MARKET DATA

KUR Rp420 T hingga Bansos, Ini Jurus Prabowo Genjot Ekonomi di Q4

Robertus Andrianto,  CNBC Indonesia
24 September 2026 11:50
(Kiri-Kanan) Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dan Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi saat menghadiri FEKDI x IFSE 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senay
Foto: (Kiri-Kanan) Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, Menko Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dan Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi saat menghadiri FEKDI x IFSE 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, Kamis (24/9/2026). (CNBC Indonesia/Robertus Andrianto Serin)

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan sejumlah strategi pemerintah untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir 2026. Kebijakan tersebut mencakup bantuan sosial, subsidi pangan, kredit usaha, insentif transportasi hingga pengembangan biodiesel.

Airlangga mengatakan kondisi perekonomian Indonesia pada semester I 2026 masih relatif solid. Hal itu antara lain tercermin dari inflasi yang masih berada dalam sasaran pemerintah dan Bank Indonesia (BI), yakni 2,5% plus-minus 1%.

"Ekonomi kita di semester satu relatif solid. Saya katakan inflasi dalam range 2,5% plus-minus 1%. Ini juga menunjukkan ekonomi kita bergerak," ujar Airlangga dalam acara FEKDI x IFSE 2026, Kamis (24/9/2026).

Menurut dia, pergerakan inflasi juga menunjukkan adanya aktivitas dari sisi permintaan masyarakat. Pemerintah pun perlu menjaga momentum tersebut agar tidak terganggu.

Salah satu faktor yang disebut Airlangga ikut memengaruhi dinamika ekonomi adalah meningkatnya minat masyarakat terhadap emas. Kondisi ini turut menjadi salah satu alasan pemerintah mendorong pengembangan perbankan bullion.

"Kita perlu menjaga karena salah satu faktor meningkat karena masyarakat menyimpan emas. Dan ini salah satu kebijakan mendorong perbankan bullion," katanya.

Airlangga menekankan pentingnya sinergi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil untuk menjaga pertumbuhan ekonomi.

Menurut dia, koordinasi ketiga kebijakan tersebut diperlukan untuk mendorong ekspor dan memperkuat sektor riil.

"Untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, menjaga kebijakan fiskal, moneter, riil ini harus disinergikan untuk dorong ekspor sektor riil," ujar Airlangga.

Pemerintah pun menyiapkan sejumlah program untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus menopang aktivitas ekonomi pada kuartal IV-2026.

Salah satunya melalui Program Keluarga Harapan (PKH) dengan anggaran Rp20,44 triliun yang ditujukan bagi 27,3 juta penerima manfaat.

Pemerintah juga menyiapkan bantuan beras sebanyak 10 kilogram per bulan untuk periode Oktober-Desember 2026 kepada 33,2 juta penerima.

Di sisi pangan, realisasi penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) telah mencapai 817 ribu ton hingga 20 September 2026.

Pemerintah juga menjalankan program pangan murah bersama BI melalui kerja sama antardaerah. Airlangga menyebut hingga Juli 2026, program tersebut telah berjalan di 208 wilayah.

"Ini untuk menjaga inflasi dan mendorong ekonomi kuartal IV," katanya.

Dari sisi pembiayaan, pemerintah menyiapkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan plafon Rp420 triliun. Hingga saat ini, realisasinya telah mencapai Rp234,17 triliun.

Airlangga mengatakan penyaluran kredit tersebut juga menyasar sektor pertanian dan nelayan, termasuk untuk mendukung pengadaan alat dan mesin pertanian (alsintan).

Pemerintah juga meningkatkan dukungan pembiayaan untuk sektor perumahan. Airlangga menyebut jumlah kredit perumahan ditingkatkan menjadi Rp50 triliun.

Di sektor energi, pemerintah terus mendorong implementasi biodiesel B50. Hingga September 2026, pemanfaatan biodiesel tersebut telah mencapai sekitar 11 juta kiloliter (KL).

Pemerintah juga memberikan sejumlah insentif untuk menjaga biaya produksi dan mendukung sektor industri. Di antaranya insentif harga untuk plastik dan turunannya serta pembebasan bea masuk untuk sejumlah kebutuhan, termasuk LPG dan suku cadang pesawat.

Sementara itu, pemerintah juga memberikan insentif transportasi dan hari libur dengan nilai Rp349,4 miliar.

Airlangga mengatakan berbagai stimulus tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas harga sekaligus mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV.

Meski kondisi ekonomi relatif solid, Airlangga mengingatkan pemerintah perlu mengantisipasi risiko inflasi ke depan, terutama akibat perubahan cuaca dan bencana alam.

"Ke depan inflasi perlu diantisipasi karena El Nino plus bencana alam," ujarnya.

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, pemerintah akan memperkuat sektor pangan melalui optimalisasi irigasi, percepatan pembangunan, pengaturan pola tanam, serta pemanfaatan sistem peringatan dini atau early warning system.

(haa/haa) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Airlangga Jelaskan Polemik Desil Bansos: Tak Mungkin Ada Desil 12


Most Popular
Features