periksa di lapangan, kenapa butuh banyak ternyata UMKM, kebutuhan lebih dari yang dipersyaratkan data awal," kata dia.
Berlanjut ke halaman berikutnya..